. Sejarah Ompu Raja Sigalingging | BeritaSimalungun
Home » , , , , » Sejarah Ompu Raja Sigalingging

Sejarah Ompu Raja Sigalingging

Written By Beritasimalungun on Sunday, 22 May 2022 | 14:43


(Dok BS/Asenk Lee Saragih)

Oleh: Robinson Sigalingging

Sejarah (turi turian) Ompu Raja Sigalingging hutulis hami mulai sian Pomparan ni Ompu Raja Naiambaton anak na 2 : 1 Raja Sitempang, 2 Raja Nabolon. Anak ni Raja Sitempang 2 : 1 Raja Hatorusan, 2 Raja Natanggang (Raja Pangururan). Anakni Raja Pangururan 3: 1 Raja Panungkunan (Tanjabau) Sitanggang Bau, 2 Raja Pangadatan, 3 Raja Pangulu Oloan (Raja Sigalingging). 

Sumber diatas diedit setelah Pengukuhan Pengurus Raja Sitempang Se-Indonesia Ketua: St. Dr. Edward Sigalingging di Jakarta, Minggu 10 Oktober 2021 yang hadir parah tokoh-tokoh: Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk, Sidauruk serta Tokoh PARNA (waktu itu siaran langsung TVRI Nasional).

Ompu Raja Sigalingging tinggal di Sait Ni Huta Sigalingging Pangururan Kabupaten Samosir, sekitar 3 kilo meter dari pusat Kota Pangururan sebelah Utara. Menurut informasi akhir-akhir ini (sumber Kolonel Corri Sigalingging) yang dikenal sebagai team Konsolidasi (merangkul) Sigalingging di Bonapasogit, Medan, Pakpak Dairi  dan Raya Simalungun. 

Ada beberapa sebutan atau gelar Ompu Raja Sigalingging:  Raja Pangulu Oloan, Langlang Buana, Mangedang Edang Portibi, Tuanku Sipinang Sori. Menurut taksiran penulis sebelum Portugis masuk ke Indonesia tahun 1511 dan Belanda masuk ke Indonesia tahun 1602 zaman VOC.

Ompu Raja Sigalingging sudah lahir hingga saat ini kira-kira 770 tahun Setelah Masehi. Dengan asumsi sudah 22 sundut (generasi). Saat ini X rata-rata umur manusia 35 tahun memperoleh anak sebagai Acuan Buku Tarombo terbitan tahun 2002 yang ditulis oleh Dr.Ir.M.Sigalingging (Op.Tarombo/Op.Keyra).

Juga dalam Buku Leluhur Marga-Marga Batak Dalam Sejarah, Silsilah dan Legenda ditulis Ricard Sinaga 1997, sebagai dasar penulis dan penguat sejarah serta menghitung satu generasi 35 Tahun. 

Ompu Raja Sigalingging Generasi ke 7 dari Keturunan si Raja Batak dan Ompu Bada Sigalingging generasi ke 9.  Pada Tahun 1980  mulai didirikan Tugu Ompu Raja Sigalingging sebagai pelopor Almarhum Kolonel Humalatua Sigalingging dan team. 

(kiri ke kanan) Peserta MUBES PPRS dari Provinsi Jambi, Syamsudin Sigalingging (Ketua DPD PPRS Kota Jambi), Wakil Sekretaris DPW PPRS Provinsi Jambi Ranto Gajah Sigalingging, I Robinson Sigalingging SPd (Ketua Wilayah PPRS Provinsi Jambi), Ketua DPD PPRS Muarabungo Horas Sigalingging, Ketua DPD PPRS Tanjung Jabung Barat Jhonson Sigalingging. (Foto: Istimewa)


Kemudian tahun 1982 peresmian Tugu I (Pertama) Ompu Raja Sigalingging di Sait ni Huta Samosir. Waktu itu penulis kelas 2 SD ikut bersama orangtua berjalan kaki dari Lumban Sigalingging dekat Mual Sipalionggang Desa Ronggurnihuta tempat peninggalan serta Tambak OP Datu Ronggur Sigalingging. 

Jarak tempuh ke Sait Ni Huta sekitar 15 km untuk melihat Pesta sangat Meriah marga Sigalingging dan Margondang Sabangunan HUT TUGU I Ompu RAJA SIGALINGGING di Sait Ni Huta Pangururan Samosir. 

Pada saat acara HUT Tugu itu menurut cerita para orang tua/pintar, saat itu ada ikut arwah Ompu Datu Ronggur manjat dipohon Beringin (Hariara) yang rindang dekat sekitar Huta Sigalingging Sait Ni Huta untuk menjaga Pesta tersebut agar berjalan dengan baik,lancar dan damai. 

Saat pesta itu juga ada Roh Suci (marsahala) keturunan ke 3 Ompu Raja Sigalingging yaitu Namora Pangujian (Parhaliang) untuk memberitahukan ada anaknya no 3 dari Rianiate dengan “Maminta Gondang” dengan baik dan benar.

Tidak ada kesalahan sedikitpun karena beranggaban sudah didongani “Sahala ni Opung” atau bersahaja. Banyak para saksi yang melihat kejadian tersebut dan hingga kini sebagian masih hidup.

Saat pesta itu ribuan hadir anggota Sigalingging dan keturunannya (pomparan) serta tulang Naibaho Sitangkarain sebagai Tulang Bona ni Ari. 

Maka penulis tertarik untuk memberitahukan melalui tulisan ini. Untuk mengenang setiap bulan Juli adalah ULTAH TUGU, tahun 2022 Genap 40 Tahun PPRS Se-Dunia. Santabi tu hita sude Pomparan ni Ompu Raja Sigalingging.

Ompu Raja Sigalingging memiliki 3 anak yaitu: 1.Guru Mangarissan (Sigorak),  2.Raja Tinatea (Sitambolang), 3.Namora Pangujian (Parhaliang alias Ladjang Raja Saragih Garingging).

Ketiga anak Ompu Raja Sigalingging memiliki profesi dan tabiat yang berbeda. Guru Mangarissan adalah Petani Ulung (Parhauma Nabolak) sekitar Huta Sigalingging di Sait Ni Huta. 

Sedangkan adeknya Raja Tinatea adalah Nelayan (Partao atau Pardoton). Parhauma Nabolak (Petani) dan Penangkap ikan di Tao Toba pada saat itu dikenal dengan sistim “Barter” (Barang tukar barang). 

Ikan hasil tangkapan ditukar dengan beras. Guru Mangarissan bisa mendapat ikan lauk-pauk dari tangkapan adeknya atau sebaliknya. 

Raja Tinatea mendapat beras dari abangnya atau kepada Marga lain sesuai kebutuhan pada zaman itu sistem barter. Satu Putri Raja Sigalingging yaitu marhamulian dengan marga Naibaho Siahaan.

Ompu Raja Sigalingging setelah umurnya tua sudah sakit-sakitan. Pada saat itu kedua anaknya sepakat untuk memberi makanan kepada Bapak dikenal dengan (Mangallang Natabo atau Manulangi) sebagai Penghormatan kepada Orangtua.

Guru Mangarissan dan Guru Tinatea beritikad baik dan tulus hati berencana memberikan yang terbaik kepada Ayah. Hasil Pertanian terbaik, beras yang bersih putih dan rapi tidak ada yang terpotong atau berbelang sebagai penghormatan terakhir kepada Ayahnya Ompu Raja Sigalingging. Profesinya sebagai petani ulung dan memiliki lahan sawah yang luas.

Sedangkan Raja Tinatea sebagai Nelayan (pardoton di Tao Toba) tidak memiliki lahan pertanian seperti abangnya karena profesinya sebagai nelayan. 

Beras yang dimasak untuk ayahnya tidak sebersih, serapi yang diberikan abangnya. Pada saat bersamaan memberikan makanan kepada Ayah (Pasangaphon Natua tua) kedua anak tersebut yang memberikan terbaik untuk orangtuanya sebagai hasil usaha mereka.

Guru Mangarissan menegur adeknya Raja Tinatea karena memberi nasi yang tidak pantas kepada ayahnya yang berwarna-warni (putih, merah) alias berbelang belang. 

Sedangkan Abangnya memberi nasi yang rapi, putih, bersih sebagai hasil pertaniannya. Raja Tinatea tidak memiliki lahan pertanian, profesinya sebagai Nelayan, maka terjadilah selisih paham antara kedua anak tersebut.  

Guru Mangarissan menegur dan menyepak hidangan yang diberikan adeknya dengan istilah (digorakhon) yang dikenal dengan sebutan Sigorak (parindahan sibontar). 

Raja Tinatea yang memberi nasi putih–merah (berbelang-belang) digelar Sitambolang alias parindahan sirara. Walaupun sebutan tentang Sigalingging saat itu berbeda tetapi satu Sigalingging hingga kini sebagai Pesan Ompu Raja Sigalingging “Asa Marsada ma Hamu sude  Pomparanku” maksud bersatulah kalian keturunanku. 

Sada do hamu Pomparanku Sigalingging “Sisada Anak Sisada Boru” (satu anak laki/perempuan tanpa pembedaan), “Sisada Las ni Roha Sisada Dok ni Roha” (Sama senang dan duka). Seperti dalam Partiture: Ende Ni Raja Sigalingging cipt Dr.H.Marhaban Sigalingging: “Marsiamin-aminan jala Marsitukkol-tukkolan dibagas Unduk dohot Serepni Roha”, Asa dapotmu: “Hasangapon, Hagabeon, Hamoraon” (Kebahagiaan, mendapat keturunan laki-laki dan perempuan serta kemakmuran). 

Manang ise mandok dang sada Sigalingging taonon nado Parngoluan na paet artinya Siapa yang mengatakan Sigalinggging tidak bersatu, maka akan mengalami hidup yang susah dan menderita.

Ompu Raja Sigalingging sangat bijaksana menerima pemberian kedua anaknya tersebut dan tidak membeda – bedakan. Mengatakan kepada anaknya yang pertama Guru Mangarissan : Pola ma digorakkon ho nadilehon ni adekmi, ai ido natarbahenna ( Kenapa mesti ditegur pemberian adekmu itulah mampunya). 

Mulai saat itu terjadilah perselisihan antara anak no 1 dan no 2, sehingga masyarakat setempat banyak menyebut tidak sopan atas tindakan Guru Mangarissan kepada adeknya. 

Mengatakan bersabar kepada Guru Tinatea adeknya agar menerima perlakuan abangnya. Lama kemudian Guru Mangarissan merasa asing dan kurang dihormati masyarakat. Dia berencana pindah kampung (marantau).

Berdasarkan norma Habataho ni Guru Mangarissan sebagai siangkangan berprinsip “Harus Pasangaphon Natua tua” (menghormati orangtua) memberi yang terbaik.

Raja Tinatea mempersembahkan hasil jerih payahnya memberi yang terbaik juga sesuai kemampuannya. Dia tidak mau “ Marsali Boras” (meminjam beras) untuk diberi kepada orangtuanya. Memberi yang terbaik dan setulus hati. 

Raja Sigalingging sebagai orangtua menegur Guru Mangarissan dan menerima keadaan dan maklum keadaan Raja Tinatea. 

Kemudian Guru Mangarissan sendiri mengasingkan dirinya dengan merantau ke negeri orang (mamuka huta) karena sudah sering cemoohan masyarakat setempat.

Beberapa generasi berikut salah satu nama keturunannya dibuat nama Mpu Bada sebagai pengingat sejarah untuk generasi berikut karena pernah selisih paham Guru Mangarissan dan Raja Tinatea. Bada atau Marbada artinya (terjadi selisih paham).

Marbada asli bahasa Toba, bahasa Pakpak marbada adalah “marubat”. Keturunan Mpu Bada hingga saat ini tetap solid mengakui keturunan Ompu Raja Sigalingging seperti yang tertulis dalam Buku Tarombo Ni Op Raja Sigalingging tahun 2002. 

Saat peluncuran buku Tarombo tersebut hadir Keturunan Mpu Bada salah satu tokoh yang bersuara dan menangis saat Sambutan: Jater Usen Gajah Sigalingging (Op Dian Damai). 
KOMPAK: Peserta Musyawarah Besar (MUBES) PPRS Indonesia di Hotel Grand Mercure, Medan, Sumatera Utara, Sabtu 21 Mei 2022.

Tahun 1984 pembangunan Tugu Mpu Bada Sigalingging di Manduamas yang dirintis oleh Op Rusma (Santun) Gajah Sigalingging, salah satu keturunannya di Jambi ; Op Natan (Basirun) Gajah Sigalingging, salah satu Penasehat dan perintis pendirian PPRS Jambi juga nara sumber penulis. 

Keturunan (pemparanna) Mpu Bada Sigalingging: Tendang, Banurea, Manik, Bringin, Gajah, Barasa. Akhir ini juga sudah mulai populer lagu/Ende Tarombo Mpu Bada Sigalingging Ciptaan: P.Gajah/Saut Barasa dan punya Yayasan Mpu Bada. Bukti sedarah keturunan Mpu Bada sebagai keturunan Ompu Raja Sigalingging. 

Anak Ketiga atau Siampudan Namora Pangujian gelar Parhaliang alias Lajang Raja Saragih Garingging lahir di Rianiate sebelah Selatan Kota Pangururan. 

Dikenal gelar Parhaliang karena ditempat tanah berlobang sebagai tempat tinggal. Anak Ketiga ini diketahui setelah Ompu Raja Sigalingging meninggal sebagai pesan dari perjanjian yang dirahasiakan karena lahir dari istri kedua Ompu Raja Sigalingging.

Pada saat Putri Raja Rianiate sakit–sakitan, menyuruh keluarga atau pasukannya mencari orang pintar saat itu dikenal “Dukun” yang bisa mengobati dan menyembuhkan. 

Mendengar cerita orang maka disuruh menjumpai Ompu Raja Sigalingging ke Sait Ni Huta. Maka pergi ke Rianiate dengan membawa ramuan obat untuk mengobati Putri Raja Rianiate. 

Ompu Raja Sigalingging bisa menyembuhkan dengan cara ramuan pengobatan (pandampolon) atau gelar pijat refleksi saat ini. Sebagai janji Ompu Raja Rianiate bahwa siapa yang menyembuhkan dan berhak memperistri putrinya. 

Putri Rianiate sembuh dan mengakui kelebihan Raja Sigalingging dan ingin menjadi istrinya. Sudah banyak pariban (calon suami) Putri Rianiate datang mau melamar, semua ditolak. 

Tetap mengingat jasa Ompu Raja Sigalingging yang telah menyembuhkannya. Atas kemauan putrinya maka Raja Rianiate menyerahkan putrinya sebagai istri kedua Ompu Raja Sigalingging. 

Tetapi Ompu Raja Sigalingging sempat menolak karena sudah mempunyai istri pertama dari Naibaho Sitangkarain memiliki 2 anak: Guru Mangarissan dan Raja Tinatea. Sebagai janji (parpadanan) selama hidup Raja Sigalingging tidak boleh menceritakan istri keduanya Putri Raja Rianiate. 

Pada saat Pesta Tugu 1982 hadir arwah Roh Suci Pomparan ke-3 yang meminta gondang dengan baik dan terang karena sudah bersahaja (marsahala) sebagai kesaksian ada no 3 keturunan Ompu Raja Sigalingging yang saat ini dikenal Saragih Garingging di Simalungun Raya dari istri ke dua boru Malau di Rianiate. 
Ketua Wilayah PPRS Provinsi JambiI Robinson Sigalingging SPd (paling kanan) saat mengikuti MUBES PPRS dari Provinsi Jambi, di Medan, Sabtu (21/5/2022). 

Hingga saat ini Saragih Garingging sudah sering bersamaan dengan Sigalingging baik pesta adat suka dan duka. Kebersamaan itu menunjukkan bahwa satu keturunan sedarah dari Ompu Raja Sigalingging.

Sebagai Parpadanan jika memperistri Putri Raja Rianiate, tidak boleh memberitahukan selama hidup Raja Sigalingging. Saat Pesta HUT Tugu Pertama itulah kesempatan yang baik, setelah meninggal boleh diberitahukan bahwa ada putra ketiga Raja Sigalingging, yang dikenal Namora Pangujian alias Parhaliang atau Lajang Saragih Garinggging. 

Akhir-akhir ini nama Namora Pangujian berkembang beberapa sebutan setelah Team Konsolidasi dipimpin oleh Kolonel Corri Sigalingging menemui tulang Malau di Rianiate mendapat kesan yang luar biasa dan menerima Saragih Garingging adalah Putra ke 3 Ompu Raja Sigalingging yang merantau dan berketurunan di Raya Simalungun. 

Yang hadir saat itu banyak Saragih Garingging diulosi oleh marga Malau dan Kolonel Corri Sigalingging mendapat Ulos yang dikenal Ulos “Siboan Tiang Panogu” tanggal  5 Desember 2021 di Rianiate. 

Saat itu banyak yang menangis dan terharu, menurut pengakuan yang hadir ada arwah (roh suci) hadir sebagai pertanda niat tulus hubungan keluarga. 

Walaupun sempat tertulis dalam Prasasti di Tugu Sait Ni Huta dan dalam buku Tarombo ni Ompu Raja Sigalingging bahwa Saragih Garingging dari keturunan kedua Raja Tinatea. 

Tetapi saat ini atas prakarsa, penelusuran sejarah (tarombo), pengakuan para tokoh Garingging dan menjumpai marga Malau di Rianiate serta pengakuan marga Malau untuk menerima dan Mangulosi kedatangan Garingging secara penghormatan Adat Batak (Pasahathon Sipanganon) sebagi bukti kekeluargaan yang mengikat selamanya sebagai pertanda juga untuk sejarah untuk garis keturunan (pomparan) masa mendatang.

Maka kita mengingat Pesan singkat (Tona ni Ompu Raja Sigalingging): ”Asa Marsada ma hamu Pomparanku. Marsiamin Aminan Jala sai Marsitungkol tungkolan”. 

Asa dapot ma Hagabeon, Hasangapon, Hamoraon. Manang ise naso olo marsada dapot ngolu na paet seperti dalam penjelasan diatas. Asa Sada ma songon daini Aek, dang mardua songon daini tuak. Sada las ni roha dohot sada dok ni roha. Asa Tampakna do tajomna rim ni tahi do gogona. 

Semoga pesan (Tona) Ompu Raja Sigalingging sebagai amanah bagi kita keturunan (pomparan) dapat memahami dan melaksanakan dalam kehidupan kita sesama pomparannya baik kita sesama Sigalingging (Haha Anggi), Boru, Bere dan Ibebere (cucu cucunya). 

Maka Sukacita dan Kebersamaan Pomparan Ompu Raja Sigalingging dalam Berkat Allah Yang Maha Kuasa selalu bersama kita semua.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi keturunan (pomparan) Ompu Raja Sigalingging dan pembaca. Horas…Horas…Horas. (Penulis Adalah Ketua Wilayah PPRS Provinsi Jambi).

Literatur: Buku Tarombo Pomparan Ni Raja Sigalingging ditulis oleh: Dr.Ir.M.Sigalingging.2002. Leluhur Marga-Marga Batak Dalam Sejarah, Silsilah dan Legenda. Ricard Sinaga.1997 Pustaka Batak, W.M.Hutagalung.1991.

NB: Sejarah Ompu Raja Sigalingging  yang kutulis sangat sesuai dengan kenyataan. Semua peserta Musyawarah Besar (MUBES) PPRS Indonesia di Hotel Grand Mercure, Medan, Sumatera Utara, Sabtu 21 Mei 2022 tidak ada yang komentar dan syah adanya.
Share this article :

Post a Comment

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis