Home » , » Tumpeng Megawati untuk Basuki (Ahok)

Tumpeng Megawati untuk Basuki (Ahok)

Written By Berita Simalungun on Tuesday, 26 January 2016 | 13:43

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri memberi sambutan saat acara deklarasi di Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Jakarta, Rabu (14/5/2014). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
BERITASIMALUNGUN.COM, Jakarta-Hari ulang tahun ke-69 presiden kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri berlangsung dalam suasana akrab. Acara dihadiri puluhan tamu penting dan kalangan awam di bilangan Sentul, Bogor, Jawa Barat, 23 Januari siang.

Menurut Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto, pesta kecil itu tak direncanakan walaupun jumlah tamu yang ingin memberikan ucapan selamat cukup mengular.

Dua tamu penting adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Wakil Presiden Budiono. Sebagian menteri yang hadir dari PDI-P adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan, tentu saja, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Hadir pula Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, Wakapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan, Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Budi Waseso, dan Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Arif Budimanta.

Hadir pula sejumlah fungsionaris partai dan gubernur terpilih Sulawesi Utara Olly Dondokambey yang menyempatkan diri terbang dari Manado.

Selain Puan Maharani, dua putra Megawati, Rizki Pratama serta Prananda Prabowo, juga hadir. Rizki putra pertama yang lebih memilih profesi pebisnis ketimbang berpolitik, sebaliknya Prananda kini menjabat sebagai Ketua Bidang Ekonomi Kreatif DPP-PDIP.

Prananda ikut menulis sebuah buku yang disiapkan untuk HUT Megawati berjudul Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.

Buku yang disiapkan editornya, Kristin Samah, ini berisi sejumlah artikel wartawan yang pernah meliput aktivitas Megawati dalam berbagai gejolak politik tahun 1990-an yang berpuncak pada Reformasi 1998.

Bersama Puan Maharani, Prananda tampaknya disiapkan untuk melanjutkan tradisi dinasti Soekarno di PDI-P.

"Tetapi kami di PDI-P lebih percaya pada regenerasi yang alamiah saja tanpa harus dikelola," ujar Prananda kepada Kompas.

Acara puncak ultah tentu ketika Megawati meniup lilin, memotong kue, dan juga memberikan potongan tumpeng, antara lain untuk Wapres dan Gubernur DKI. Ketika tumpeng diberikan kepada Basuki, suasana menjadi seperti pasar.

Bintang pesta

Tak pelak lagi, bintang pesta ultah Megawati memang Basuki. Ke mana Basuki pergi, selalu saja ada tamu yang bersemangat meminta berjabat tangan atau berfoto.

Basuki seperti telah menjadi bagian dari PDI-P setidaknya sejak ia dielu-elukan para peserta HUT-Rakernas PDI-P, 9-11 Januari di Jakarta.

Hubungan Basuki dengan Megawati terbilang dekat sejak pencalonan Jokowi-Basuki sebagai Gubernur-Wakil Gubernur DKI tahun 2012.

Kini muncul spekulasi Basuki akan diusung oleh PDI-P untuk pilgub DKI tahun depan, sementara sebagian warga Jakarta mungkin merasa lebih nyaman Basuki maju sebagai calon independen.

Apalagi, keputusan Mahkamah Konstitusi yang dikeluarkan September 2015 telah memudahkan persyaratan jumlah dukungan KTP untuk calon perseorangan atau independen.

Untuk Pilgub DKI, Basuki "hanya" membutuhkan minimal 7,5 persen (atau sekitar 525.000 fotokopi KTP warga DKI) dari perkiraan daftar pemilih tetap (DPT) sekitar tujuh juta jiwa.

Organisasi warga pendukung Basuki, Teman Ahok, mengklaim telah mengumpulkan sekitar 624.000 fotokopi KTP.

Apakah PDI-P dengan Basuki berjodoh, atau Basuki menjadi calon independen, waktulah yang akan menjawab. Sebuah hal yang kasatmata, hubungan personal Megawati dengan Basuki semakin hari semakin mesra.

Sebuah hal yang juga pasti, publik yang semakin sinis dan apatis terhadap partai kurang rela jika Basuki "diambil" oleh PDI-P.

Tanpa dukungan partai sampai saat ini pun, Ahok telah terbukti sukses membenahi Jakarta, memerangi birokrasi bobrok Pemprov DKI, dan melakukan perlawanan terhadap sebagian anggota DPRD DKI.

Pesta HUT Megawati ditutup dengan penyerahan buku Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.

"Megawati ingin bertemu lagi dengan para wartawan yang dulu meliput transisi demokrasi yang menyimpan banyak cerita yang belum sempat diungkap. Itulah yang ditulis di buku ini," kata Kristin.

Saat menerima buku, Megawati dalam sambutannya menjanjikan akan secara rutin bertemu dengan para wartawan yang menulis buku itu.

"Jika perlu kita bikin arisan tiap dua bulan sekali," janji Megawati dengan wajah semringah. Selamat ulang tahun, Megawati! (BAS)

(Sumber: Kompas.com)
Share this article :

Post a Comment