Di masa kepemimpinannya, Kota Siantar ditata menjadi lebih profesional, Beliau meletakkan fondasi Kota Pematangsiantar sebagai Kota Pendidikan dan Kota Jasa.
Pada masa ini, penataan ruang publik dan kebersihan kota mulai menjadi standar keunggulan Siantar di tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Beliau dikenal mampu merangkul seluruh etnis dan agama di pematagsiantar, sehingga stabilitas keamanan sangat terjaga. Hal inilah yang menjadi cikal bakal Pematangsiantar sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Setelah sukses memimpin Kota Pematangsiantar, Drs. Djabanten Damanik dipercaya memimpin Kabupaten Simalungun selama dua periode (1990–1995 dan 1995–2000).
Fokus utama beliau adalah memperpendek jarak antara desa dan kota. Pembangunan infrastruktur jalan ke pelosok-pelosok nagori (desa) digenjot untuk memperlancar arus komoditas pertanian yang menjadi nadi ekonomi Simalungun.
Di bawah kepemimpinannya, Simalungun memperkuat posisinya sebagai "Lumbung Pangan" Sumatera Utara. Irigasi pertanian diperbaiki dan penyuluhan pertanian dilakukan secara masif.
Beliau sangat menjunjung tinggi nilai Habonaron Do Bona. Di masa inilah, marwah masyarakat Simalungun diangkat melalui pelestarian adat istiadat dalam setiap sendi pemerintahan.
Beliau adalah pemimpin yang berhasil membawa Simalungun melewati masa transisi dari era Orde Baru ke era Reformasi (1998–2000).(BS-Red)



0 Komentar