Home » , , » Wakil Walikota Siantar vs Kepala RS Dr Djasamen

Wakil Walikota Siantar vs Kepala RS Dr Djasamen

Written By Berita Simalungun on Friday, 28 April 2017 | 08:58

Ramlo R Hutabarat Saat Dirawat.FB

BeritaSimalungun.com-Rabu lalu saya kembali dari RS Murni Teguh Medan, setelah dirawat beberapa hari dirawat inap disana. Biasalah tradisi Orang Timur, beberapa kawan dan sahabat juga saudara datang mengunjungi saya ke rumah saya di Tepian Bah Bolon, kawasan Pinggiran Simalungun yang berbatasan dengan Kota Pemtangsiantar.

“Bagaimana ? Sudah sembuh ?”, umumnya mereka bertanya senada seirama, meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Saya harus menjawab pertanyaan kawan, sahabat dan saudara saya itu dengan seolah-olah sabar. Padahal sesungguhnya, pertanyaan jenis itu sangat tidak saya suka. Tapi apalah mau dikataka. Menjawab pertanyaan kawan, sahabat atau saudara yang bertanya dengan baik, harus dijawab dengan baik juga. Meski pun kita tidak suka. Emangnya sulap. Sakit, berobat, sembuh ?

Tapi Lae saya Oloan Ramses Aritonang orangtuanya Bere saya Aritonang Dame, lain dari yang lain. Begitu duduk di teras rumah saya dia spontan cerita. Beberapa hari lalu katanya dia berobat ke RSUD Dr Djasamen Saragih Pematangsiantar. Di saat dia dan banyak pasien lainnya menunggu-nunggu kehadiran para dokter di RS itu, mendadak Wakil Walikota Pematangsiantar Hefriansyah Noor muncul dan marah-marah.

“Marah besar dia, Lae”, katanya.

“Apa pasal ?”, cepat saya memotong.

Lae saya yang menikah dengan Ito saya yang bontot Rohani Marhaeni Hutabarat dan tinggal di Kelurahan Asuhan itu cepat pula memotong. Wakil Walikota itu marah besar karena waktu dia berkunjung ke RS tadi, belum seorang pun dokter yang hadir untuk melakukan tugas dan kewajibannya, melayani pasien. Padahal saat itu jarum jam waktu itu sudah menunjukkan angka 10.00 WIB.

“Dia marah sekali, Lae”, kata Lae saya itu mengulangi. Dan karena saya diam saja, Lae saya itu pun merasa aman untuk melanjutkan ceritanya.

Dalam penuturannya, Lae saya bilang tak nyangka Hefriansyah Noor bisa marah seperti itu. Padahal, wajahnya bahkan penampilannya selalu santun dan lemah lembut, penuh wibawa kebapaan. Rupanya seseorang yang berpenampilan sesejuk Wakil Walikota Pematangsiantar itu, kalah jengkel sekali akan marah sekali. Seolah-olah dia bukan menjadi dia lagi. Dan saya pun tiba-tiba ingat Lae saya Nelson P Sitompul ketika di benak saya terlintas kata seolah-olah.

“Sebenarnya, tak eloklah kalau Bapak itu marah-marah dan marah sekali apalagi di depan umum. Dan, di hadapan rakyat yang dipimpinnya pula. Seorang pemimpin, tak elok marah-marah apalagi di depan umum, rakyat yang dipimpinnya. Sebab marah-marah bisa disimpulkan orang tak mampu menguasai diri. Lihat misalnya Ahok, Gubernur DKI. Ketika dia marah-marah di depan umum apalagi disorot kamera teve pula, orang yang menyaksikannya justru banyak yang tertawa-tawa. Dan ketika marah-marah itu menjadi tradisinya, banyak orang yang jadi tak suka”

“Akh. Naso hamu do Lae”, kata Lae saya cepat memotong.

Katanya, dia tidak bermaksud membela Hefriansyah Noor sebagai Wakil Walikota Pematangsiantar. Sudah lama, sejak dipimpin Dr Ria Ria Novida Telaumbanua, banyak sekali dokter di RSUD Dr Djasamen Saragih yang kurang berdisiplin dan sejenisnya ketika menjalankan tugas dan kewajibannya. Kehadirannya saja tidak tepat waktu bahkan terkesan berleha-leha. Para pasien seolah-olah tidak dipedulikan. Datang ke berobat ke RS, sudah terang karena sakit. Dan orang sakit, wajib ditolong tidak dengan setengah hati.

Dan kondisi seperti itulah yang disaksikan Hefriansyah Noor saat dia tiba-tiba datang berkunjung ke RS itu. Para pasien berjam-jam menunggu dan menunggu dokter di pelataran RS itu. Menunggu yang tak jelas, kapan waktunya, dengan segala derita yang tengah dialami. Seolah-olah , mereka dengan sengaja diterlantarkan. Kata Hefriansyah Noor saat itu seperti dituturkan Lae saya Oloan Ramses Aritonang yang juga ayahandanya Bere saya Candra Maruli Aritonang itu, dia membayangkan para pasien itu adalah orangtunya.

“Mereka, para pasien itu, juga orangtua saya”, kata Hefriansyah Noor ditengah marahnya, katanya.

Saya terhenyak. Diam. Lae saya itu pun diam. Seperti kebiasaan Orang Batak, seorang Boru enggan dan sungkan sekali untuk berbantah-bantahan dengan pihak Hula-hulanya.

Dalam diam saya, saya pun merenung. Seorang Wakil Walikota juga manusia. Manusia biasa. Bukan dewa apalagi malaikat. Dia punya rasa, punya selera. Bahkan dia punya siapa saja. Punya orangtua dan punya saudara. Dan yang paling pas, dia punya rakyat yang dipimpinnya, yang dicintainya dengan sepenuh hati dan jiwa raganya. Karena apa dia memimpin. Seorang pemimpin seperti Hefriansyah Noor, sudah pasti memiliki ikrar meski dalam hati untuk melayani rakyatnya, mengabdikan dirinya untuk rakyatnya. Bahkan sampai tetes darah terakhir , kalau perlu.

Dalam suasana seperti inilah kondisi sang Wakil Walikota pada saat itu. Dia dalam posisi yang serba sulit menyaksikan keadaan itu pada saat itu. Maju kena, mundur pun kena. Tekad untuk mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya sudah bulat dan tidak bisa ditawar-tawar (lagi) Rakyat Siantar harus dilayani dengan model mempermudah, bukan malah mempersulit. Dan marah-marah barangkali sudah masanya untuk diterapkannya untuk merubah keadaan yang sudah runyam dan bahkan brengsek di RSUD Dr Djasamen Saragih.

Tapi kalau saya Hefriansyah Noor, saya akan tempuh atau lakukan marah-marah itu dalam bentuk lain. Saya akan marah kepada Pimpinan RSUD Dr Djasamen Saragih itu. Saya akan memanggil sang pimpinan ke ruangan kerja saja dan memarahinya dengan gaya dan model seorang pimpinan tertinggi. Sekaligus membinanya. Dan silahkan kemudian, sang pemimpin RS itu memarahi para staf serta pembantunya. Jadi marah berjenjang. Tidak memarahi secara langsung apalagi di depan umum. Bisa jadi muncul kesan lain, seolah-olah hanya pencitraan atau cari perhatian.

Lantas agaknya, menyimak keadaan personal RSUD Dr Djasamen Saragih secara umum selama ini, sudah waktunya agaknya dilakukan semacam pembinaan rohani, moral dan mental. Undang saja para motivator untuk memberikan pelatihan dan sejenisnya kepada seluruh personal disana. Guru Etos Jansen Sinamo misalnya atau Motivator Nasional Saut Sitompul. Kedua orang ini sepanjang yang saya kenal merupakan orang-orang yang mampu melakukan perubahan terhadap banyak pihak dan kalangan, bahkan Guru Etos Jansen Sinamo setahu saya sudah berkelas internasional.

Dalam Penjelasan Walikota Pematangsiantar terhadap Rancangan Perda Kota Pematangsiantar pada Rapat Paripurna Pertama DPRD Kota Pematangsiantar 2017 antara lain disebutkan : Perangkat Daerah RSUD Dr Djasamen Saragih, dibah menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang bersifat otonom, dipimpin oleh dokter atau dokter gigi yang diberi tugas tambahan. Dimana, kelembagaan RSUD dapat menggunakan struktur kelembagaan yang ada pada saat ini sampai ditetapkannya Peraturan Presiden tentang Kelembagaan RS Daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (8) dan Pasal 44 ayat (17) Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Namun Direkturnya merupakan pejabat fungsional dokter atau dokter gigi yang diberi tugas tambahan.

Tapi apalah mau dikata. Saya kan tidak apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saya cuma jurnalis belaka, itu pun jurnalis yang selalu terpinggirkan seperti kata kawan saya Imran Nasution. Tempat saya bermukim saja pun, cuma di Pinggiran Simalungun yang berbatasan dengan Kota Pematangsiantar. Orang Pinggiran meski di Perbatasan. (Ramlo R Hutabarat-Siantar Estate, 28 April 2017)
Share this article :

Post a Comment