Home » » Seolah-olah Dia Mengasihi

Seolah-olah Dia Mengasihi

Written By Beritasimalungun on Sunday, 29 October 2017 | 01:40

Oleh: S. Sahala Tua Saragih
 
St Sahala Tua Saragih dan Keluarga.FB
BeritaSimalungun-Ada seorang perjaka yang mati-matian mengejar-ngejar seorang gadis. Usahanya berhasil. Mereka jadian, berpacaran. Sang perjaka berdompet sangat tipis, bahan kadang-kadang kosong melompong, sementara si kekasihnya berdompet sangat tebal. Akan tetapi kikirnya minta ampun. Sang perjaka telah melakukan berbagai upaya untuk mengalihkan sebagian isi dompet pacarnya namun sia-sia. 

Karena gagal menjadikan dompet gadisnya sebagai “ATM”, akhirnya sang perjaka pun pergi jauh tanpa jejak. Rupanya sang perjaka telah jatuh cinta kepada isi dompetnya, bukan kepada sang pemilik dompet. Sungguh, cintanya pura-pura, cinta palsu, cinta ecek-ecek, tidak tulus, munafik. Dia tergolong cowok matre, kata sebuah lagu pop.

Dahulu di halaman sebuah gereja di Bandung, usai kebaktian Minggu pukul 09.00, ada seorang ayah muda asyik menimang-nimang anak pertamanya yang baru berusia lima bulan. Dia menyapa-nyapa mesra bayinya sambil meciumi kening dan pipinya. Rokok di bibirnya terus mengeluarkan asap.

Lalu seorang Tulang (paman) kandungnya bertanya, “Kau sungguh-sungguh mengasihi anakmu?”

“Ya, pastilah, Tulang. Itu tak perlu ditanya lagi. Tulang lihat sendiri, kan?” jawabnya sambil tersenyum bangga.
“Kalau begitu matikan dan buang jauh-jauh rokokmu!” perintah Tulangnya tegas.

Menurut perasaan sang ayah muda, dia sungguh-sungguh sedang menunjukkan kasih tulusnya kepada putri kesayangannnya. Akan tetapi tak disadarinya, sebenarnya pada waktu yang bersamaan dia tak mengasihi anaknya. 

Dia justru menyakiti anaknya melalui asap rokoknya. Bukan hanya anaknya, dia pun menyakiti dirinya sendiri. Pada saat itu dia sedang merusak dua ciptaan Tuhan, dirinya sendiri dan anaknya sendiri. Sang ayah tak mengasihi anaknya secara total (utuh) karena dia pun tak bisa terlebih dahulu mengasihi dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin kita bisa mengasihi orang lain (sesama manusia) bila diri kita sendiri pun tak bisa kita kasihi? Bagaimana mungkin seorang suami/ayah bisa mengasihi isteri/keluarganya bila dia pun merusak tubuh dan kehidupannya sendiri?

Dahulu kala, salah seorang di antara orang Farisi bertanya kepada Yesus. Ahli Taurat itu tampaknya bertanya dengan sangat santun dan hormat. Seolah-olah dia mengasihi Yesus. Dia menyapa Yesus Guru. Padahal sebenarnya dia dan sahabat-sahabatnya sedang mencobai dan menjebak atau menjerat Yesus. 

Dia tidak tulus dan jujur bertanya. Yesus tentu mengetahui motif dan tujuan jahat kaum Farisi itu. Akan tetapi Yesus tak berpikir negatif. Dia justru memanfaatkan situasi itu untuk menyampaikan pesan agung-Nya yang sangat legendaris dan tetap aktual hingga kini, bahkan sampai kapan pun.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22: 37). Lalu perintah-Nya lagi, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22: 39b).

Kita bisa mengasihi orang lain hanya bila kita terlebih dahulu bisa mengasihi diri sendiri. Tubuh, jiwa, dan roh kita adalah ciptaan Allah sehingga kita wajib memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Mustahil pula kita bisa mengasihi Tuhan bila kita pun tak bisa mengasihi sesama. Mengasihi sesama bukan dengan perkataan atau lidah melainkan dengan perbuatan konkret dan dalam kebenaran (lihat 1 Yohanes 3: 18).

Mengapa kita harus saling mengasihi? “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 4: 19-21).

Mengapa pula kita mesti mengasihi Allah? Dia sudah terlebih dahulu mengisihi kita. Allah telah mengorbankan Anak Tunggal-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita, menjadi Juru selamat dunia.

“Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.” (1 Yohanes 5: 2-3).

Kepada jemaat Korintus Rasul Paulus pernah menulis begini, “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” Lalu tulisnya lagi, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antarnya ialah kasih.” (1 Korintus 13: 3, 13).

Menurut Abraham Maslow, bapak psikologi humanisme, ada empat tingkat kebutuhan dasar manusia. Tingkat pertama kebutuhan fisiologis (biologis), tingkat kedua kebutuhan keamanan, tingkat ketiga kebutuhan dimiliki dan cinta, dan tingkat keempat kebutuhan harga diri.

Cinta (kasih) adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan memercayai. Dicintai dan diterima adalah jalan menuju perasaan yang sehat dan berharga. Sebaliknya, tanpa cinta menimbulkan kesia-siaan, kekosongan, dan kemarahan.

Berguru dan teladanilah para anutan pengasih yang terkisah di dalam dan luar Alkitab, terutama Tuhan kita, Yesus Kristus! *** (Penulis Adalah Sintua di GKPS Bandung Sukamulya)
Share this article :

Post a Comment