Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Penari Simalungun Digusur Lapak Tikar Taman Bunga

Penari yang terpaksa berbagi lokasi dengan tikar milik pedagang, Minggu (7/10/2018).

Siantar, Beritasimalungun-Kegiatan ekspresi seni tari Simalungun yang setiap Sabtu dan Minggu oleh Sangggar Budaya Rayantara di Lapangan Merdeka atau Taman Bunga Jalan Merdeka, Kota Siantar digusur oleh gelaran tikar pedagang makanan dan minuman.

Ketua Sanggar Budaya Rayantara, Sultan Saragih mengatakan, sejak 2017 Pemko Siantar melalui Dinas Tarukim sudah membuka Lapangan Merdeka sebagai ruang terbuka hijau.

Sebelumnya lapangan yang berada di depan Kantor Walikota itu dipagar tembok. Tembok setinggi kurang lebih dua meter dirubuhkan, sehingga warga bisa leluasa masuk ke dalam lapangan.

Pemerintah setempat kemudian mempercantik lapangan atau taman tersebut dengan membangun sejumlah sarana pendukung, seperti kursi antik, perosotan bagi anak-anak hingga peningkatan track untuk kegiatan olahraga jogging.

“Warga kemudian menggunakan taman sebagai tempat olahraga dan juga berekspresi, seperti kami menggelar latihan tari setiap Sabtu dan Minggu,” tuturnya, Selasa (9/10/2018).

Namun kini, kata Sultan, taman kembali tak nyaman digunakan warga untuk berekspresi dan berolahraga. Sejummlah pedagang makanan dan minuman yang berkios di sisi luar lapangan, berlomba-lomba menggelar tikar di sejumlah sudut lapangan. Mereka menyewakan tikar dan menjajakan makanan dan minuman kepada pelanggan mereka.

“Ini sudah lama tak ada. Tapi dalam sebulan ini, muncul tikar-tikar yang digelar di lokasi taman. Sepertinya ada oknum yang memelihara dan mendukung,” tutur pegiat budaya Simalungun itu.

Akibat gelaran tikar itu, lokasi yang selama ini mereka pakai untuk latihan tari atau menari bersama warga menjadi terganggu bahkan tergusur.

Sebelumnya, mereka bisa menempati lokasi seluas 12 meter x 8 meter. Dengan seluas itu, tak kurang 10 penari bisa berekspresi dengan tarian. Warga juga bisa masuk untuk menonton bahkan ikut menari.

Namun sejak ada gelaran tikar pedagang, mereka cuma bisa menempati seluas 6 meter x 4 meter. “Kami menjadi tak nyaman lagi untuk latihan. Saat kami sampaikan ke pedagang, mereka tak menggubris,” katanya.

Padahal kata Sultan, mereka rajin membersihkan dan merawat lokasi taman sehingga warga semakin ramai datang, baik untuk menonton maupun menari. Bahkan pernah turis Eropa datang dan ikut menari bersama mereka.

“Kita sudah coba surati Pemko Siantar agar hal ini diatasi. Kita tahu taman ini sebagai ruang hijau dan ekpresi bagi warga. Bukan jadi lapak jualan,” ujarnya.

Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Pemko Siantar, Robert Samosir yang disurati pihak sanggar pada 8 Oktober 2018, belum berhasil dihubungi.

Dalam surat yang dilayangkan Sultan tersebut, meminta petugas Polisi Pamong Praja menertibkan lapak tikar sewa milik para pedagang. Sebab pemerintah sudah menyediakan kios pedagang makanan dan minuman di luar taman.(*)

Sumber: PENASIANTAR.com

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments