}); “Gerbang Simalungun” Menuju Perubahan | BeritaSimalungun
Home » , , , , , » “Gerbang Simalungun” Menuju Perubahan

“Gerbang Simalungun” Menuju Perubahan

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 14 May 2019 | 09:29

Irjen Pol Drs. M Wagner Damanik, M.AP dalam salah satu kegiatan Adat Budaya Simalungun.
Beritasimalungun-“Bagi siapa saja bukan hanya saya, jika jiwanya terpanggil mari kita bersama-sama memulai dan membuka gerbang baru demi sebuah pembaharuan yaitu: "GERBANG SIMALUNGUN",” demikian kalimat akhir tulisan Irjen Pol Drs. M Wagner Damanik, M.AP pada sebuah artikel yang berjudul #PANGGILAN TANAH LELUHUR” dibagikan di lini masa akun sosial media miliknya, Senin (13/5/2019).

Sebuah artikel yang menarik jelang Pilkada Simalungun September 2020 mendatang. Berikut ini artikel yang ditulis  Irjen Pol Drs. M Wagner Damanik, M.AP, salah satu Tokoh Simalungun yang digadang-gadang ikut merebut Simalungun 1 September 2020 mendatang. 

“Panggilan Tanah Leluhur”

Oleh: Irjen Pol Drs. M Wagner Damanik, M.AP

"Semua akan turun gunung pada waktunya jika bumi pertiwi yang melahirkan kita "mengaung" memanggil jiwa.

Relasi hubungan hidup meliputi banyak komponen di dunia ini sebut saja diantaranya adalah "tanah" selain sebagai sarana pengingat juga adalah sebuah identitas. 

Mungkin berjodoh paham relasi ini dengan munculnya sebuah pertanyaan publik "Mengapa Turun Gunung" ?, seandainya gunung bisa menjawab mungkin gunungpun akan merasa malu. 

Ada tekad dan kerinduan yang tinggi bersemayam tinggal di ujung puncak tertinggi namun tanah yang melahirkannya merintih. 

Tanah yang dulunya nyaman dengan sejuta keindahan kini berubah menjadi simbol keruntuhan. Banyak perkumpulan mengatas namakan sedarah tidak lagi searah. Banyak gerakan mengatas namakan kesatuan namun memiliki dua tuan.

Lebih parah lagi ada berjuta jiwa kehilangan identitas dengan cara tak pantas. Semua berserak di tatang oleh tanah, tak ada kebangkitan, tak ada perlawanan karena semua sempoyongan akibat anggur keserakahan.

Tanah yang tertindih kini merintih, lalu berteriak keras sampai menggulung jarak dan waktu. Memanggil jiwa yang mau merenggut gelap menghidupkan lilin menuju gerbang pembaharuan, untuk menggiring setiap anak yang dilahirkan dari rahim Habonaron Do Bona. 

Siapa saja yang mendengar panggilan leluhur akan memiliki kekuatan. Karena tanah yang kini kita pijak, juga adalah salah satu berkat Tuhan untuk beranjak, menjadi orang-orang bijak tanpa membajak setiap hak. 

Siapa saja yang mendengar panggilan jiwa, bagai tak bertenaga datang dengan menanamkan sebuah pengertian bahwa inilah pekerjaan yang berharga. 

Sepenggal syair lagu yang berbunyi : " lebih baik disini, rumah kita sendiri", sekalipun beratapkan jerami dan lain sebagainya, adalah sebuah pengakuan jiwa dan bahasa cinta, menunjukkan bahwa kepulangan seseorang ketanah leluhurnya adalah bentuk cinta dan pengabdian.

Sekalipun tak mendapat apa-apa jika dibandingkan dengan yang sebelumnya, namun sesungguhnya itulah arti sebuah harga yang harus dibayar guna memenuhi panggilan jiwa untuk mengabdi dan mencinta. 

Ini adalah bahasa asmara antar rasa dan cinta yang akan dibuktikan melalui pengorbanan jabatan, pangkat, harta, kenyamanan menjadi taruhannya, tak ada kata penolakan yang ada hanya kesepakatan !. 

Sepakat untuk kembali ketanah kelahiran memenuhi panggilan leluhur menyelamatkan pertiwi dari ketertindasan dan penistaan kemanusiaan dengan cara menghantam hantu uang dengan berlandaskan kejujuran dan keadilan.

Bagi siapa saja bukan hanya saya, jika jiwanya terpanggil mari kita bersama-sama memulai dan membuka gerbang baru demi sebuah pembaharuan yaitu: "GERBANG SIMALUNGUN". #GerakanBangunSimalungun-#SahabatSimalungun. (*/Asenk Lee).
“Gerbang Simalungun” Menuju Perubahan
 
Share this article :

Post a Comment