}); "Kisahku Dengan Opung Ini" | BeritaSimalungun
Home » , » "Kisahku Dengan Opung Ini"

"Kisahku Dengan Opung Ini"

Written By Beritasimalungun on Sunday, 3 May 2020 | 20:32



Oleh: Pdt Renny Damanik
Beritasimalungun-Saat aku melayani di Bandung tahun 1999-2006, pada waktu itu opung laki laki, suami dari opung ini ibadah di gereja GKPS PDAM, dan saya selalu mendoakan jemaat-jemaat secara personal dalam hal-hal tertentu. 

Pada saat itu, aku mendoakan anak opung ini dan saat itu belum jadi saya,tapi sekarang sudah sintua, namanya St Jamaruli Damanik. 

Adalah hal biasa bagiku mendoakan warga jemaat dan kadang sebut nama secara personal. Ternyata itu hal yang sangat luar biasa bagi suami opung ini, anaknya didoakan dari mimbar. 

Sepulang ibadah, dia menjumpaiku dan dipegangnya uangnya dan diberi padaku tanpa amplop. Jumlahnya Rp5.000 (Lima Ribu Rupiah) sambil menetes airmatanya.

Dia katanya terharu karena tidak pernah pendeta mendoakan anaknya, St Jamaruli ini. Bagiku uang 5.000 itu seperti Rp 5 Juta rupiah, karena diberi dengan tulus dan dari kampung, opung-opung lagi, suami opung perempuan ini. 

Kusimpan uang itu pada waktu itu dan selalu ku ingat itu. Saat aku pindah ke Kisaran waktu itu suami opung ini sakit dan krisis, berhari hari, dan opung laki-laki itu minta supaya saya yang bawa HBN pada dia, sementara saya ada tugas sore hari Natal Sekolah Minggu GKPS Kisaran karena tepat bulan Desember. 

Aku bingung, dan takut karena bagaimana kalau suami opung ini meninggal sebelum HBN, padahal adanya Pdt Resortnya, tapi dia minta mesti Br Damanik yang pernah dibandung katanya. 

Saya juga tidak enak terhadap Pendeta Resortnya dan akupun minta ijin untuk melaksanakan dan pendeta itu mengijinkan. 

Menurut ceritanya, sudah berapa hari dia tidak mau ngomong opung laki-laki suami opung ini, aku pikir gimana mar HBN tidak bisa ngomong? 

Pendek cerita selesai Kotbah sekolah minggu, malam itu pergi langsung ke Sigodang dan hujanpun deras di jalan. 

Sesampai di Sigodang kami langsung laksanakan HBN dan luar biasanya dia bisa bicara dan aku kaget, dan sesudah HBN tidak mau lagi ngomong.

Dan sayapun pulang malamnya ke Kisaran, belum sampai di Kisaran Opung itu meninggal dunia dan umurnya pun kalau tak salah sudah hampir 80 an. 

Itulah kisah ku dengan keluarga ini, dan kemarin sengaja aku lewat Sirpang Sigodang pingin ketemu opung ini setelah tak ketemu berpuluh tahun. 

Aku lupa-lupa ingat rumahnya karena dulu kesana pada malam hari. Lalu kami pelan-pelan memperhatikan rumahnya dan ketemu opung ini. 

Ternyata dia masih sehat dan fresh, dan ketika aku turun mobil ku peluk dia dan ku sebut namaku, langsung diingatnya dan di peluknya aku. Maka markodak lah kami. Sehat ya pung, tetap tersenyum dan semangat.(***)

Editor: Asenk Lee Saragih
Share this article :

Post a comment