. Oni Anita M Hutagalung: REY YANG KUAT | BeritaSimalungun
Home » , » Oni Anita M Hutagalung: REY YANG KUAT

Oni Anita M Hutagalung: REY YANG KUAT

Written By Beritasimalungun on Saturday, 31 December 2022 | 07:55

  Oni Anita M Hutagalung: REY  YANG    KUAT .

BS
-Pada Selasa 22 Desember 2022, saat itu sekitar Pukul 17.00 WIB, Oni sedang rapat pembubaran panitia Natal Sie Inang GKPS Binjai. HPku bergetar, parumaenku Monika memanggil. Aku angkat HP mau berbisik bahwa sedang rapat. Tapi leherku tercekat , aku mendengar suara tangisan.

Cucuku Rey menjerit-jerit kuat sekali, Kak Nora juga menangis keras. Mak Nora juga mengangis histeris. "Mamaaaa..... Tolong kemari Maaa... Mamaa..cepat Maa.."

"Kenapa..? Ada apaa? " tanyaku. "Mamaaa.... Rey Maa... Rey kesiram minyak panas Maaaa.... Tolong Maaa cepat kemari" Mak Nora menangis meraung-raung. 

Aduh.. Tuhan. Aku langsung matikan telepon. Aku gemetar, mau pingsan rasanya. Aku permisi cabut dari rapat. Gemetaran tanganku memasukkan kunci kreta. Sambil menarik napas hanya sanggup bernapas pendek-pendek.. Sesak kurasa. Aiih.
 
Mulutku komat-kamit menyebut nama Tuhan. Minta pertololongannya supaya aku tenang. Kereta kugas sekencang²nya. Aku belum bisa bayangkan seperti apa Rey kecipratan minyak goreng panas itu.
 
Tenang Oni.. Tenang, jangan menangis Oni, konsentrasi  jangan sampai kau juga celaka di jalan ini. Suara hatiku menyemangatiku. Sampai di rumah anakku, terdengar.

Suara tangisan ketiganya bersahutan. Parumaenku meraung dengan wajah yang ketakutan, kulihat berserakan  dilantai dapur penggorengan, nuget, minyak dan air Rey menangis seluruh kepala dan wajahnya memerah. 

Aku hanya bilang ke menantuku, "Kita ke rumah sakit saja". Aku lari ke luar rumah minta tolong ke tetangga untuk mengantarkan kami ke Rumah Sakit. Anakku Pak Nora sedang  dalam perjalanan dari Medan. 

Mendengar bahwa Rey kesiram minyak panas, si Om terangga pun tergopoh-gopoh membawa kami ke rumah sakit. Tak usah pilih-pilih ,Rumah sakit terdekat saja. Langsung ke IGD.
 
Ditangani dengan cepat, Rey tak sedetikpun berhenti menjerit. Sakit sekali jantungku mendengarnya. Membayangkan berapa perihnya yang dirasakan cucuku itu. Kulit kepala dan wajah sampai ada yang terkelupas begitu. 

Suster menyirami sekujur yang luka dengan cairan dari botol infus. Semakin menjerit²lah Rey. Belum lagi suster yang masang infus gagal.  Padahal sudah dicucuk dipergelangan tangan, cabut lagi.
 
Cucuk lagi di pergelangan kaki, tak jalan juga infusnya, cabut lagi. Sampai darahnya muncrat-muncrat. 
Aiiih..... Sudah 3 kali GAGAL.. 

Rey semakin menjerit sampai menggelepar. Aku pun jadi berteriak pada perawatnya. "Kalian ini gak punya perasaan!! Dari tadi cucuku digendong mamaknya gak kalian kasi. Kalian bilang harus dibaringkan, abis itu lalap kalian cucuk cucuk terus. 

Kalau gak bisa gak usah kau paksaa!! "Mungkin karena melihat Oni udah kalap. Sampai tabung oksigen yang di IGD itu terguling klontangan kubikin. 
 
Mak Nora bilang begini: "Suster.. Sudahlah, mungkin suster sudah capek dari tadi ngurus pasien, tolonglah gantian biar suster yang lain saja yang pasang infus anakku".

Aku keluar meninggalkan IGD, menenangkan diriku. Udah mau kujambak aja suster yang 3 kali nyucuk-nyucuk  si Rey sampai berdarah. 
Oni sampai telpon Bidan Sumarni Sitorus  . Aku ceritakan sekilas keadaanya. Dan meminta tolong kalau punya teman perawat yang pintar pasang infus. Katanya akan mengusahakan secepatnya.
 
Kak Nora duduk manis di ruang tunggu. Dia sepertinya paham situasi. Dia sabar dan tak betingkah. Tak lama kemudian  Pa Nora datang. Begitu Pa Nora masuk ruang IGD, kembali tangis Mama Nora pecah. "Maafkan mama ya Rey... Maafkan mamaaa".

Pa Nora mencoba tenang untuk menenangkan Rey yang menjerit-jerit. "Kuat ya nakku, kuat ya Rey... Maafkan kami ya Rey... Maafkan Papa dan Mama yaa". Ucap Pak Nora berulang-ulang. Aiiih... Tuhan. 

Terimakasih anakku hatinya begitu luas. Seperti yang sudah aku kira, dia tak marah atau menyalahkan istrinya. Pikiran kami sama, tak ada yang harus disalahkan. Tak perlu dipersoalkan kenapa mengapa. 

Karena sudah terjadi. Nanti-nantilah itu kita bahas. Sekarang fokus, Rey sudah luka, bagaimana supaya bisa sembuh. Akhirnya setelah 10 kali percobaan. 4 kali ganti suster, barulah  Rey bisa di infus.
 
Aku harus pulang kerumah  untuk mengurus Nora. Karena mama papanya tinggal di rumah sakit. Jam 9 malam Sumarni telpon dari Rumah Sakit. Katanya Rey sudah tenang, sudah aman. Sudah gak nangis lagi. 

Hatikupun tenang. Besoknya saat Oni ke Rumah sakit, aku kaget melihat kondisi  Rey ditempat tidur digendong mamanya. Mak Nora langsung menangis lagi. "Gimana ini Maaaa....? "Pak Norapun menangis sampai senggukan tersedu-sedu. 

Aiih macam diremas jantungku melihat mereka. Aku memeluk dan menenangkan parumaen dan memeluk anakku.  "Semangat ya.. Kita harus semangat, biar Rey juga semangat. Sudah terjadi, tak guna disesali. Fokus gimana supaya Rey cepat  sembuh".

Anakku Leonardo Damanik   yang ikut membezuk cuma tahan 1 menit di kamar Rey. Dia langsung keluar dan menangis, nggak tega liat Rey. Terus terang Oni sebenarnya shock lihat kondisi cucuku Rey. 

Wajahnya menghitam lebam karena kulitnya melentung dan sebagian terkelupas tapi lengket ke kulit yang lain. Lehernya membengkak. Ditambah kelopak matanya bengkak dan matanya tak bisa terbuka.
 
Mengerikan sekali. Dokter anak merujuk ke dokter mata, takut kalau kena ke syaraf mata. Pengen meraung aku disitu, tapi bagaimana caranya ??Anak-anakku dan cucuku juga sedang menangis.
 
Ajaibnya Tuhan memberiku kekuatan. Sejak kejadian aku tak pernah terlihat sedih atau menangis di depan mereka. Karena jika aku pun terlihat sedih, siapa lagi yang menghibur dan menyemangati mereka? 

Belum lagi aku mengurus Kak Nora (2,5 tahun). Karena  Mama dan Papanya 24 jam di Rumah sakit setiap hari. Hari ke 3 Rey harus  masuk ruang operasi. Pengangkatan kulit² yang terkelupas, supaya bersih. 

Aku di rumah saja menunggu khabar perkembangannya. Kalaupun  Oni ke RS tapi hanya sebentar saja, membawa Nora untuk ketemu mereka. Lalu pulang, karena tak baik juga Nora berlama² di RS.
 
Rey sudah terlihat bersih, matanya meskipun masih bengkak tapi sudah bisa melihat. Sudah jauh lebih baik dari sebelum dioperasi. Kepala dan wajahnya yang terkelupas  ditempeli perban obat.
 
Rey tenang dipangkuan mamanya dan bisa merespon saat diajak bermain oleh Kak Nora. Hari ke 4 Rey katanya semalaman tidak tidur  menangis terus , mungkin obat biusnya sudah tak aktif lagi. Sehingga terasa perih. 

Mak Nora terlihat kuyu sekali, matanya kelihatan lelah karena tak tidur juga. Begitulah kondisi mereka. 
Sementara Oni juga harus mengikuti berbagai Natal lagi di gerejaku. Harus menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang tau Rey opname. 

"Sudah bagaimana pahoppunya? ""Katanya sakit, sakit apa? ""Kok bisa? ""Macam mananya kejadiannya? "" Gimana cucu kita, sudah sembuh? ""Apa rendah rupanya tempat masaknya, kok bisa ketumpahan minyak panas? "

"Kek mana ceritanya? Lagi digendong mamaknya atau gimana? ""Dimana mamaknya kok sampai gak tau anaknya ke dapur? " "Bingung aku nggak ngerti ceritanya, jelaskan eda dulu, gimana awalnya kok bisa kesiram minyak goreng? "

"Aturannya kalok kena minyak panas trus kasi bla.. Bla.. Bla.. ""Kenapa sampai bla... bla.. bla.. " Dan banyak lagi pertanyaan serupa yang menanyakan apa, kenapa, mengapa, dst. Kalian aja bacanya sampai pening.  Apa lagi aku??! 

Dapat kalian bayangkan kondisi MENTAL Oni saat itu?? Saat tertekan karena semua ponjot, penuh sesak dalam dada. Khawatir pada Rey, gimanalah sakitnya dia itu, cacatkah wajahnya??, rusakkah kornea matanya?? 

Disaat yang sama dihujani pertanyaan² "penyelidikan" seperti itu. Terus terang itu membuat aku capek dan kesal. Kalian tau nggak. Kalau menceritakan peristiwa itu kembali, maka "kembali" lagi ketengangan dan kengerian itu timbul di otakku.
 
Karena kalau kita bicara kan pakai mulut dan otak/pikiran. Mengulang peristiwa itu lagi  sangat menyakitkan buatku. Dan harap diingat, bukan kamu saja yang bertanya. Ada banyak orang sebelum kamu dan ada yang lain lagi.
 
Kalaupun ada orang yang tersinggung atas jawabanku yang ketus, aku tak perduli. Tak sempat aku memikirkan perasaan orang lain. Aku saja sebagai mertua sampai saat ini  TIDAK  bertanya kepada menantuku KENAPA dan MENGAPA. 

Karena bagiku saat ini itu tak penting. Karena sudah terjadi. Yang TERPENTING adalah UPAYA bagaimana pengobatannya.  Aku tau ceritanya karena Mak Nora sendiri yang cerita saat menjelaskan ke dokter. 

Saat Mak Nora menggoreng naget, ntah dimanalah silapnya, tiba-tiba Rey udah didapur posisinya dia berdiri dan tangannya menggapai tangkai penggorengan. Langsung terbaliklah isi penggorengan itu sabur ke kepala Rey.
 
Di kesempatan ini juga Oni sharing pada kalian. Ini juga pengalaman dan  PELAJARAN berharga buat Oni pribadi. Jika aku punya teman atau siapapun yang sedang sakit, sakit apapun itu. Aku akan menjaga lisanku untuk tidak jadi detektif.
 
Lebih baik menguatkan yang sakit dan keluarga , untuk sabar dan kuat. Bagaimana pun penasarannya aku, aku akan sabar menunggu sampai yang sakit sembuh. Lebih enak untuk bertanya.

Tapi Oni, masa nanya aja gak boleh, kan biasa itu orang bertanya, nggak usah trus ngegas kali. Kita bertanya kan biar tau kek mana ceritanya, biar tau pula wak ambil pelajaran jangan terjadi nanti sama awak. (Kek gitulah kira-kira alasanmu) .

Kamu nanya?? Kamu bertanya-tanya???Bukan tak boleh bertanya, maksud Oni sekedar saja, jangan sampai mendetail kenapa, mengapa, kapan, kok bisa? Dari pertanyaan kita saja, jelas terlihat ke egoisan kita. 

Demi memenuhi hasrat ke ingin tahuan kita, demi rasa penasaran kita, demi supaya terjawab kepo kita. Kita tak perduli perasaan orang yang sedang capek lahir batin. Kalaupun kita tau kronologi sakitnya  buat apa???

Kutanya dulu, buat apa? Apa ada pengaruhnya langsung sama yang sakit???Apa berkurang rupanya rasa  sakit yang sakit itu?  Kan tidak! 

Tapi Oni kalau kita tau ceritanya, kan kita bisa kasi jalan keluar. Kita bisa kasi obat yang bagus, dokter mana yang bagus. Begini ya... sayang.
 
Kalau seseorang itu butuh bantuan, dia pasti cari tau. Kalau dia gak mau cerita, artinya dia gak perlu. Atau dia sudah punya upaya sendiri. Biarlah dulu itu dia jalani. Tanggal 26 Desember 2022, cucu Oni adeknya Bio tardidi (Baptis).
 
Karena situasi, kami tak buat pesta. Di tanggal yang sama parumaenku Mak Nora juga berulang tahun. Itu juga parumaenku Mak Bio yang bilang ke Oni. "Mah.... Hari ini ulang tahun kak Monika lho".

Waduh.... Gimanalah perasaan Mak Nora, ulang tahun tapi keadaan masih di rumah sakit. Langsung Oni telpon Mak Nora mau mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Sayang HP nya gak aktif, jadi Oni kirim pesan Whatshap saja.
 
Begitulah meskipun dalam keadaan prihatin Pak Nora tetap ingat menyiapkan tart ulang tahun buat istri tercintanya. Mereka merayakan ber 4 saja. Oni terharu melihat keluarga kecil ini.
 
Janji perkawinan saat mereka diberkati di altar benar-benar di laksanakan. Suka-duka dijalani bersama. Mungkin karena mereka menjalani musibah ini dengan ikhlas, pengaruhnya besar sekali terhadap perkembangan kesehatan Rey.
 
Pada tanggal 27 Desember 2022, saat dokter bedah visite beliau heran liat luka Rey mulai mengering. Dan dokterpun menawarkan apakah mau pulang? Pak Nora dan Mak Nora kaget.
 
Diluar ekspektasi mereka bahwa Rey diperbolehkan pulang lebih cepat. Suster mengajari gimana cara membersihkan luka dan mengoles obat Rey. Dan setiap 3 hari, Rey harus kontrol ke dokter. 

Oh ya.... Mata Rey normal tak ada masalah. Tahun 2022 sebentar lagi berlalu. Tahun yang penuh warna dan rasa. Biarlah kenangan manis dalam  tahun ini menjadi kenangan indah. Dan kenangan pahit menjadi pelajaran berharga. 

Reynard  Damanik bayi 11 bulan. Mengajari Oni tentang kesabaran dan ketangguhan. Kemarin Oni kecipratan minyak saat menggoreng ikan lele. Biarpun cuma kena letupannya sedikit, tapi pedihnya minta ampun .
 
Tiba-tiba aku ingat Rey. Ah.....Seberapalah ini dibandingkan sakitnya yang ditahankan Rey. Tiba-tiba hilang rasa pedih itu, tak kurasa lagi. Oni memang kek gitu orangnya. (Penulis Anita Martha Hutagalung/ Oni Anita M Hutagalung).
Share this article :

Post a Comment

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Nasib Pilu Parialus Saragih Sidauruk, 7 Terbaring Sakit Tanpa Pengomatan Medis

Nasib Pilu Parialus Saragih Sidauruk, 7 Terbaring Sakit Tanpa Pengomatan Medis
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

BERITA LAIN II