#LUKA_LAMA_MUNCUL_KEMBALI

Tuan Rondahasim Saragih dan Drs Djabanten Damanik.

Oleh: Wagner Damanik

Sejarah suku bangsa Simalungun memang berbeda dengan suku lain yang ada di Sumatera Utara. Simalungun merupakan wilayah Kerajaan yang terdiri dari Kerajaan Marompat lalu berkembang menjadi Kerajaan Marpitu. Masing-masing Kerajaan telah memiliki sistim pemerintahan yang jelas, baik kewenangannya begitu juga pembagian wilayahnya. 

Pemerintah Daerah sebaiknya memahami sejarah ini, agar dalam hal tertentu terutama menyangkut kearifan lokal, tidak salah dalam mengambil kebijakan,  karena merekalah “Simada Talun”, demikian juga permasalahan yang mengemuka belakangan ini tentang penggantian nama Balei Harungguan Djabanten Damanik ke Tuan Rondahaim Saragih Garingging.

Tuan Rondahaim diantara Kerajaan Marompat

Selain perjuangan melawan kolonial Belanda, Tuan Rondahaim alias Tuan Raya Namabajan/Namabisang juga memiliki kisah yang berbeda diantara Raja Marompat. Tuan Rondahaim dalam mengekspansi wilayah kekuasaannya selalu dengan cara kekerasan, menyerang dan membumi hanguskan dengan maksud ingin menguasai  wilayah partuanon lainnya. 

Wilayah kekuasaan Raja Marompat secara bergiliran diperanginya dengan maksud yang sama sehingga menimbulkan konflik horizontal/perang saudara (Buku Pusaha Pamatang Sipolha Simalungun oleh Sintua Djahutar Damanik).   

Partuanon Sidamanik, Tambunraya dan Sipolha merupakan bagian dari Kerajaan Siantar bermarga Damanik juga hendak dikuasainya hingga Rumah Bolon Tuan Sidamanik hangus dibakar. Rangkaian peristiwa ini tentu meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi Keluarga Partuanon. Kejadian seperti ini sering terjadi ditengah perjalanan sejarah Kerajaan di Simalungun.

Siapa Tuan Djabanten Damanik

Djabanten Damanik lahir di Sipolha, anak dari Tuan Sakkuda Humala Damanik Partongah Tuan Sipolha ke – 16. Orang tuanya juga korban Harimau Liar pimpinan Saragih Ras. Beliau memiliki rekam jejak mumpuni, salah satu tokoh yang turut serta berjuang dalam pembebasan Irian Barat (Trikora) dimasa pemerintahan Presiden Soekarno. 

Tugas birokrasi diawalinya dari Irian Barat (sekarang bernama Irian Jaya). Beliau dikenal sebagai pejuang Otonomi Daerah, pernah menjabat Sekretaris Daerah lalu menjadi Walikota Pematang Siantar kemudian Bupati Simalungun selama 2 periode. 

Beliaulah yang mendirikan SMA Plus Pematang Raya dan Beliau juga menginisiasi pemindahan ibukota Kabupaten Simalungun ke Pamatang Raya (PP No.70 Tahun 1999), bahkan ketika Walikota Siantar berupaya agar jenazah Raja Sangnauluh Damanik dibawa kembali ke Siantar namun Pemkab Bengkalis menolak, banyak lagi "legacy" yang ditinggalkannya baik di Siantar maupun di Simalungun.

Munculnya Luka Lama

Sekarang Tuan Rondahaim telah dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Kita semua patut bangga ada pahlawan nasional dari Simalungun, namun jangan juga kehadirannya ternodai dengan kebijakan yang tidak etis yaitu menurunkan/menghapus nama Djabanten Damanik yang sudah berpuluh tahun diabadikan di Balei Harungguan Pemkab Simalungun. 

Bagi yang memahami sejarah, hal ini tidak bakal terjadi mengingat kisah perjalanan Tuan Rondahaim diantara Kerajaan Marompat. Tindakan ini hanya  memunculkan luka lama yang justru selama ini sudah terlupakan. Sebaiknya Pemkab Simalungun meninjau kembali kebijakan tsb, karena kedua tokoh ini sudah menjadi milik masyarakat lokal maupun nasional. 

Masih banyak cara lain yang lebih elegan yang bisa dilakukan Pemkab Simalungun agar Tuan Rondahaim sebagai pahlawan nasional lebih dikenal dikalangan masyarakat luas. Mari kita sama-sama membangun kekerabatan yang bermartabat, tanpa mengecilkan orang lain agar kondusifitas tetap terpelihara guna mewujudkan Simalungun yang hebat. #Salam_Habonarondo_Bona. (Penulis Adalah Ketua TDBP Se Dunia)

0 Komentar

 





 


 



https://linktr.ee/asenkleesaragih