Rumah Sakit Betesda GKPS Pamatangraya: Warisan Iman yang Kian Terabaikan

Rumah Sakit Betesda GKPS Pamatangraya: Warisan Iman yang Kian Terabaikan. (Foto IST)

Pamatangraya, BS - Rumah Sakit Betesda GKPS Pamatangraya bukan sekadar bangunan pelayanan kesehatan. Ia adalah warisan iman, buah dari pengorbanan, doa, dan pelayanan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) yang dahulu hadir sebagai jawaban atas jeritan umat dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang manusiawi dan berlandaskan kasih Kristus.

Namun hari ini, pertanyaan pahit harus diajukan dengan jujur, apa sebenarnya nasib Rumah Sakit Betesda GKPS Pamatangraya kini?

Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang layak, nama Betesda justru kian jarang terdengar. Fasilitas yang dulu menjadi kebanggaan pelayanan GKPS, kini seolah kehilangan arah, perhatian, bahkan roh pelayanannya. 

Kondisi ini tidak hanya memprihatinkan, tetapi juga melukai rasa kepercayaan umat GKPS yang selama ini memandang Betesda sebagai perpanjangan tangan gereja dalam pelayanan diakonia.

Krisis Pengelolaan, Bukan Krisis Panggilan

Harus ditegaskan, yang bermasalah bukanlah panggilan pelayanan GKPS di bidang kesehatan, melainkan pengelolaan yang tidak serius, tidak profesional, dan kurang mendapat perhatian strategis dari pimpinan tertinggi gereja.

Rumah sakit tidak bisa dikelola dengan setengah hati. Ia membutuhkan, kepemimpinan yang kuat dan berintegritas, manajemen profesional dan transparan, dukungan kebijakan dari Sinode, serta visi pelayanan jangka panjang yang jelas.

Tanpa itu, Betesda hanya akan menjadi monumen bisu kegagalan tata kelola, bukan alat kesaksian gereja di tengah masyarakat.

Panggilan Moral Bagi Pimpinan Sinode GKPS

Pimpinan Sinode GKPS tidak bisa lagi bersikap diam atau menunda. Setiap hari keterlambatan adalah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan martabat pelayanan gereja. 

Jika GKPS mampu membangun gereja, sekolah, dan berbagai lembaga pelayanan lainnya, maka tidak ada alasan untuk membiarkan rumah sakit milik gereja terpuruk.

Umat bertanya dengan nada getir, ke mana arah kebijakan Sinode terhadap aset pelayanan kesehatan GKPS? Apakah Betesda masih dianggap bagian penting dari misi gereja? Ataukah dibiarkan mati perlahan tanpa keberanian mengambil keputusan besar?

Diamnya pimpinan bukanlah sikap netral. Dalam konteks ini, diam adalah pembiaran. Saatnya Bertindak, Bukan Sekadar Berwacana. 

Sudah waktunya Sinode GKPS melakukan evaluasi menyeluruh dan terbuka atas kondisi RS Betesda Pamatangraya, menunjuk pengelola profesional yang kompeten dan berpengalaman, membuka ruang kerja sama strategis dengan pihak ketiga tanpa kehilangan identitas gerejawi, serta melibatkan umat secara transparan dalam upaya penyelamatan dan pengembangan rumah sakit.

Betesda harus kembali menjadi rumah kesembuhan, bukan hanya bagi pasien, tetapi juga bagi wibawa dan kesaksian GKPS di tengah masyarakat Simalungun.

Jika GKPS sungguh percaya bahwa pelayanan kesehatan adalah bagian dari Injil yang hidup, maka Rumah Sakit Betesda GKPS Pamatangraya tidak boleh dibiarkan terabaikan. Ini bukan sekadar soal aset, tetapi soal tanggung jawab iman, moral, dan sejarah gereja.

Pimpinan Sinode GKPS ditantang untuk memilih, menyelamatkan Betesda sebagai tanda kasih dan keberanian, atau membiarkannya tenggelam sebagai catatan kelam kelalaian. Umat menunggu. Sejarah mencatat. Tuhan menilai.(BS-AsenkLeeSaragih) 




0 Komentar

 





 


 



https://linktr.ee/asenkleesaragih