Ephorus HKBP Pdt Victor Tinambunan Prihatin Atas Peristiwa Seorang Siswa Kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT Putus Asa Karena Kemiskinan


Medan, BS - Opui Ephorus (Pimpinan tertinggi) Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pdt Victor Tinambunan, MST prihatin dan sedih atas peristiwa seorang Siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, berinisial YBS, mengakhiri hidupnya sendiri di sebuah pohon cengkeh Kamis (29/1/2026) pekan lalu. Sebelum anak berusia 10 tahun itu meninggal dunia, ia sempat meminta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya. Namun, karena tak mempunyai uang, sang bunda tak bisa memenuhinya.

"Hati kita remuk mendengar tragedi kemanusiaan yang terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang bocah mengakhiri hidupnya diduga karena himpitan kemiskinan. Sang ibu tak sanggup membeli buku dan pena, alat sederhana yang seharusnya menjadi jembatan harapan menuju masa depan,"tulis Pdt Victor Tinambunan lewat akun media sosial.

"Surat yang ditinggalkan bocah itu bukan sekadar catatan duka, melainkan jeritan nurani yang ditujukan kepada kita semua, termasuk kepada pemerintah yang kita hormati. Barangkali ya, barangkali, yang sangat dibutuhkan banyak warga negeri ini adalah jaminan nyata atas pendidikan yang sungguh-sungguh gratis. Termasuk buku dan alat tulis yang paling dasar,"tambah Pdt Victor Tinambunan.

"Kami percaya, Bapak dan Ibu yang mengemban amanat mengurus bangsa dan negara memiliki kebijaksanaan, kemampuan, dan tanggung jawab moral untuk melakukan kajian yang jujur, mendalam, dan objektif—serta, yang paling penting, mengambil langkah nyata agar tragedi serupa tidak terulang,"ujar Pdt Victor Tinambunan.

Ephorus HKBP Pdt Victor Tinambunan secara khusus meminta kepada seluruh warga HKBP, marilah kita saling peduli dan menjaga satu sama lain. Jangan biarkan ada satu pun saudara kita yang kehilangan harapan, apalagi kehilangan nyawa, karena kemiskinan dan keterbatasan.

"Kita telah diberkati oleh Tuhan, kini saatnya kita sungguh-sungguh menjadi berkat, mulai dari lingkungan kita hingga melintas "tembok" gereja ke yang lebih luas,"kata Ephorus Pdt Victor Tinambunan.

Pdt Mardison Simanjorang juga menuliskan lewat media sosial, Ironi Indonesia " Katanya Negeri paling bahagia di dunia  tapi anak umur 10th bunuh diri gara gara tak mampu beli buku. Katanya sudah  berhasil membuka 1 Juta lapangan kerja lewat MBG namun 20 ribuan anak sekolah keracunan MBG," tulis Pdt Mardison Simanjorang.

Foto Ilustrasi

Keprihatinan Se Indonesia

Lewat media sosial, warganet se Indonesia menyampaikan keprihatinan yang cukup besar atas peristiwa di Ngada NTT. Lewat artikel, semua menuliskan secara gamblang rasa keprihatinan untuk Indonesia saat ini. 

Siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berinisial YBS, mengakhiri hidupnynya sendiri di sebuah pohon cengkeh. Sebelum anak berusia 10 tahun itu meninggal dunia, ia sempat meminta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya. Namun, karena tak mempunyai uang, sang bunda tak bisa memenuhinya.

Peristiwa ini menyisakan luka batin yang luar biasa bagi keluarga dan warga tempat tinggalnya, Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu. 

Bernardus H Tage, Camat Jerebuu, mengatakan peristiwa menyakitkan itu terjadi pada Kamis (29/1/2026) pekan lalu.

"Di pohon cengkih dekat rumah neneknya. Anak itu tinggal bersama neneknya yang sudah berumur 80 tahun. Ibu dan bapaknya tinggal di kampung sebelah," kata Tage, dikutip hari Kamis (5/2/2026).

Dia menjelaskan, YBS ditemukan sudah tak bernyawa pada Kamis siang oleh warga setempat yang kebetulan tengah mengurus kerbau di sekitar rumah nenek korban. Kamis paginya, kata Tage, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah. Padahal pagi itu ia seharusnya bersekolah.

Sebelum anak berusia 10 tahun itu meninggal dunia, ia sempat meminta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya. "Namun, karena tak mempunyai uang, sang bunda tak bisa memenuhinya. Ayahnya sudah meninggal saat YBS ada di kandungan," kata Tage.

Surat untuk Mama.

Menurut para tetangga, YBS adalah anak baik, jarang terlihat sedih, dan juga rajin belajar meski secara perekonomian sangat kekurangan. Setelah ditemukan meninggal dunia, aparat Polres Ngada juga mengonfirmasi menemukan secarik kertas bertulis tangan memakai bahasa daerah setempat.

Isinya adalah surat perpisahan YBS kepada sang ibu dan keluarga. "Surat untuk mama. Saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya mama. Jangan pula Mama mencari atau merindukanku. Selamat tinggal mama.

Kisah Pilu dari Timur Indonesia

Ia masih anak SD. Tangannya kecil. Mimpinya sederhana. Ia hanya ingin bisa belajar seperti teman-temannya. Beberapa hari sebelum ia pergi, ia pulang dari sekolah dengan kepala tertunduk. Di tasnya tak ada apa-apa selain kertas tugas yang belum bisa ia kerjakan. Ia meminta sesuatu yang nilainya bahkan tak seharga sebungkus rokok, buku dan pensil.

Ibunya terdiam. Bukan karena tak mau. Tapi karena tak punya. Di rumah itu, tak ada lemari buku. Tak ada meja belajar. Yang ada hanya dapur sunyi dan perhitungan uang yang selalu kalah oleh kebutuhan hidup. Anak itu mendengar kata yang sama berulang kali, kata yang tak pernah kejam, tapi selalu melukai,  “Nanti, ya.” “Nanti” yang tak pernah datang.

Malu yang terlalu berat untuk anak kecil. Di sekolah, ia melihat teman-temannya menulis. Pensil mereka bergerak cepat, seakan tak pernah ragu. Ia menunduk. Ia tahu gurunya menunggu. Ia tahu tugas harus dikumpulkan. Tapi ia juga tahu, ia tak punya apa-apa untuk menulis.


Rasa malu itu tidak berisik. Ia tidak menangis keras. Ia hanya menumpuk pelan-pelan di dada anak kecil itu. Hingga suatu hari, ia tak lagi datang ke sekolah. Bangkunya kosong. Namanya dipanggil. Tak ada jawaban.

Yang tersisa hanyalah kabar yang membuat satu desa terdiam, satu keluarga hancur, dan satu bangsa seharusnya menunduk malu: seorang anak SD meninggal setelah tekanan hidup yang terlalu berat, karena kemiskinan dan ketidakmampuan membeli buku serta alat tulis.

Ia tidak pergi karena tak ingin hidup. Ia pergi karena hidup terasa terlalu berat untuk anak seusianya. Triliunan anggaran, tapi buku tak sampai. Pada saat yang sama, negara berbicara tentang program-program besar. Anggaran digelontorkan. Spanduk dibentangkan. Kata-kata seperti “masa depan”, “gizi”, dan “generasi emas” diucapkan dengan penuh percaya diri.

Namun di satu rumah kecil, buku dan pensil tak pernah datang. Apa arti program besar jika anak-anak masih tumbang oleh hal paling dasar?

Apa arti slogan jika seorang anak kalah bukan oleh pelajaran, tapi oleh kemiskinan? Anak itu tidak butuh pidato. Ia tidak butuh konferensi pers. Ia hanya butuh alat untuk belajar.

Yang hilang bukan hanya satu nyawa. Kematian ini bukan sekadar berita. Ini adalah tuduhan sunyi terhadap sistem yang gagal melindungi yang paling lemah. Yang hilang bukan hanya seorang anak.

Yang hilang adalah, satu cita-cita yang tak sempat tumbuh, satu bangku sekolah yang akan selamanya kosong, dan satu pertanyaan yang akan menghantui kita, bagaimana mungkin anak mati karena tak mampu membeli buku?


Ibunya kini memeluk penyesalan yang bukan miliknya. Negara seharusnya memeluk tanggung jawab yang tak boleh dihindari.

Jangan biarkan ini menjadi angka. Jika tragedi ini hanya lewat sebagai berita harian, maka kita semua gagal. Jika ini hanya jadi statistik, maka tak ada pelajaran yang benar-benar dipelajari.

Anak-anak tidak seharusnya memilih antara sekolah dan rasa malu. Mereka tidak seharusnya memikul beban ekonomi yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup. Dan tidak boleh lagi ada anak yang merasa hidupnya lebih murah dari sebuah buku dan sebatang pensil.

Catatan penting untuk pembaca. Tulisan ini mengangkat tragedi nyata dan sangat menyedihkan. Jika kamu atau orang di sekitarmu, termasuk anak mengalami tekanan berat, rasa putus asa, atau tanda-tanda ingin menyakiti diri, tolong cari bantuan segera. Meminta bantuan adalah bentuk keberanian.(BS-AsenkLeeSaragih/Berbagaisumber)

0 Komentar

 





 


 



https://linktr.ee/asenkleesaragih