}); RS Edan!!! Ibu Cacat Tewas Memeluk Bayi | BeritaSimalungun
Home » » RS Edan!!! Ibu Cacat Tewas Memeluk Bayi

RS Edan!!! Ibu Cacat Tewas Memeluk Bayi

Written By GKPS JAMBI on Friday, 27 July 2012 | 23:24

Butuh Operasi, Pasien Jampersal Ditelantarkan
SIANTAR-PM
Uang !!! Itulah pangkal soal seorang pasien miskin yang ditelantarkan saat melahirkan di RSU dr Djasamen Saragih, Pematang Siantar, kemarin (23/7). Sang ibu tewas bersama bayinya.
Hormaida boru Sidabutar (36), pasien nahas yang bertangan buntung, itu tewas sesaat usai melahirkan bayi keduanya yang sempat terdengar mengeluarkan tangisan sebelum akhirnya turut meninggal dunia. Insiden maut di sela persalinan warga Jl. Narumonda Bawah, Gg. Saroha, Kel. Kebun Sayur, Siantar Timur, ini sontak menimbulkan kericuhan di rumah sakit milik Pemko Pematang Siantar itu.

Togar Samosir (35), suami Hormaida, tak terima dengan kematian istri dan anaknya. Protes senada juga dilontar adik Hormaida, Minda Sidabutar (34). Mereka tak mau membawa jenazah Hormaida dan bayinya sebelum manajemen RS dr Djasamen Saragih mengakui insiden itu sebagai mal-praktek dan mempertanggungjawabkan peristiwa maut itu.

Menurut Togar, saat dibawa ke rumah sakit itu, istrinya masih segar bugar. Cerita bermula Minggu (22/7) sore lalu. Saat itu, sekira pukul 18.00 WIB, Hormaida merasakan perutnya mules. Kandungannya memang telah bulan kesembilan.

Togar lalu membawa istrinya ke rumah bidan R Manurung di Jl. Narumonda Bawah, Gg. Cabe, Siantar Timur, atau sekira 200 meter dari rumah kontrakannya.

Sang bidan lalu mengatakan masa persalinan Hormaida tiba. Karena itu, ia menyuruh Hormaida berbaring, istirahat di tempat tidur ruang praktiknya.  Sekitar pukul 21.00 WIB, Hormaida merasakan perutnya semakin mules.

Karena kondisinya sangat lemah, sang bidan menyarankan Hormaida segera dibawa ke rumah sakit. Hormaida sangat lemah karena kondisi tangan kirinya yang buntung. Itu yang membuatnya sulit untuk mengeden.

Sekira pukul 23.00 WIB, dibantu Minda Sidabutar, Togar membawa istrinya ke RSU dr Djasamen Saragih. Bidan R boru Manurung juga turut serta. Setiba di rumah sakit itu, karena kondisinya sangat lemah, sang bidan meminta pihak medis di sana menggelar operasi caesar untuk proses persalinan Hormaida. Namun karena dokter spesial kandungan rumah sakit itu belum tiba, Hormaida disuruh berbaring dahulu.

Tapi hingga dini hari pukul 01.30 WIB, dokter yang ditunggu tak juga datang. Saat itu kondisi Hormaida telah semakin menunjukkan tanda-tanda segera melahirkan. Ia telah mengalami pecah ketuban dan ’buka satu’ (istilah persalinan red). “Di sinilah para perawat itu atau pegawailah itu namanya aku tak tahu, justru memaksakan istriku melahirkan secara normal, bukan operasi,” geram Togar.

Proses melahirkan yang memakan waktu lebih sejam atau sekitar pukul 03.00 WIB, akhirnya membuat Hormaida berhasil melahirkan bayi laki-laki. Tapi sesaat usai melahirkan, wajahnya mendadak pucat bak kapas. “Dia mengalami bludding dan itu membuat kakakku lemas dan tak ada pergerakan,” jelas Minda.

Kondisi Hormaida yang jadi tampak kritis usai melahirkan kontan membuat Togar syok tak karu-karuan. Ia lalu memaksa pihak medis yang rata-rata perawat berstatus magang itu segera membawa istrinya ke ruang ICU. Edan!!! Permintaan mendesak itu, menurut Togar, malah dijawab dengan segala tetek bengek prosedur yang ujung-ujungnya: duit.

Saat ngotot mendesak medis membawa istrinya ke ruang ICU itulah sang bayi mendadak tewas. Dan tak sampai 10 menit kemudian, Hormaida pun ‘menyusul’. Ibu tewas dengan kondisi memeluk mayat bayinya. Kondisi tragis itu kontan membuat Togar dan sanak saudaranya menangis histeris.

“Jujur aku menggunakan Jampersal (Jaminan Persalinan) untuk proses persalinan ini, makanya aku yakin pihak rumah sakit jadi tidak serius menanganinya. Aku kecewa karena mereka sama sekali tidak bertanggungjawab!!!” geram Togar, sangat emosi.

Atas insiden ini, Wakil Direktur (Wadir) III RSU dr Djasamen Saragih, dr Maya Damanik hingga kemarin mengaku pihaknya masih menggelar investigasi para perawat yang menangani proses persalinan maut Hormaida dan bayinya. “Kita akan bertanggungjawab dan akan menemui keluarga korban guna membantu sekedar tapi itu bukan berarti kita mengakui kesalahan ada di pihak kita (rumah sakit),” tegas dr Maya pada POSMETRO.

Pengakuan dr Maya yang akan mengutus orangnya ke rumah duka keluarga Hormaida ternyata bohong. Setidaknya hingga kemarin malam pukul 20.00 WIB, Togar yang dikonfirmasi, mengaku tidak ada menerima kedatangan utusan dari manajemen RS dr Djasamen Saragih.

Togar, yang usai insiden itu akhirnya membawa jenazah istri dan bayinya ke kampung halaman di Parbeokan, Huta Pardomuan Nauli, Nagori Tangga Batu, Kec. Hatonduhan, Simalungun (sekira 40 Km dari Pematang Siantar), mengaku diiming-imingi pihak rumah sakit yang mengaku akan memberi ganti rugi atas kesalahan dalam prosedur penanganan persalinan Hormaida.

 “Salah seorang perawatnya mengatakan itu pada kami saat aku menolak membawa mayat istri dan anakku. Kalau keluargaku akan diberi ganti rugi atas kesalahan medis itu. Tapi apa!? Mereka memang jahat dan pembohong!” Togar sangat emosi. “Pembunuh orang itu, Bang,” timpal Milda pada POSMETRO.

Kematian tragis Hormaida juga membuat syok anak pertamanya, Welly Samosir. Saking syok, bocah berumur 2,5 tahun itu beberapa kali pingsan. Welly, bocah pintar, itu syok karena ia melihat langsung detik-detik ibu dan adiknya itu meninggal.

Akibat insiden itu, Togar, yang supir Angkot, itu berjanji akan membawa kasus ini ke pihak berwajib. “Kalau memang mau melahirkan normal saja, kenapa harus dibawa bidan itu (istriku) ke rumah sakit. Harusnya dioperasi, tapi dia dipaksa melahirkan dengan kondisi lemah,” ungkap Togar sambil menangis. Hingga kemarin, POSMETRO yang turun ke rumah duka, masih menyaksikan suasana histeris di sela tubuh kaku Hormaida yang tangan kirinya buntung, bersemayam di samping jenazah bayinya. (Posmetro-medan)
Share this article :

Post a Comment