Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Tragedi Maut di Jalan Parapat

Beram Itu, Jebakan Maut

Minibus terjun bebas ke jurang di Sibaganding, dekat Batu Gantung, Parapat. Delapan orang tewas. Tragis dan perih. Dan, kita tidak pernah tahu betapa menakutkan dan menegangkan situasi itu. Ketika minibus keluar dari jalur, masuk ke beram dan meluncur ke jurang, kita tahu: jiwa para penumpang berkecamuk, takut, frustasi hingga akhirnya padam.

Human eror disebut-sebut sebagai penyebab kecelakaan ini, supir ngantuk. Kebetulan sebuah truk muncul dari arah berlawanan dan di pinggir teronggok material. Terlepas dari dugaan penyebab kecelakaan itu, harus diakui bahwa infratruktur jalan dari Simalungun menuju Toba hingga kawasan Pantai Barat memang sangat berbahaya dan mengancam. Jalan sempit, penuh tikungan, tanjakan, turunan dan tidak dilengkapi dengan pembatas jalan. Lubang-lubang tersebar di badan jalan seperti mata maut. 

Kondisi itu diperparah beram jalan yang sangat dalam. Jangankan mobil atau minibus, moda angkutan darat seperti truk sekalipun bisa amblas jika tergelincir ke beram jalan yang seolah-olah menjadi jurang bagi lapisan aspal. Beram itu seperti jebakan maut yang siap menerkam setiap pengguna jalan. Kondisi berbahaya itu mulai kelihatan dari Panatapan, Parapat, titik di mana minibus itu masuk jurang.

Terlepas dari penyebab kecelakaan itu, beram jalan ini menjadi diskusi penting ketika kami (saya bersama GM Metro Siantar Grup Marganas Nainggolan dan Wakil GM Maranata Tobing) melakukan duty tour dua minggu lalu ke Asahan, Tanjungbalai, Labuhan Batu, terus ke Padanglawas Utara, Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, lalu naik lagi ke Tapanuli Utara, Tobasa hingga kembali ke Siantar-Simalungun.

Dari Siantar hingga Kota Pinang, infrastruktur relatif sudah bagus. Dari Kota Pinang menuju Sidimpuan, juga masih relatif baik meskipun jalan mulai menyempit. Dari Sidimpuan ke Sibolga, kerusakan di sana-sini mulai terlihat dan tak nyaman lagi dilalui. 

Dan kengerian yang mencekam terasa sepanjang Sibolga-Tarutung. Kewaspadaan dan ketenangan mutlak dibutuhkan sepanjang rute penuh tikungan itu. Tapian Nauli terasa sangat jauh, terasa menjadi tamadun yang angker untuk didatangi dan ditinggalkan.

Perjalanan darat itu meninggalkan sebuah kesimpulan bahwa infrastruktur menuju Labuhanbatu hingga perbatasan Riau yang relatif baik, sangat kontras dengan infrastruktur ke kawasan Toba yang hancur-hancuran. Ketimpangan pembangunan terasa di situ. Konsep otonomi daerah tampaknya belum memiliki dampak maksimal di wilayah Tapanuli: sejauh mana sesungguhnya kemampuan para kepala daerah di kawasan ini melobi pusat untuk memperbaiki jalan itu?

Atau, harapan itu mungkin terlalu muluk-muluk. Atau kita aminkan saja bahwa para kepala daerah tidak memiliki kemampuan lobi dan bargaining. Tapi paling tidak, sebagai satu upaya melayani warga, beram jalan itu, jebakan maut itu, harus segera ditanggulangi dan diperbaiki. Jika tidak, kecelakaan akan senantiasa mengintai. Perhatian mutlak harus dimulai dari Parapat hingga Sibolga. 

Jika pemerintah serius, anggaran yang dibutuhkan untuk menyisip beram itu tidak terlalu berat. Ya, beram jalan itu harus disisip.
Selain ancaman kecelakaan lalu lintas, kondisi beram yang dalam dan kerusakan jalan juga sangat berdampak pada kelangsungan aktivitas ekonomi. Biaya distribusi barang-barang akan bengkak, perusahaan-perusahaan ekspedisi akan merugi, sparepart kendaraan mudah aus, jarak tempuh antar wilayah akan sangat panjang. Dan yang pasti, kerugian sosial dan kemanusiaan terlalu mahal ditanggungkan untuk jiwa-jiwa yang melayang di jalanan. (Panda MT Siallagan, Pemred Metro Siantar/Metro Tapanuli)

Evakuasi Sulit


Proses evakuasi korbanProses evakuasi korban
Anggota TNI, Polisi dan Tim Sar yang melakukan evakuasi korban, merasa kesulitan karena medan tempat kejadian sangat terjal. Mobil L300 BK 1170 XO tersangkut di batang pohon di kemiringan 85 derajat dan kedalaman 150 meter. Sedangkan para korban saat itu ditemukan terpisah-pisah.

Pantauan METRO, polisi, TNI, Tim Sar dan wartawan yang melakukan peliputan turun ke lokasi menggunakan tali nilon ukuran besar. Dari jalan besar sampai lokasi penemuan mobil, turun menggunakan tali nilon menghabiskan waktu sekitar 30 menit.

Ironisnya, dalam melakukan evakuasi polisi, TNI dan Tim Sar tidak dilengkapi peratalatan yang lengkap, seperti karung tempat mayat, tali, dan lain sebagainya. Akibatnya tapak tangan yang turun ke lokasi bengkak dan lecet.  Nampak turun ke lokasi saat itu Waka Polres Simalungun Kompol Amri, Kanit Laka Iptu Alsem Sinaga, puluhan anggota TNI dari 126 Kala Cakti, Tim Sar dan polisi. Wartawan dari media cetak dan elektronik nampak sibuk mengambil gambar.
Proses evakuasi korban oleh polisi dan warga setempat.Proses evakuasi korban oleh polisi dan warga setempat. 




























Saat melakukan peliputan, 2 orang wartawan mengalami luka di kepala akibat pecahan batu yang berjatuhan dari atas. Selain wartawan, seorang tim evakuasi mengalami hal yang sama. Tim evakuasi, satu per satu menurunkan korban ke bawah dengan bantuan tali dan tandu. Yang diutamakan dibawa ke bawah, korban yang ditemukan masih dalam kondisi bernyawa. Untuk mengevakuasi korban sampai ke bawah tepi pantai, memakan waktu sampai 45 menit. Semua korban berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian berakhir pukul 16.00 WIB.

Para korban dibawa dari tepi pantai Sibaganding ke Pantai Bebas menggunakan 4 unit kapal milik Perusahaan Aquafarm. Kemudian dari Pantai Bebas, seluruh korban dibawa ke Siantar. Korban yang tak bernyawa dibawa ke Instalasi Jenazah RSUD dr Djasamen Saragih untuk dilakukan visum, dan korban selamat dirawat di RS Vita Insani.
Sampai pukul 17.30 WIB tadi, mobil L300 BK 1170 XO belum bisa ditarik alat berat dari lokasi kejadian. Petugas kesulitan menarik mobil tersebut, karena terhalang pohon besar di sepanjang perbukitan Sibaganding. 

 Aku Selamat, Mak!

SarnoSarnoPARAPAT- Sarno (42), anggota TNI yang ikut dalam mobil Taksi Kita Bersama (TKB) BK 1170 XO, jurusan Sidimpuan-Medan (P/P) itu tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Ia salah seorang penumpang selamat dalam musibah mobil minibus jenis L300 yang terjun ke jurang Sibaganding, Kamis (28/6) pukul 05.00 WIB.

“Aku selamat Mak ,” kata Sarno, pada istrinya saat berbicara lewat telepon genggam milik kerabatnya Esman Manurung SAg, di UGD Rumah Sakit Umum Parapat, Kamis (28/6). Namun Esman, kerabatnya yang menjenguk korban di rumah sakit tampak tersenyum. 

Menurut pria plontos yang mengaku di BKO-kan dari kesatuannya di PT Anugerah Madina ini, lenih baik bercanda dengan istri daripada menahan sakit. Lagi pula katanya, kalau dia bercerita tentang kisah naas yang baru saja dialami kemungkinan istrinya itu bisa shock. Dia menyadari bahwa Tuhan telah memberinya kesempatan hidup. Sebab jika dilihat dari kondisi medannya yang curam, ia tak yakin bisa selamat. “Alhamdulilah, aku masih diberikan kesempatan hidup,” ungkap Sarno berulangkali.

Masih kata Sarno, sesaat sebelum kejadian ia tertidur pulas dalam mobil. Ia baru terbangun begitu menyadari mobil terjun dan terbalik-balik di jurang. Menyadari dalam bahaya, ia langsung menendang pintu samping dan terlempar ke luar. Kemudian saat terjatuh itu ia berusaha meraih dahan kayu yang tumbuh di antara bebatuan tebing suram itu.

 “Ketepatan aku kan duduk di bangku dua, di belakang supir persis di dekat pintu kiri mobil. Makanya begitu kutendang pintu langsung terbuka, aku terlempar. Saat itu aku berusaha meraih dahan kayu sehingga tubuhku tidak langsung disambut bebatuan di tebing itu.

Tapi pinggangku masih terasa sakit. Kalau soal luka, hanya luka ringan di bagian tangan, kaki saja. Lalu ada luka memar di dahi. Kalau luka begini mudah-mudahan tak apa-apalah, yang penting selamat,” ujarnya. Lanjut Sarno, begitu menyadari dirinya selamat, pelan-pelan ia merayap menyusuri tebing jurang. “Memang aku ada mendengar suara jeritan minta tolong dari atas, tapi aku tak mampu lagi memanjat tebing itu. Sehingga aku memilih berdiam sambil menunggu bantuan datang,” katanya.

Tak lama kemudian, doanya dikabulkan. Sejumlah tim evakuasi tiba di lokasi. Kemudian ia dibopong menuruni tebing sejauh kurang lebih 150 meter sampai ke bibir pantai. “Begitu sampai di bibir pantai, aku buka seluruh pakaianku dan langsung nyebur ke danau. Saat itu, aku kembali bersyukur pada yang kuasa karena telah diberikan keselamatan,” ujarnya.  Setelah itu, ia dievakuasi naik kapal feri dan dibawa ke rumah sakit umum Parapat.

Kakak-Adik Selamat dari Maut

Tiga orang yang selamat dari kecelakaan tragis tersebut yakni, Mei Nanur (10) Sakti Awin (5) dan Marwan (20). Mereka bertiga dirujuk oleh RS Parapat ke RS Vita Insani Siantar. Kondisi Mei Nanur dan Sakti Awin yang merupakan kakak adik tersebut cukup memprihatinkan. Di ruang IGD terlihat sekujur tubuh kedua anak ini luka, seperti di bagian kepala, wajah dan tangan. Khususnya Sakti Awin mengalami patah tulang kaki sebelah kanan.

Setelah mereka dirawat dan di scaning oleh pihak rumah sakit, mereka pun dipindahkan ke kamar 321 Lantai 3 RS Vita Insani. Salah seorang sanak keluarganya bernama Zulhairir (20) yang tinggal di Medan saat menemani kedua anak tersebut di RS Vita Insani mengatakan, dia mendapat kabar dari Mandailing Natal minibus yang ditumpangi keluarganya jatuh ke jurang. Sebelumnya rencana kedua anak ini bersama ibunya Fadianur hendak ke Medan untuk liburan sekaligus ada acara keluarga.

Namun naas, mobil yang mereka tumpangi kecelakaan. Sehingga ibunya yang berada di dalam minibus tersebut ikut tewas bersama 7 penumpang lainnya.  Akan tetapi kedua anak yang masih kecil ini selamat dari maut, namun mereka harus dirawat karena mengalami luka yang cukup serius. Sakti Awin yang mengenakan kemeja merah terlihat hanya menangis serta memanggil ibunya. Akan tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa, sebab dia masih diinfus dan kaki kanannya harus dipasang kayu karena patah.

Sedangkan kakaknya Mei Nanur yang juga berada di ruangan yang sama juga terbaring lemas. Di wajahnya terlihat beberapa perban menutup luka. Sedangkan selang bantuan pernafasan juga terpasang di hidungnya. Ia mengaku saat itu bersama dengan ibunya Faidunur. Sementera itu ia tidak dapat mengingat kenapa bisa selamat dari peristiwa tesebut.

Pada ruangan lain di RS Vita Insani, salah seorang penumpangnya bernama Marwan (20), ijuga dirawat.  Marwan adalah supir dua minibus tersebut, dan saat kejadian ia sedang berada di bagasi belakang untuk tidur. Sehingga ia tidak mengatahui bagaiamana awal kejadiannya.  Dia mengatakan, dari Natal ke Sitinjak mobil dikemudikan Parlindungan Harahap dan kemudian mereka berhenti di kampung Sitinjak.

Kemudian Marwan menggantikannya sebagai supir hingga ke Balige. Di Balige mereka bersama penumpang yang lain beristrahat. Parlindungan pun kembali memegang setir, sementara Marwan istirahat di bagasi. Akibat kejadian itu, Marwan tidak mengalami luka yang serius, akan tetapi bagian kepala dan badannya mengalami pening serta pegal, karena dia sempat terguncang saat mobil terjun.

2 Mayat Dibawa ke Medan

Sekitar pukul 15.30 WIB dua jenazah tiba di RS Dajasamen Saragih Siantar. Keduanya yakni, Maieva (26)  dan Muhammad Basri (WNA). Kedatangan kedua jenazah tersebut mengundang perhatian warga, apalagi mendengar beberapa informasi kecelakaan tragis di Parapat. Salah seorang sanak keluarga Maieva beberapa menit kemudian tiba di lokasi dan langsung menangis.

Fitri yang tinggal di Medan menyebutkan, dia mendapat kabar dari kelaurganya di Natal bahwa keluarganya mengalami musibah karena minibus yang ditumpangi jatuh ke jurang. Selanjutnya dari Medan, dia langsung berangkat, namun di Siantar ia mendapat kabar lagi bahwa mayat tersebut sudah dibawa ke Ruang forensik RS Umum Djasamen.

Menurutnya Maieva berangkat bersama ibunya bernama Esnaniah hendak ke Medan menuju rumah keluarganya. Namun kejadian tersebut tidak terhindarkan sehinga Esnaniah juga ikut tewas pada persitiwa tersebut.  “Mereka berdua akan kami bawa ke Medan Jalan Gaperta, disanalah nanti dikebumikan,” sebut Fitri.

Sekitar 30 menit kemudian, dua unit mobil ambulans masuk ke Ruang Forensik dan membawa 6 orang mayat. Namun karena ruang untuk visium hanya muat untuk dua mayat, terpaksa mayat yang lain harus diletakkan di lantai, dibungkus dengan plastik.

Akan tetapi, petugas forensik tidak menemukan identitas apa pun di tubuh korban, sehingga sulit membuat pendataan nama korban yang tewas untuk divisium. Bahkan dari enam mayat tersebut, pihak keluarganya belum ada yang datang untuk melihat. 

Subuh Maut, Minibus Masuk Jurang, 8 Tewas




Kronologis kejadianKronologis kejadian
PARAPAT- Niat mau mengelakkan truk yang datang dari arah berlawanan, satu unit minibus Taksi Kita Bersama (TKB) jenis Mitsubishi L300 BK 1170 XO terjun bebas ke jurang Sibaganding persis di bawah Batu Gantung. Peristiwa itu terjadi, Kamis (28/6) pukul 05.00 WIB, tepatnya di jalan Siantar-Parapat Km 40, Nagori Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.

Akibat kecelakaan tersebut, 8 dari 12 orang penumpang mobil tewas di tempat. Mereka adalah Parlindungan Harahap (28) supir I, warga Jalan Sei Mencirim II, Desa Paya Geli, Sunggal, Zulkipli Bin Moh Basir (64) dan Zaidun (60) warga Johor Baru Malaysia. Eva (26) dan ayahnya Isnaini (60), Wadianar (50), Masud (50) dan istrinya Teadianur (45) warga Madina.

Sedangkan penumpang yang selamat adalah Marwan Lubis (23) supir II, warga Pinangsori, Dolok Penyabungan, Madina, Kopral Sarno (42) warga Sei Deli Medan, Mei Nanur (10) dan Sakti Awin (5) warga Penyabungan Madina. Informasi dihimpun dari berbagai sumber di lokasi kejadian, diduga penyebab utama kejadian itu, supir mengemudikan mobil tersebut dalam keadaan ngantuk.

Selain mengantuk, Parlindungan juga hendak mengelakkan tabrakan dengan truk yang datang dari arah berlawanan lalu menabrak material berupa kerikil bercampur pasir di bahu jalan sebelah kiri. Informasi di lokasi kejadian, pada pukul 05.00 WIB, warga berada di kios Panatapan milik P Sirait mendengar ada suara mobil jatuh ke jurang. Selanjutnya terdengar jeritan anak berusia 10 tahun yang minta tolong. Kemudian warga yang baru selesai menonton semi final Euro Cup mengecek asal suara tersebut.

Setelah dilihat, ternyata ada 4 orang luka-luka pada kedalaman 150 meter dari jalan raya. Warga kemudian turun ke jurang dan mencoba menyelamatkan 3 orang korban yang masih hidup dan segera membawanya ke RSU Parapat. Sedangkan seorang anggota TNI dari Kesatuan Kavileri Sunggal Medan sempat turun hingga ke danau berjarak 300 meter dari lokasi jatuhnya minibus dan mandi untuk membersihkan luka-lukanya. Selanjutnya warga memberitahukan tentang kecelakaan tersebut kepada aparat Polsek Parapat yang langsung turun ke lokasi dan menghubungi Satlantas Polres Simalungun.

Sedangkan PJS Ramil Parapat Pelda Edi Damanik, meminta bantuan dari anggota TNI dari Yonif 126 Kala Cakti Kodim Simalungun yang sedang melakukan tugas Go Gren di Kawasan Danau Toba melalui Ketua Regu Lettu Putra dengan memerintahkan anggotanya berjumlah 30 orang untuk turun ke lokasi kejadian.

Sumber di Lantas Simalungun juga menyebutkan, mobil tersebut berangkat dari loketnya di Madina, Rabu (27/6) sekira pukul 15.30 WIB tujuan Medan. Saat berangkat, mobil berisi 10 orang penumpang dan dua orang supir.

Biasanya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Medan, di Rumah Makan Sopo Tinjak, Kecamatan Batang Natal, Parlindungan istirahat satu jam sembari makan malam. Mereka tiba di Rumah Makan Madina sekira pukul 18.00 WIB. Setelah istirahat satu jam, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Setibanya di Balige, Kamis (28/6), sekira pukul 02.00 WIB, mereka kembali istirahat di salahsatu Rumah Makan yang mengadakan nonton bareng Piala Eropa antara Spanyol melawan Portugal.

Parlindungan salahsatu penggemar sepakbola, sehingga membuatnya betah menonton bola sampai tuntas 2 babak. Namun belum menyaksikan extra time 2 x 15 menit, Parlindungan bersama penumpangnya bergegas melanjutkan perjalanan. Meski sudah begadang nonton bola tanpa istirahat, kemudi masih dipegang Parlindungan. Marwan Lubis supir dua yang selalu dibawanya seakan tidak berdaya.

Sebelumnya, mobil tersebut ugal-ugalan dengan minibus sesama L300. Mulai dari Simpang Tiga Raja, mobil tersebut berusaha mendahului mobil L300 yang di depannya. Tepatnya di Km 40 Nagori Sibaganding sekitar 20 meter dari tikungan ke kanan menuju Siantar, Parlindungan berhasil mendahului mobil L300 di depannya. Saat bersamaan, tiba-tiba mobil truk datang dari arah berlawanan. Terkejut melihat mobil truk datang dari depan, Parlindungan banting stir ke kiri agar tidak terjadi tabrakan.

Naas, saat banting stir ke kiri, Parlindungan menabrak tumpukan material aspal dengan tinggi sekitar 30 centimeter. Akibat tumpukan tersebut, mobil L300 BK 1170 XO yang dikemudikan Parlindungan terjun bebas ke jurang Sibaganding sedalam sekira 150 meter. Menurut Sahat Manik, warga yang ditemui di lokasi kejadian mengatakan, saat itu dia sedang duduk di warung dekat lokasi kejadian. Ia mengaku melihat mobil L300 BK 1170 XO ugalan-ugalan dengan taksi yang sama mereknya.

“Sudah biasa saya lihat mobil L300 ugal-ugalan. Tapi, tak lama mereka saya lihat ugal-ugalan, terdengar suara benturan keras. Ternyata salahsatu mobil yang ugal-ugalan itu terjun bebas ke dalam jurang. Kalau saya lihat, L300 BK 1170 XO mau mendahuli mobil di depannya. Tapi tiba-tiba mobil truk datang dari depan, menggelakkan supaya tidak terjadi tabrakan lantas sopir banting stir ke kiri. Rupanya ada tumpukan material aspal, itu yang diduga membuat mobil terjun bebas ke jurang,” katanya.

Kasat Lantas Polres Simalungun AKP Baginda Sitohang, saat dikonfirmasi di lokasi kejadian mengatakan, penyebab pastinya kecelakaan belum diketahui. Sebab, personel masih melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) sambil mengevakuasi para korban. Ia memaparkan, dari 12 orang penumpang mobil, 8 orang tewas di tempat dan dua di antaranya warga Malaysia. Sedangkan 4 orang mengalami luka ringan dan luka berat. 

“Kita masih menduga kejadian diakibatkan sopir mengantuk karena tadi malam menonton pertandingan bola antara Spanyol vs Portugal. Sementara bagaimana kronologis pastinya, masih dilakukan olah TKP,” katanya. (MSC)


Berita Lainnya

There is no other posts in this category.

Post a Comment

0 Comments