}); May 2014 | BeritaSimalungun

Berita Terkini

INDEKS BERITA

Jaya Silangit Purba Peragakan Tortor Dihar Simalungun

Written By GKPS JAMBI on Thursday, 15 May 2014 | 09:10

MASIH ADA TALENTA TETAPI SIAPA YANG PEDULI..?
Jaya Silangit Purba dengan aksinya. Siapa bilang tortor Simalungun tidak indah? Jaya sungguh seorang penari hebat.
Jaya Silangit Purba

Jaya Silangit Purba

Jaya Silangit Purba
Jaya Silangit Purba Peragakan Tortor Dihar Simalungun

Raja Silimakuta, Tuan Padiraja Girsang


Satia Girsang dan Istri
Raja Silimakuta, Tuan Padiraja Girsang.
Tuan Padiraja dieksekusi di Tanah Karo saat Revsos

Jembatan Bersejarah di Simalungun Itu Waterling

 
Jembatan Bersejarah — di Waterling(bah Hutailing)/Jembatan Bah Kuo.

  • Sarmedi Purba Bah Kuou (sungai Kuou)

  • Sarmedi Purba Hutailing adalah desa dekat jembatan di Kecamatwn Raya. Di seberang jembatan masih termasuk Kec Raya, sampai gedung sekolah, sedang Desa Sirpang Sigodang termasuk Kecamatan Panei. Batasnya disesuaikan dengan batas Kerajaan Raya dan Panei sebelum Indonesia Merdeka.

  • Janriaman Garingging tempat TUAN JANKADUK SAGAR.di eksekusi

  • Nikolas Munthe Sihilap Non non do naidah lalap tibal ni inganan on, na mamolngit do tong pangahap anggo mottas ma hanjon.

  • Purba Simalungun ai dohor mandapothon Sirpang Sigodang ai do jembatan on ?
    dong pambuatan pasir pakon batu padas i toruh ai na belok kiri on?

  • Juandaha Raya Purba sekitar 20 meter dari jembatan itu arah ke sir sigodang karyawan spbu hapoltakan dirampok orang pakai senjata laras panjang beberapa tahun lalu, sampai sekarang belum tertangkap.
  • Andy Hotmartuah Girsang Jembatan bah kuo

  • Andy Hotmartuah Girsang Jembatan hutailing..perbatasan sirpang sigodang dohorkon merek raya- bulupange

  • Simon Petrus Saragih I Sirpang Sigodang, dohorkon Merek Raya, si Elvi memonggol padan. Ha ha ha .... Mirip kalimat ai

  • Andy Hotmartuah Girsang ha ha ha..memang ai do kela..uhur hin lambin madotei..age ija ragei-ragei..halani ham lang mar holong ni atei..ai lakannn

  • Simon Petrus Saragih Ha ha ha..... Mulilah penyakit, nim ambia

  • Simon Petrus Saragih Mungkin sonai ma homa hatani ni raja-raja na ieksekusi ai tene. Ijon do au marsaran. Nini. Sanggah soh au i Jembatan ai, toppu satonga minit lang adong motor na lewat. Lungun pangahap tokkin.

  • Andy Hotmartuah Girsang Ha ha ha. Muli lah penyakit I baor bah hutailing..das hu pabrik es pamatang siantar hehehe

  • Simon Petrus Saragih Hudia do ujung ni aek ai? Hu Siattar do?

  • Andy Hotmartuah Girsang ai do kela..hu bah bolon na ikathon pamatang na I siattar ai..
  • Simon Petrus Saragih I Pematang do homa rumahni para raja ai da ambia. Iah tongon tih, tarboan singgah hu rumah ni

  • Andy Hotmartuah Girsang Ai ma genn..songon na mardomu bai bah ai use tene revsos ai..

  • Janriaman Garingging tuan jankaduk saragih garingging raja terakhir partongah raya bukan paktong?

  • Jaberkat Purba Sapari, sibar na hudingat thn 60an, gati do kecelkan 'motor' ijon, pasti do adong na 'lewat'. Panrampok / garrombolan pe ra do dong. Pokok ni seraaam, dach. Sonari mulai ma leseng na idah.

BAGAIMANA ALM TARALAMSYAH TERBENTUK MENJADI MUSISI?

Taralamsyah bersama Istri. Dok Simon Saragih

* Di Usia 15 Tahun Sudah Bisa Menotasi Musik-Musik Simalungun Lawas
... Dari generasinya dan dari lingkungannya, Taralamsyah adalah satu-satunya yang paling profesional dan konsisten melanjutkan bakat alamiah yang terus diasah dan dilatih. Dia adalah musisi dan budayawan yang paling memahami bakat dan profesinya
.
Sembari bermusik para anak-anak raja juga diajari soal kebudayaan, adat istiadat serta tata karma. Ini karena seni musik yang mereka kuasai bukan saja bertujuan sebagai hiburan tetapi merupakan simbol tentang banyak hal, terutama pranata di kerajaan.

Periode pertama pembentukan dirinya menjadi musisi berlangsung selama periode 1926 – 1930. Dia usia delapan tahun Taralamsyah sudah dicekoki musik, khususnya “manggual”. Ini adalah istilah untuk memukul gendang dalam bahasa Simalungun.

Ketukan, nada, gendang beserta gong dikombinasikan dengan serunai (sarune) menjadi santapan setiap hari. Karena terus menerus dilatih soal hal serupa mungkin para anak raja akan merasa bosan dan jenuh. Ini karena jumlah musik gonrang tidak banyak.

Menurut Taralamsyah sendiri sebelum revolusi sosial 1946 hanya ada sekitar 200 seni musik untuk jenis hiburan, sakral dan lagu rakyat. Belajar hal yang sama selama empat tahun atau selama kurang lebih 1.500 hari membuat Taralamsyah sangat paham semua jenis hiburan itu termasuk pola ketukan dan nada gonrang.
Diajari sejak usia muda membuat Taralamsyah hafal luar kepala semuanya tentang musik gonrang. “Semua ada di sini,” kata Taralamsyah menunjuk kepalanya tentang seni budaya masa lampau Simalungun. Hal itu dia utarakan ketika ada seruan putranya tentang cara merestorasi semua arsip seni musik Simalungun yang telah hangus terbakar.

Di usia delapan hingga dua belas tahun itu Taralamsyah juga diajari tentang makna dan fungsi setiap musik gonrang. Taralamsyah ibaratnya hanya mirip dengan minum air putih jika setiap kali dia diminta memainkan musik gonrang. Baginya, juga seperti minum air dingin saja ketika diminta memberi pemahaman soal musik gonrang.

Daya ingatnya sangat kuat. Mungkin ini diperkuat dengan daya intelektualnya yang dikategorikan sebagai jenius oleh keponakannya, Djawasmen Purba. “Dalam pandangan saya dia seorang jeniusnya di dunia musik,” kata Djawasmen yang berusia 79 tahun pada Januari 2014.

Beranjak remaja dunia musik terus menarik minatnya. Bisa dikatakan dia telah mematrikan cita-citanya pada musik dan seni budaya. Pada periode 1930-1933 Taralamsyah melanjutkan pelajaran musik dengan mempelajari not-not dan biola. Gurunya adalah abangnya sendiri, Jan Kaduk.

Kepiawaiannya kembali dia perlihatkan. Selama periode ini, menurut Taralamsyah sendiri dalam riwayatnya, dia telah menotasi lagu-lagu dan musik gonrang. Dari nada yang dia dengar, Taralamsyah langsung bisa melakukan notasi termasuk solmisasi. Bayangkan saja, hal seperti ini sudah bisa dia lakukan di usia 15 tahun.

Latihan notasi inilah yang kemudian turut membentuknya menjadi komponis dan pencipta lagu. Latihan padanya yang diberikan Jan Kaduk untuk menotasi musik-musik Simalungun telah melatih dirinya menjadi seorang pelamun tentang lagu, yang kemudian menerjemahkannya menjadi melodi dengan not.
Melodi-melodi yang tercipta dan kemudian dia notasikan dilengkapi dengan penulisan lirik-lirik.

Tradisi di kerajaan terkait seni musik dan budaya, tidak hanya mengajarkan tentang musik dan instrumen. Taralamsyah juga diajari soal kosa kata Simalungun. Lebih dari itu, kerajaan juga memiliki kebiasaan untuk mengekspresikan sesuatu lewat peribahasa, ungkapan, serta pantun.

Simalungun juga memiliki hal serupa itu, termasuk yang disebut sebagai “umpasa”, semacam pantun. Pelajaran dan pelatihan tentang “umpasa” membuat Taralamnsyah memiliki perbendaharaan kata dan kalimat yang membuatnya paham menempatkan lirik lagu sesuai melodi yang tercipta.

Kata-kata dan kalimat-kalimat dalam setiap acara adat di kerajaan memiliki strata tinggi dengan bunyi dan makna yang luhur. Dari sini berkembang sendiri pemahaman dan kemampuan Taralamsyah menyusun lirik-lirik lagu yang tergolong maju pada zamannya. Bahkan hingga kini lirik-lirik lagunya tetap dirasakan meresap dan memesona.

Jadilah Taralamsyah sebagai seorang yang tidak saja piawai soal melodi musik, tetapi juga membuatnya sebagai musisi yang dikagumi karena kalimat-kalimat yang enak dibaca dalam setiap syair lagunya.

Dalam perjalanan karirnya di zaman itu musik gonrang sedang jaya-jayanya. Karena itu Taralamsyah juga tetap tampil sebagai pemain music gonrang dalam acara kerajaan. “Saya ikut terlibat sebagai pemain dan menyaksikan sendiri acara penobatan raja yang tak lepas dari iringan musik gonrang,” kata Taralamsyah.

Di usia 15 tahun dia tidak saja paham musik gonrang tetapi juga musik-musik biasa. Dia tahap ini dia tidak saja bisa “manggual” tetapi juga memainkan aneka jenis instrumen musik serta sudah mulai menggubah lagu.

Kehebatannya di segala aspek musik dan budaya membuat Taralamsyah terus mengasah pengalaman. Kemudian dia beranjak lebih lanjut dan mencoba menjadikan musik sebagai jalur hidup untuk mendukung penghasilan.

Taralamsyah sendiri menuliskan bahwa periode 1934 – 1936 dia telah membentuk kumpulan seni musik modern. Di samping itu dia juga melakoni drama musikal. Dia sekaligus membentuk tim musik sendiri. Saat ini tak ubahnya dia sudah seperti pemusik belia di usia yang sangat muda, yakni pada usia enam belas tahun.

Kemudian Taralamsyah beranjak menjadi pelatih musik. Ini dia lakukan di samping mengelola sebuah grup musik untuk sarana pertunjukan, dengan mengambil nama Siantar Hawaian Band.(Simon Saragih)

Taralamsyah Tidak Ingin Diistimewakan

SENG SONAI, SARUPA DO NAMIN HITA
*
"Sir!
Demikian orang Inggris memanggil para ningratnya.
"Your Highness!"
Demikian Inggris memanggil Ratunya.
"Janami!"
Demikian para Simalungun dulu memanggil rajanya.
"Tuan Nami!"
Demikian rakyat dulu terbiasa memanggil atau menyapa para keturunan raja.
"Tuan Nami! Itu juga sapaan yang sering didengar Taralamsyah.
"Seng sonai, sarupa do namin hita, rakyat biasa!" demikian Taralamsyah selalu menjawab orang yang memanggilnya "Tuan" karena dia memang keturunan Raja Raya, Tuan Sumayan.

Ini bukan basa-basi atau sekadar penyejuk bagi orang yang berkomunikasi dengannya. Di setiap tulisan tangannya, memang tidak pernah terlihat imbuhan kata "Tuan" di depan namanya.

Jangankan "Tuan" dia pun langsung menuliskan namanya dengan "Taralamsyah Saragih" bukan "Taralamsyah Garingging". Dia ingin menyatu membaur bersama umum. Tutur kata dan kalimat-kalimatnya yang ditulis sendiri tidak pernah terlihat niat meninggikan statusnya sebagai ningrat Simalungun.

Jangan berharap Taralamsyah meninggalkan memoar pribadi tentang dirinya. Dia tidak menganggap dirinya penting. Dia hanya ingin berkarya dan mencoba melestarikannya. Kisahnya, bagi Taralamsyah, tidak lebih penting dari kisah tentang perjalanan budaya, sejarah Garingging dan bahkan sejarah para raja raya hingga sedikit kisah detail soal Rondahaim yang dia torehkan.

Di dalam rumahnya sendiri pun Taralamsyah membiasakan hal serupa itu, yakni kesederhanaan dan kesahajaan. Dia tak berhasil tetapi tak pernah berhenti dia berupaya. Di rumahnya, Taralamsyah, Edy, Ucok dan Syahrizal selalu makan duluan di meja. Ini meniru kebiasaan di keluarga kerajaan.

Taralamsyah meminta istrinya Siti Mayun Siregar agar berhenti marajakannya dan anak-anak lelakinya di rumah. Dasar istri setia dan penurut, Siti Mayun sungguh ingin melanjutkan tradisi kerajaan, yang sudah dia pelajari dan dia terima sebagai konsekuensi pernikahan dengan putra seorang raja. Bukan hanya itu, Siti Mayun pun menjadi pintar "marsahap Simalungun".

Akan tetapi Taralamsyah tak berhenti meminta istrinya agar memperlakukan dia secara biasa-biasa saja. Tetap saja Siti Mayun menajlankannya dalam nama cinta pada suami dan keluarga.

Sejoli ini pun di mata putra-putrinya menjaga keharmonisan. Walau pun misalnya ada bentrok kecil-kecilan yang orang lain mungkin tidak tahu, sejoli ini akan menutupinya dari penglihatan para putra dan putrinya. "Unang marbadai, unang ribut," demikian Taralamsyah sering terdengar di telinga para putrinya, yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya.

Walau dia pluralis dan nasionalis tulen, jangan kira dia telah kehilangan ahap Simalungun. Tinggal di Jambi tak membuatnya "hilang". Dia mengharapkan putra-putrinya berjodohkan Simalungun, walau luput, kecuali Edy Taralamsyah yang marboru Purba.

Taralamsyah bahkan seperti sempat mandele ketika sempat tak satupun putra-putrinya berjodohkan SImalungun. Dia dekat dan akrab dengan para menantu dan semuanya non-Simalungun. Hanya saja naluriahnya menginginkan setidaknya salah satu berjodohkan Simalungun.

Ketika Edy berhasil memenuhinya, Taralamsyah senang luar biasa. Kepada si Boru Purba, istrinya Edy, Taralamsyah menceritakan semua hal tentang seni budaya Simalungun. Putra-putrinya bukan lupa Simalungun tetapi nilai lebih si Boru Purba yang tumbuh dari lingkungan Simalungun lebih mudah pula mencerna ke-Simalungunan.

Kecuali impiannya tentang kebangkitan Simalungun dan penghargaan dari Simalungun yang luput, Taralamsyah telah mengakhiri perjalanan hidupnya dengan indah.

Di malam menjelang wafatnya atau tiga jam sebelum nafasnya terakhir, secara kebetulan stasiun televisi RCTI menyiarkan lagu "Parsirangan" dengan salah satu penggalan lirik, "Misir ma ham".

Raut wajahnya tersenyum meski tak bisa leluasa bersuara akibat asma-nya yang sedang kumat.
Alam pun seperti menyambutnya berupa suara berisik bahkan tergolong keras mengangetkan, ketika segerombolan burung layang-layang bertumpuk mengeluarkan suara menderu di dekat kamarnya di rumah sakit. "Ai aha do ai," demikian Taralamsyah menanyakan suara gaduh itu.

Sekitar jam 11 malam, dia pun menghembuskan nafasnya di medioa Februari 1992 lalu.
Requiescat in pace, Taralamasyah.(Simon Saragih)

MURIDNYA KELILING DUNIA KARENA SULING

Foto Simon Petrus Saragih.
Normasiah Saragih

"Masih ada ngak botou musik tradisional Simalungun seperti gonrang?" demikian Ibu Guru Normasiah Saragih, kelahiran 1960 bertanya.
Mengapa bertanya gitu kak?

"Soalnya murid-murid saya tuh, pemain flute malah sering bepergian ke luar negeri seperti ke Perancis. Mereka diminta naik pentas dengan membawakan musik-musik tradisional seperti Toba dan Karo. Setahu saya para pemain dari Simalungun belum pernah pergi seperti mereka," kota Normasiah, salah satu putri Taralamsyah yang juga guru di SMK Negeri 11 Medan, yang dulunya adalah Sekolah Menengah Musik (SMM).

Tidak menggebu-gebu berbicara soal ahap Simalungun bahkan tergolong hati-hati dan terkesan enggan karena takut salah. Namun keberangkatan para pemain suling didikannya di SMM itu mendorong dia bertanya. "Apa tidak ada lagi musik tradisional Simalungun?" kata Normasiah yang bersuamikan seorang marga Napitupulu dan baru saja kelahiran dua cucu kembar dari putri kandungnya, yang bersuamikan marga Hasibuan.

Soalnya eks muridnya itu adalah pemain flute yang diundang bukan untuk membawakan musik pop Toba atau Karo. "Mereka diundang malah untuk menampiljan musik-musik folklore, alias musik tradisional murni," kata Normasiah, yang tinggal di sebuah rumah yang tenang dan masuk kategori kelas menengah di kawasan Marendal, Medan itu.

Normasiah di awal pembicaraan terkesan tidak memperlihatkan antusiasme yang tinggi. "Siapa Simon Saragih?" demikian dia bahkan berbicara lewat telepon saat penulis bertanya arah ke rumahnya.

Begitu bertemu, Normasiah terenyuh dan merindukan secara implisit kebangkitan Simalungun. Lulusan D3 musik berkat bea siswa dari IKIP Yogyakarta, dan dilanjutkan dengan disertasi S1 di Unimed Medan ini, kemudian berbicara tentang upayanya demi kebangkitan Simalungun dengan pernah terlibat pengembangan budaya Simalungun.
"Saya pernah terlibat di majalah SAUHUR," katanya.

Dia pun bercerita tentang keterlibatannya yang juga pernah mencoba bertemu dengan orang-orang yang memberi kesan akan membangkitkan budaya Simalungun di kotanya. "Saya terlibat beberapa kali dalam perbicangan, termasuk soal pendirian tempat untuk lokasi pertemuan bagi pemerhati Simalungun di Medan ini."
Akan tetapi Normasiah secara implisit pula memunculkan sebuah tanya. "Kenapa iya, sepertinya orang batak Toba dan Karo tuh, lebih mudah mewujudkan sesuatu?"

Karo dan Toba di Medan memiliki paguyuban yang tergolong aktif dan lokasi pertemuan bagi para pemerhati etnisnya. "Di Jakarta, ada ngak botou, paguyuban seperti itu di kalangan Simalungun?"
Aku pun susah menjawabnya karena aku tidak punya bukti sebagai jawaban yang bisa membuat Normasiah senang.

"Hmmmmm..... ," hanya itu yang bisa kugumamkan pada botou ini.
Dalam hati, serupalah ternyata impian itu, impian tentang semangat dan ahap Simalungun. Normasiah pun secara implisit menuturkan betapa dia menginginkan sesuatu.
Dikatakan implisit, karena Normasiah itu orang yang low profile, tidak bicara meledak-ledak tetapi bahasa tubuhnya memperlihatkan sebuah kerinduan pada Simalungun.

Perbincangan pun melantur kemana-mana, termasuk seputar Taralamsyah. "Bapa itu ya, membuat saya takut bicara soal pelajaran musik yang saya dalami," katanya. Itu karena dia takut ada semacam opini dari bapaknya tentang apa yang dia dalami tentang musik.

Normasiah belajar flute dan piano dan teori-teorinya. Pernah suatu saat Normasiah berkunjung ke Jambi dan Taralamsyah bertanya apa saja yang dia pelajari di sekolah soal musik. Dari perbincangan itu langsung tertangkap kesan bahwa Normasiah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bapaknya. "Kepada saya pernah dia nyatakan bahwa apa yang saya dapat baru hal-hal dasar. Terus terang saya enggan berdiskusi pada bapak soal apa yang saya pelajari," katanya Normasiah.

Ini bukan karena Taralasyah kejam atau menakutkan. "Bapak itu menyenangkan. Ketika kita masih muda, hampir semua kita putrinya mengidolakan pasangan, 'semoga dapat seperti figur bapak,'" katanya.

Dia enggan karena merasa tidak mampu menandingi kemampuan musik bapaknya. Namun karena keengganannya dan juga karena memang Taralamsyah tidak pernah mencekoki putri-putrinya soal musik, maka pemahaman mereka tentang musik tidak begitu dalam saat aralamsyah masih hidup.

"Bapak itu juga tidak mendikte kita. Dia sabar, menerima hidup apa adanya dan tidak pernah memaksakan kehendaknya pada kita. Hal yang kita tahu ya, bapak itu tidur, lalu duduk merenung, berkarya. Itu saja hal yang kita lihat sehari-hari dan irama hidupnya monoton. Selain tidur, selebihnya kita hanya akan melihat dia duduk di mejanya."

Taralamsyah juga seorang bapak yang baik. "Jika liburan, kita dia bawa jalan-jalan, Makanya saya kenal daerah Haranggaol karena pernah kita dia bawa berlibur ke sana," kata Normasiah.
Tahu dari rekan

Normasiah baru semakin sadar tentang kehebatan ayahnya saat dia mengambil kuliah musik di Unimed. "Saat menyusun disertasi, saya sempat memilih tema musik klasik seperti karya Mozart untuk dianalisis. Akan tetapi rekan saya sesama guru di SMM almarhum Poltak Sinaga, dan almarhum Ben Pasaribu malah membuat saya beralih topik."

"Normasiah, kenapa mesti jauh-jauh ambil tema musik klasik untuk skripsimu? Karya ayah kamu, Taralamsyah, itu luar biasa bagus. Mengapa tidak menganalisis karyanya saja," demikian Normasiah mengenang saran Poltak dan Ben. "Padahal dua ahli musik ini bukan orang Simalungun lho, botou."

Jadilah Normasiah menyusun disertasi berjudul "ANALISIS LAGU ILAH LOSUNG DALAM TARI MANDUDA KARYA TARALAMSYAH SARAGIH" untuk meraih gelar S1 dari Unimed, Medan.

Bagaimana botou rasakan atau bagaimana penilaian botou tentang lagu-lagu dan karya lain Taralamsyah? "Justru dalam penyusunan disertasi inilah saya merasakan dan menyadari betul betapa Bapak punya pemahaman luar biasa soal musik. Saya tidak memiliki pemahaman tentang musik sedalam pemahaman Bapak."

"Benar-benar baru kemudian saya pahami, betapa karyanya memiliki rasa dan memiliki kelas," kata Normasiah, yang sebenarnya sudah mencium sendiri kehebatan Taralamsyah saat dia muda tetapi enggan dia dalami karena "ketakutan" akan kritikan yang tentu tidak mengherankan bagi Normasiah. "Padahal saya sudah belajar teori dan bapak belajar lebih banyak secara otodidak."

Dari situlah Normasiah mematrikan tanpa ragu, betapa Taralamsyah adalah geniusnya musik. "Bayangkan saya ya botou, hampir semua alat musik dia mainkan. Ketika saya pernah berkunjung ke Jambi, saya menyaksikan sendiri kursus musik yang diberikan Bapak pada murid-muridnya, termasuk jenis musik klasik yang indah tetapi rumit dan tidak mudah untuk didalami. Tapi bapak, ya mengajarkan hal itu."

Dia mencontohkan, jika seorang murid yang pernah mendapatkan kursus musik klasik, maka sertifikat pengesahan dari The Royal, adalah jaminan bagi kualitas bagi setiap murid yang belajar musik klasik. Taralamsyah memiliki murid yang bisa mendapatkan dengan mudah sertifikat dari The Royal, sebuah lembaga yang sampai sekarang menjadi acuan untuk pengesahan kemampuan seseorang tentang musik klasik.

Musik adalah kualitasnya Taralamsyah. Namun Kehidupan sosial adalah lahan lain yang menunjukkan kualitas Taralamsyah. "Ketika kecil, kita terbiasa dengan kedatangan saudara-saudari bapak dan demikian juga Mama.

Siti Mayun, kata Normasiah, adalah seorang istri yang memang punya devosi tinggi untuk melayani suami. "Mama bukan saja pintar berbahasa Simalungun. Mama juga pintar membuat makanan Simalungun, seperti Manuk Naniatur. Mama memang sudah sejak awal pernikahan menyatu dan membaur dengan kehidupan bapak termasuk menyatu dengan budaya Simalungun."

Keluarga ini tumbuh dan besar di lingkungan Muslim. "Namun bapak dan mama tidak pernah mejauh dari keluarga non-Muslin di setiap acara apapun. Misalkan, di satu acara adat, jika ada makanan non-parsubang, bapa mama tidak lantas menghindar. Demi adat dan demi keharmonisan sosial mereka tetap menghadirinya, bahkan bapak sering tampil sebagai tokoh adat."

Tentu Taralamsyah dan istri akan menyantap konsumsi untuk kelas parsubang. Tetapi luar biasa kesediaan mereka menghadiri dan menmgikuti acara adat.

DI akhir pembicaraan Normasiah menyatakan pesan. "Semoga tercapai ya botou, rencana konser Simalungun yang sedang kalian susun."

Oh Tuhan, aku ingin membuat botou Normasiah ini bangga pada saya dan tentu bangga pada Simalungun.
Tonggohon ma da botou hu.

Aku hanya bisa berguman demikian walau aku memiliki sebuah kekhawatiran, bahwa aku pun berpotensi memiliki persepsi seperti yang terbersit dari pertanyaaan di awal.
"Mengapa iya, Simalungun kayak kurang greget...."
Bois ma au............ He he he he..(Simon Saragih)
·

  • Simon Petrus Saragih Bassa nasiam tulisan na ganjang on. Komentari nasiam ganjang-jangang, Ulang holan "like". Ha ha ha..

    Komentar tidak dipungut biaya lho... ha ha ha ha

  • Arthy Domuriani Aku senang membaca tentang pendapat tante Oma mengenai opung Taralamsyah. Untuk tante Oma dan tante Eli ada foto kita menari di tvri medan saar itu kita masih kecil dan yg mengajarkan menari adalah opung Taralamstah. Hingga saat ini fotonya msh ada aku simpan. Tante Oma dan Tante Eli pasti ingat. Di tvri medan kita menarukan tari Mariah Subahuei.

    Arthy Domuriani Salam rindu buat tabte oma dan tante eli. Untuk di bulan oktober yg akn dtng acr pagelaran lagu dan tari simalungun ciptaan opung Taralamsyah saya ingin agr semua anak2nya opung Taralamsyah hadir disaat acr tsb.


  • Rossa Annie Osderia Sinaga Matektek iluhku....mambasa kerinduanni inang ai... "Semoga tercapai ya botou, rencana konser Simalungun yang sedang kalian susun.". Harapan besar yang sebenarnya wajar dan tidak dibesar2kan.... Akankah harapan itu akan menjadi nyata? Pandanganku jauh ke depan penuh harap dalam risauku... Tuhan tolong Ham hanami...

  • Simon Petrus Saragih Ma adong langkah maju Le?

  • Rossa Annie Osderia Sinaga domma namin tulang, tapi nanget ope....

  • Jaberkat Purba andohar saud ma, ase mulak loja ni lae Simon Petrus Saragih, on.
    aha na bois, sanina Rikanson Jutamardi Purba ?

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Berita Lainnya

.

.
.