Info Terkini

10/recent/ticker-posts

KATA SAMBUTAN PROF DR BUNGARAN SARAGIH

Contoh Cover Buku.

(Untuk Buku Biografi Taralamsyah Saragih)

Secara garis besar penulisan buku biografi Taralamsyah merupakan langkah awal yang sangat baik. Mengenang seorang tokoh daerah, Simalungun, dan tentu juga merupakan tokoh yang menjadi bagian dari negara. Mungkin masih banyak yang luput dari buku ini tetapi tidak mengahalangi niat baik dan biarlah ketidaklengkapan itu membuka kesempatan bagi munculnya buku-buku lanjutan tentangnya.

Penulisan buku biografi Taralamsyah ini memiliki tujuan mulia. Saya terpikir bahwa terbitnya buku ini tidak semata-mata menuliskan kebesaran nama Taralamsyah. Buku ini juga sekaligus mengingatkan secara implisit kesadaran akan identitas Simalungun.

Komunitas yang sadar akan identitasnya, berkorelasi positif dengan kematangan diri. Orang yang kuat kesadaran indentitas cenderung memiliki self esteem (semacam respek pada diri sendiri). Orang yang punya self esteem, dikatakan pula lebih bisa memahami cara untuk berkolaborasi dengan siapa saja dan katakanlah lebih bisa mencapai kematangan diri.

Akan tetapi ada pula peringatan orang yang terlalu menyanjung identitas diri secara salah, akan menyebabkan fanatisme sempit identitas. Saya tidak ragu mengatakan, identitas yang diinginkan Taralamsyah adalah identitas untuk pijakan kaki, yang kemudian harus dibawakan secara benar, bersikap terbuka dan membaur.

Artinya jadilah seperti Taralamsyah, yang bangga akan dirinya, sekaligus beroleh respek dari siapa saja dan dimana saja. Contoh, ketika ada yang tahu bahwa Taralamsyah adalah keturunan raja dan dia dipanggil "Tuan nami", ini dijawab oleh Taralamsyah, "Aih, sarupa do hita rakyat biasa." Artinya, “Kita ini sama saja.”

Sungguh seorang yang sederhana dan baik hati. Maka tidak heran dalam pandangan para kolega dan personel Orkes Na Laingan, Taralamsyah adalah orang yang dirindukan. Bagi penggemar karyanya dia adalah orang hebat dan dikagumi.

Tuan Taralamsyah, yang juga tuan terhormat dalam pandangan saya, tidak mau dipertuan oleh kekayaan duniawi. Dia tidak mau diperhamba oleh kesombongan diri. Di hatinya hanya ada kasih, walau dia "jogal" dalam hal kelestarian dan kualitas Seni Simalungun.

Dia hanya "jogal" soal sebuah standard, tetapi dia tidak jogal dalam pergaulan dan pertemanan. Sungguh seorang Simalungun yang berbesar hati sekaligus berjiwa besar. Jika sudah menyangkut teman dan kelompok, dia adalah sahabat sejati, bukan keturunan raja yang ingin ditinggikan. Akan tetapi Taralamsyah memang layak ditinggikan karena kerendahan hatinya dan kesederhanaan jiwanya.

Taralamsyah adalah sebuah intangible asset yang pernah dimiliki Simalungun dan menjadi bagian dari kekayaan nasional.

Post a Comment

0 Comments