Info Terkini

10/recent/ticker-posts

PDI-P Ditelikung Demokrat

FT Tribunnews.com
BERITASIMALUNGUN.COM, Medan-Setelah menikmati alam "demokrasi" Pilkada langsung sejak 2004, kita kembali ke Pilkada melalui DPRD. Sebuah drama penantian alot telah terlewati subuh tadi. 

Bangsa ini akan melintasi "babak baru" demokrasi Indonesia, Gubernur, Bupati dan Walikota diplih DPRD, sementara Presiden dipilih langsung oleh rakyat. 

Wakil Rakyat di DPR-RI yang dipilih rakyat, untuk saat ini menganggap inilah yang terbaik bagi bangsa ini. Kita yang memilih mereka, dan mereka menyuarakan suara "rakyat", "suara kita" . 

Dari 500-an anggota DPR, yang ikut memberikan suara 361 dengan distribusi suara memilih pilkada langsung, 135 (orang), lewat DPRD 226 (suara), dan abstain 0. Sementara anggota Partai Demokrat yang hadir walkout. 

Di atas kertas, seandainya Demokrat tidak walkout, maka suara memilih Pilkada langsung adalah lebih banyak. Tapi apa mau dikata. Itulah politik, itulah karakter para politisi kita. Peristiwa yang terjadi bukan di atas kertas, tapi di gedung DPR-RI yang "cair".

Kompas.com hari ini (Jumat 26 September, pukul 06.42) mengungkapkan peristiwa ini sebagai berikut:

"Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan harus kembali mendapati "tikaman" telak dari Partai Demokrat. Rupa "tikaman" yang ibarat tepat di ulu hati ini kini adalah pilihan sikap netral dan aksi walkout Fraksi Partai Demokrat dari sidang paripurna pengambilan keputusan soal RUU Pemilihan Kepala Daerah, Jumat (26/9/2014) dini hari".

"Pilkada langsung yang merupakan buah era-reformasi yang menghadirkan partai-partai baru termasuk Demokrat- kandas sudah oleh telikungan Demokrat pada saat-saat terakhir, dalam rupa drama "harapan palsu" dukungan pilkada langsung". 

Marilah kita semua legowo, sama seperti kita meminta Prabowo legowo ketika kemenangan Jokowi terpilih sebagai Presiden terpilih. Prabowo dengan "Koalisi Merah Putih"nya menang di DPR, Jokowi dimenangkan oleh rakyat. 

Ke depan, negeri ini akan menikmati demokrasi yang "pincang". Namanya juga pincang, tentu lima tahun ke depan, kita semua akan merasakannya. 

Mari mengambil hikmahnya. Jangan terlalu khawatir. Bisa lebih bagus, kalau ibu Mega rendah hati, PDI-P dan koalisinya "bebas korupsi", mau mengalah demi rakyat dan berjuang untuk rakyat. Selain itu, seluruh elemen masyarakat harus jeli mengawal pemilihan gubernur, bupati dan walikota. 

PDI-P ditelikung Demokrat, karena kurang bijak, terlalu sombong. Mega merendahlah, segeralah berdamai dengan SBY. Bermusuhan itu tidak nyaman, damai itu indah!. Sakit kan ditelikung?. 

Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Semua akan menuai apa yang ditanamnya.(Jannerson Girsang)

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments