. “Saya Tidak Mau Mati di Rumah Kontrakan!!” | BeritaSimalungun
Home » , , » “Saya Tidak Mau Mati di Rumah Kontrakan!!”

“Saya Tidak Mau Mati di Rumah Kontrakan!!”

Written By Beritasimalungun on Sunday, 23 August 2015 | 20:19

St Monang Saragih SH
BERITASIMALUNGUN.COM, Bandung-“Saya tidak mau mati di rumah kontrakan!”. Begitulah ungkapan St Adriani Heriaty Br Sinaga MH, istri dari St Monang Saragih SH saat mengalami sakit awal tahun 2015 lalu. Ungkapan itu pula sebagai kesaksian St Monang Saragih saat memberikan sambutan (mangampu parsahapan) pada acara Pamongkotan (Peresmian) Rumah Keluarga St Monang Saragih/ St Adriani Heriaty  Br Sinaga di Perum Alam Asri, Jalan Ciawitali Selatan, Cimahi Utara, Bandung, Jawa Barat, Senin 17 Agustus 2015. ( KLIK : FOTO LENGKAP PAMONGKOTAN RUMAH ST MONANG SARAGIH)

Ibadah dan Pesta Adat Acara Mamongkot Rumah Kel St Monang Saragih/ St Adriani Heriaty Br Sinaga di Perum Alam Asri Jalan Ciawitali Selatan, Cimahi Utara Bandung, Senin 17 Agustus 2015. Foto2: Asenk Lee Saragih.
Kesaksian Monang Saragih tentang keberadaan rumah itu begitu mengharukan. “Istri saya mengalami sakit, dan istri saya bilang kalau dia tak mau meninggal di rumah kontrakan. Ungkapan itu membuat saya tersadar. Dan saya ingin tidak berbuat dosa lagi buat istri dan anak-anak yang selama 32 tahun menderita karena berpindah-pindah rumah kontrakan. Saya sadar, saya sudah merusak pemikiran anak-anak dan istri karena abai terhadap kepemilikan rumah,” ujarnya.

Monang Saragih juga bercerita kalau baginya rumah bukan hal penting. Karena menurutnya, tinggal bisa di hotel dan mengontrak rumah. Tapi hal itu sungguh bertentangan dari keinginan istri dan anak-anaknya yang hidup selama 32 tahun dei rumah kontrakan secara berpindah-pindah.

“Saya tersadar, rumah memang penting sebagai istana keluarga untuk berdoa, istirahat, tempat silaturahmi keluarga. Selama 32 tahun saya menghadapi kemiskinan ini. Saya menangis karena terharu pada akhirnya bisa memiliki rumah saat memiliki Pahompu (Cucu). Ini adalah doa dari keluarga semua. Rumah ini sebagai rumah doa, rumah berkat dan rumah berkumpulnya keluarga. Pahit getirnya hidup ini, sudah saya rasakan, kini Tuhan menjawab doa istri, anak, pahompu dan keluarga bisa memiliki rumah secara permanen,” ujar Monang Saragih sembari meneteskan air mata.

“Awalnya perjuangan mendirikan Radio Mora di 32 Provinsi itu lebih penting daripada rumah. Namun hati saya terenyuh, disaat istri saya sakit dan mengatakan dirinya tak mau meninggal di kontrakan, itu membuat saya terpukul. Dan saya berjuang untuk membeli rumah,” ucapnya.

Menurut Monang Saragih, ketertarikan dirinya dan keluarga rumah di Perum Alam Asri, Jalan Ciawitali Selatan, Cimahi Utara, Bandung, Jawa Barat, karena letaknya strategis dan aksesnya terbuka. Awalnya rumah itu dibeli satu unit, dan kemudian dibeli satu unit lagi sehingga dua rumah digandeng jadi satu dengan arsitek aslinya (Cluster). Nilai rumah tersebut berkisar Rp 2,6 Miliar.

Dibelakang rumah tersebut dibangun sebuah pendopo lengkap dengan kolam ikan sedalam 2 meter. Monang Saragih memang bercita-cita ingin memiliki rumah yang bisa dibangun kolam ikan kecil. Hal itu terinspirasi dari rumah orang tuanya St Efraim Moradim Manihuruk/ R Porman br Haloho di Desa Hutaimbaru, Kecamatan Pamatang Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Sumut. Kampungnya pescis berada di pinggir Danau Toba.

Monang Saragih juga bercerita tentang pemaknaan Adat Simalungun saat meresmikan rumahnya tersebut. Sehingga Protokol (Raja Parhata) pada acara Pamongkotan (Peresmian) Rumah itu khusus diundang dari Raya (Op Purba Dasuha) Penasehat Partua Maujana Simalungun (PMS) Kabupaten Simalungun.

“Songon namulak Tonduy kai bapa Moses dobkonsi iresmihon Rumahta ai. Puji Tuhan, Doa kita dijawab oleh Tuhan. Ini berkat doa-doa keluarga kita semua. Menabung kalian ya anakku, mumpung anak-anak kalian masih kecil-kecil. Kalau sudah sekolah atau kuliah akan sulit memperoleh rumah sendiri. Walau kecil yang penting rumah sendiri jangan ngontrak seperti Inang Tongah kalian ini,” ujar  St Adriani Heriaty  Br Sinaga.

Prosesi Pamongkotan (Peresmian) Rumah berjalan dalam Adat Simalungun. Prosesi adat berjalan dengan baik. Acara tersebut juga didokumentasikan (Video) dan nantinya bisa sebagai panduan pada acara serupa di Bandung.

Sebelumnya St Dr Bonarsius Saragih Manihuruk dalam sambutannya mengatakan, perjuangan St Monang Saragih untuk memeiliki rumah sudah dikabulkan oleh Tuhan. “Lebih baik tidur di rumah sendiri dari pada tidur di rumah kontrakan. Kalau tidur di rumah sendiri sering bermimpi yang indah-indah termasuk kisah di kampung halaman. Tapi kalau di rumah kontrakan, sering bermimpi kapan kontrakan akan dibayar,” ujarnya sembari tertawa lepas.

“Semoga rumah ini menjadi rumah berkat dan rumah doa bagi keluarga dan jemaat. Seluruh keluarga bersukacita dengan adanya rumah ini. Khususnya keluarga besar dariu Hutaimbaru dan Medan,” ujarnya.

Sementara itu Kol (Purn) TNI AU St Drs WM Manihuruk MM pada sambutannya menceritakan, kisah perjalanan dirinya dan saudaranya ke Bandung. Pada tahun 1960-an dirinya merantau ke Bandung untuk kuliah di Universitas Padjadjaran.

Setelah merintis di Bandung saudaranya mengikuti jejaknya merantau ke Bandung yakni, St Berlin Manihuruk, Sudirman Manihuruk, Amin Sar Manihuruk, Sahala Tua Saragih Manihuruk, Juliamin Manihuruk, Monang Saragih Manihuruk, Tiurma br Manihuruk, Bonarsius Saragih Manihuruk, Rohniuli Br Saragih Manihuruk.

“Puji Tuhan semua berhasil meraih sarjana. Bahkan dua mendapat gelar Dokor yakni Binarsius dan Amin Sar Manihuruk. Sementara dua saudara saya Berlin Manihuruk dan Sudirman Manihuruk kembali ke kampung halaman Hutaimbaru. Namun Sudirman Manihuruk sudah meninggal beberepa tahun silam karena sakit. Perjuangan kami memang sangat pahit untuk seperti sekarang ini. Kami panginsolat (Pendatang) di Hutaimbaru. Bapak kami dulu tukang dan guru. Jadi kami merantau ke Hutaimbaru. Kami adalah anak orang miskin yang berjuang menimba ilmu di perantauan, khususnya di Bandung,” ujarnya.

“Perjuangan hidup Monang Saragih hingga bisa memperoleh rumah pribadi patut disyukuri. Mendirikan usaha Radio Mora juga sebagai berkat yang harus disyukuri. Kami bangga, adek kami Monang Saragih bisa sukses seperti sekarang ini. Empat anak sudah kuliah dan sarjana. Dan juga sudah memiliki cucu satu orang. Ini adalah berkat Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya.   

Pada kesempatan itu, Keluarga Besar Manihuruk Hutaimbaru menyerahkan bingkisan berupa ukiran 12 Murid Tuhan Yesus saat perjamuan kudus. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari anak-anak keluarga Besar Manihuruk Hutaimbaru.


Pada Pamongkotan (Peresmian) Rumah Keluarga St Monang Saragih/ St Adriani Br Sinaga di Perum Alam Asri, Jalan Ciawitali Selatan, lagu Indonesia Raya juga berkumandang. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan, bertepatan dengan HUT RI Ke 70 ( 17 Agustus 1945- 17 Agustus 2015).

Acara dimulai pukul 10.00 WIB dipandu oleh Pendeta GKPS Resort Bandung, Pdt Jahenos Saragih STh dan Vikaris. Acara Ibadah di luar rumah meliputi menyanyikan Haleluya No 160: 1-2, Penyerahan Kunci kepada Pendeta dan Majelis dan Tondong (Haloho, Sinaga, Dasuha).

Usai pengguntingan pita dan pembukaan pintu oleh Pendeta dan Tondong Haloho, dilanjutkan dengan acara Ibadah Lanjutan di dalam rumah. Ibadah meliputi Votum, Persembahan Pujian Keluarga, Seksi Wanita GKPS Bandung, Seksi Pemuda GKPS Bandung, Nyanyian Haleluya No 207: 3-4, Kotbah Pdt Jahenos Saragih dari Nats Psalm 75: 2 “Ipuji hanami do ham, ale Naibata, ipuji hanami do Ham anjaha sidilo goran-Mu do mambaritahon halonganan na binahen –Mu”.

Kemudian Nyanyian Haleluya No 459: 1 dan 3, Doa Syafaat, Haleluya No 411: 1-2, Doa Penutup Berkat. Usai ibadah dilanjutkan dengan prosesi Adat Simalungun yang telah dipandu Op Purba Dasuha dan St Kalam Saragih. Prosesi Adat Simalungun mulai dari “manurduk” pemberian “Dayok Binatur” (masakan khas Simalungun).

Acara tersebut dihadiri sekitar 400 undangan. Undangan juga dihibur oleh Trio Batarade dan juga personil Ondoz Trio (Fujiderman Manihuruk). Acara berjalan dengan baik dalam penuh sukacita dan kekeluargaan.


Suksesnya acara itu juga kekompakan Boru Manihuruk dalam ‘Marhobas”. Juga dukungan dari Keluarga Besar dari Ujung Silumbak, Tangga Batu, Sigungung, Sirpang Sigodang (Saurtua Sipayung-CS) dalam membuat masakan Khas Adat Simalungun. Selamat Memasuki Rumah Baru. Semoga Menjadi Rumah Doa dan Rumah Pangalopan Gogoh. (Asenk Lee Saragih)

Rumah Kel St Monang Saragih/ St Adriani Heriaty Br Sinaga di Perum Alam Asri Jalan Ciawitali Selatan, Cimahi Utara Bandung, Senin 17 Agustus 2015. Foto2: Asenk Lee Saragih.
Ibadah dan Pesta Adat Acara Mamongkot Rumah Kel St Monang Saragih/ St Adriani Heriaty Br Sinaga di Perum Alam Asri Jalan Ciawitali Selatan, Cimahi Utara Bandung, Senin 17 Agustus 2015. Foto2: Asenk Lee Saragih.
Share this article :

Post a Comment

Halaman FB Media Lintas Sumatera

Mengucapkan

Mengucapkan
KLIK Benner Untuk Beritanya

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan
DIRGAHAYU TNI ' Semoga TNI Selalu di Hati Rakyat, Menjadi Kebanggaan Ibu Pertiwi, Sinergi, dan Maju Bersama Negeri, AMIN

Kaldera Toba Akhirnya Diakui UNESCO Global Geopark

Kabar Hun Simalungun

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik
Tinuktuk adalah Sambal Rempah Khas Simalungun yang berkhasiat bagi tubuh dan enak untuk sambal Ikan Bakar atau sambal menu lainnya. Permintaan melayani seluruh Indonesia dengan pengiriman JNT dan JNE. Berminat hubungi HP/WA Devi Yusnita Damanik 0815 3445 0467 atau di Akun Facebook: Devi Damanik.

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)
Hinalang- Pdt Jhon Rickky R Purba MTh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusara “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba) di Desa (Nagori) Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019). Acara Peletakan Batu Pertama dilakukan sederhana dengan Doa oleh Pdt Jhon Rickky R Purba MTh. Selengkapnya KLIK Gambar

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”
“Lang jelas lagu-lagu Simalungun sonari on. Tema-tema pakon hata-hata ni lagu ni asal adong. Irama ni pe asal adong, ihut-ihutan musik sonari. Lagu-lagu Simalungun na marisi podah lang taridah.” (Semakin kurang jelas juga lagu-lagu Simalungun belakangan ini. Tema dan syairnya asal jadi. Iramanya pun ikut-ikut irama musik zaman “now” yang kurang jelas. Lagu-lagu Simalungun bertema nasehat pun semakin kurang”.