Home » , , » Andai Aku Punya Hak Pilih

Andai Aku Punya Hak Pilih

Written By Beritasimalungun on Monday, 18 January 2016 | 22:20

BERITASIMALUNGUN.COM-Beberapa hari lalu, aku dan teman priaku pergi menemui salah satu Calon Bupati Simalungun di kediamannya. Masih di sekitar Pematangsiantar, tak jauh dari inti kota. Aku Menemaninya untuk kepentingan kerjanya.

Di depan gerbang, aku melihat ada dua orang. Satu berbadan sedang dan masih terbilang muda. Satunya lagi berbadan bongsor dan terlihat menyeramkan. Aku tak tahu siapa di antara keduanya yang merupakan calon Bupati. Karena Sebelumnya juga tak pernah bertemu. Mengenalpun hanya sebatas nama. Tak lebih dari itu.

Evra, itu nama panggilan calon Bupati Simalungun yang hendak kami temui. “Pasti yang gemuk buntel, berkumis tebal itu orangnya,” gumamku dalam hati. Sebab, dari cara duduk di kursi yang ada di teras rumah mereka, aku melihat bapak ini lebih beribawa. Ditambah lagi gaya dan besar suaranya, semakin meyakinkanku kalau dialah siempunya rumah megah ini.

Seorang Pria muda berbadan tegap menyambangi kami. posturnya tinggi dan wajahnya menyeramkan. Melebihi preman gitulah. Itulah pria yang membukakan gerban. “Silahkan masuk kak,” katanya. Belakangan aku mengetahui kalau dia adalah ajudan pribadi. Mungkin pasukan pengamanan Pasangan Calon yang ditunjuk.

Singkat cerita, kami masuk dan dipersilahkan duduk bersama mereka. Seorang wanita datang dari balik pintu rumah. Tak begitu tinggi, tapi masih terbilang muda. Terlihat handuk kecil berwarna putih menggantung di bahu kanannya. Seperti dugaanku, wanita ini adalah pembantu di rumah megah yang sedang kami sambangi.

“Rika, tolong ambilka minum buat mereka ya,” ungkap pria muda yang masih belum kuketahui siapa dia sebenarnya, ke arah pembantu yang berdiri di sisi kananku.

“Rita, loh namaku. Rita. Bukan Rika,” cetusnya ke arrah pria yang memintanya tadi.

“Oh, iya, Rita. Maaf ya,” ujarnya, lembut, diiringi senyuman.
Aku semakin tanda tanya, siapa sebenarnya pria tersebut. Mengapa seperti orang yang berpengaruh di rumah ini. 

Sekilas, dari stylenya berpakaian, seperti bukan orang kaya. (Saat itu, dia hanya mengenakan kaos putih tak ber-merk dan celana jeans hitam yang mulai mengusam).

“Akh, tak mungkin dia Evra si calon Bupati yang hendak kami temui,” gumamku lagi, dalam hati.

Sementara mereka asyik berbincang tentang politik yang sama sekali tak masuk dalam mesin otakku, aku memperhatikan pria gemuk yang berwajah seram dan berkumis tebal tadi. Aku mengamati seluruh gerak-gerik dan tata bahasanya. 

Namun, tidak ada sedikit pun bahasanya seperti seorang calon Bupati. Tidak ada pembahasan strategi politik, hingga agenda blusukan seperti yang pernah kudengar saat bertemu calon-calon kepala daerah yang lain.
Penasaranku semakin memuncak. 

Emosi rasa ingin tahuku sudah di ubun-ubun. Aku putuskan untuk bertanya langsung ke teman priaku, mana orang yang bernama Evra si calon Bupati yang hendak kami jumpai.

Belum sempat bertanya, tiba-tiba handphone teman priaku berbunyi. Nafsu ingin tahuku terpaksa kembali tertunda beberapa saat. Sembari menunggu dia menyelesaikan pembicaraan di telepon, aku kembali memperhatikan gerak-gerik keduanya.

Pria muda yang berbaju putih tadi berdiri. Lengan kanannya mengambil asbak yang sudah penuh puntungan rokok mereka. Dengan santai dan tanpa memakai sendal jepitnya, dia berjalan menuju tong sampah yang ada di pojok gerbang pintu masuk. Usai membuang seluruh isi asbak, dia kembali ke bangkunya.

Tak berapa lama, teman priaku selesai bertelepon. Sejurus aku langsung mengarahkan mulutku ke telinganya.

“Yang mana namanya Evra, bang” bisikku, tak sabar menunggu jawaban.

“Ini bang Evra. Loh iya ya, belum kenal ya,” cetus teman priaku, sembari tersenyum, seolah sedang mengejek aku yang tak tahu apa-apa.

“Ya ampun. Calon Bupati rupanya ini. Akrab dengan pembantu dan berkomunikasi layaknya teman. Udah gitu, mau buang sampah sendiri tanpa rasa kaku. Sumpah, meski aku seorang Nasrani dan seandainya aku punya hak pilih, aku pasti memilih dia,” ungkapku dalam hati.

NB: Ini adalah kisah nyata, dan Tuhan sebagai saksinya. Tidak ada maksud untuk kampanye, tapi ini adalah ungkapan dalam hatiku. (Melika Pardede)
Share this article :

Post a Comment