Info Terkini

10/recent/ticker-posts

APA YANG SALAH TEMAN

JEMAAT MAIN HP SAAT IBADAH. FOTO inet.detik.com
BERITASIMALUNGUN.COM-Media komputer, apalagi yang tersambung dengan internet) atau hanphone dengan berbagai kecanggihannya memiliki kualitas atraktif atau daya tarik yang dapat merespon segala stimulus, kebutuhan yang diberikan kepada penggunanya.

Bahkan karena terlalu atraktifnya, alat ini membuat penggunanya seakan-akan menemukan dunianya sendiri, tak peduli dengan dunia sekitarnya.

Alat-alat canggih ini memang bisa dijadikan sebagai pelepas stress dengan bermain games yang ada. Dia juga tempat belajar, karena semua ada di dalamnya, meski sebenarnya tidak seluruhnya benar. Sehingga orang tidak begitu tergantung lagi dengan pelajaran, hiburan dari orang lain.

Makanya, dimana-mana banyak pengguna handphone asyik benar, apalagi dengan handphone yang serba canggih sekarang ini. Tak mengenal tempat, di rumah, di jalan, di dalam gereja, menunggu membayar listrik, air, ruang tunggu stasion kereta api, di ruang tunggu bandara, orang asyik dengan alat ini. Juga tidak mengenal waktu, kapan saja.

Handphone menjadi andalannya, kadang acuh dengan orang di dekatnya duduk. Asyik sendiri!. Seseorang merasa nyaman dan tidak mau melepaskannya. Lebih nyaman dari pada berbicara dari hati ke hati dengan teman sekelilingnya.

Tentunya bisa berdampkan pada melemahkan fungsi keluarga dan sekelilingnya dalam memberikan hiburan dan kasih sayang antar anggota keluarga satu-sama lain.

Walau sekarang kita hanya sejauh "tuts" telepon, alat komunikasi sudah beragam, tetapi kalau orang menggantungkan diri sepenuhnya kepada alat ini maka sebenarnya kita kembali hidup menyendiri, tanpa mengharapkan manusia lagi.

Dengan teknologi ini kita makin "dekat" dengan manusia lain, tapi rasanya kok makin "jauh" dari hubungan emosional.

Dulu, ketika telepon belum ada, kita hanya mungkin berkomunikasi dengan tatap muka atau surat, komunikasi kita terasa hangat, kita menghargai hal-hal yang bernilai positif untuk disebar secara face to face. .

Kartu Natal masih terkirim dengan tulisan tangan yang memberikan kesan personal, kita masih hargai pertemuan akhir tahun dengan keluarga, kita masih sisakan waktu melakukan kunjungan dari rumah ke rumah, ke keluarga, teman-teman se kantor.

Sekarang kita berlomba melengkapi alat-alat komunikasi, tidak hanya telepon di rumah, I-Pad tercanggih, alat-alat komunikasi modern, tetapi hati kita kosong. Sayangnya, ketergantungan komunikasi canggih ini mengabaikan komunikasi face to face, kunjungan rumah rumah sudah hampir kita abaikan.

Malah untuk mengucapkan selamat pagi aja kita lupa, paling-paling hanya sekali atau tiga kali setahun. saat ulang tahunmu, Lebaran, atau Natal.

Itupun hanya melalui sms, atau melalui status di FB. Bahkan sudah sering lupa.

Begitu banyak teman yang bertambah, tetapi jangan lupa sebenarnya kita juga banyak kehilangan teman sejati..

Kita makin menjauhi komunikasi yang tulus, yang hangat. Kadang hanya menghubungi kalau ada kepentingan mendadak saja.
Memelihara hubungan emosional, tampaknya makin jauh. Kita lebih suka menambah teman yang jauh dari pada memelihara teman sejati. Atau memang kita sudah lupa arti teman sejati.

Komunikasi, darah dari organisasi.makin tergerus oleh canggihnya teknologi. Komunikasi, darah dari hubungan sesama, kini makin pudar.

Rasa se kampung, se lingkungan sudah memudar, bahkan akan terus memudar. Kita sudah mempercayakan semua komunikasi ke alat-alat yang tidak berperasaan. Kita sudah meninggalkan kehangatan.

Kunjungan rumah ke rumah di saat Tahun Baru, Lebaran, kini makin tergerus, dan makin hilang. Jauh dengan kehangatan ketika teknologi canggih belum hadir di tengah-tengah kita! .

Padahal, menurut seorang penulis, "Perilaku berkurangnya aktifitas berinteraksi langsung secara face to face terhadap orang lain juga dapat meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan)".

Itu mungkin sebabnya mengapa makin banyak orang stroke di usia muda! Mudah-mudahan bukan yah!

Tanpa kita sadari, kita sedang menuju sebuah peradaban baru, yang kalau tidak hati-hati, maka kita akan kehilangan kehangatan, di dalam keluarga, dan masyarakat.

Kita lebih banyak berkomunikasi dengan benda mati, dan menyerahkan perasaan kita melalui benda itu.

Kehangatan makin lama makin hilang. Niat berkomunikasi face to face (tulus dan hangat) yang mampu memunculkan kerinduan, makin kita tinggalkan.

Makin banyak orang bingung, untuk apa seseorang ditelepon, untuk apa seseorang ditemui, apa yang harus dibicarakan agar menyenangkan semua. Masing-masing orang belajar dari sumber berbeda, dengan pandangan dan latar belekang yang berbeda.

Itulah mungkin mengapa rapat-rapat kita sering gaduh, konflik, marah, karena kita makin saling tidak mengenal satu sama lain.
Kita "dekat", tetapi kok rasanya hati kita makin "jauh", ya.
Rasanya ada yang salah, apa yah!

Teknologi memang membuat kita mengenal makin banyak manusia, tetapi kita mulai tak mengenal manusia lebih dalam, bersahabat dengan tulus, dan makin rendah minatnya memelihara sahabat sejati..

Yang dikhawatirkan adalah munculnya manusia-manusia yang oleh Erich Fromm menyebutnya sebagai Gejala Alienasi,yaitu salah satu jenis penyakit kejiwaan yang ditandai oleh perasaan keterasingan terhadap sesuatu, baik sesama manusia, alam, lingkungan, dan sebagainya.

Seseorang merasa dirinya paling hebat, mampu menyelesaikan seluruh persoalannya sendiri, tidak perlu bantuan orang lain, bahkan tanpa orang lain dia bisa hidup. Mudah-mudahan tidak separah itu!

Mari kita renungkan kekhawatiran Arnold Toynbee tentang kemajuan teknologi.

"Teknologi industri telah mengelabui para mangsanya dan menjadikan mereka memasrahkan kendali diri mereka untuk dijual, mengganti pelita lama dengan yang baru. Peradaban ini telah mengelabui mereka, sehingga mereka menjual nyawa untuk diganti dengan sinema dan radio. Akibat dari kehancuran peradaban yang disebabkan oleh transaksi baru ini adalah sebuah pemiskinan rohani yang dilukiskan Plato sebagai ‘masyarakat babi’, atau dilukiskan oleh Aldous Huxley sebagai ‘dunia kecongkakan baru’.” (St Jannerson Girsang)

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments