}); TAKE OFF OK SAJA, JANGAN SAMPAI TIDAK TAU MENDARAT DIMANA | BeritaSimalungun
Home » » TAKE OFF OK SAJA, JANGAN SAMPAI TIDAK TAU MENDARAT DIMANA

TAKE OFF OK SAJA, JANGAN SAMPAI TIDAK TAU MENDARAT DIMANA

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 17 February 2016 | 21:16

ILUSTRASI.GOOGLE
BERITASIMALUNGUN.COM-"A battle lost or won is easily described, understood, and appreciated, but the moral growth of a great nation requires reflection, as well as observation, to appreciate it". (Frfederick Douglas).

Pertempuran yang berujung kekalahan atau kemenangan mudah dijelaskan , dipahami , dan dihargai , tetapi pertumbuhan moral bangsa yang besar membutuhkan refleksi , serta observasi , untuk menghargainya.

Ketika semua orang sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk dengan kepentingannya sendiri dan kelompoknya, dan kurangnya interaksi sosial, maka ukuran moral akan kabur. Mereka akan membentuk ukuran moralnya sendiri, dan tidak tau mengukurnya lagi.

Mereka menganggap baik tindakan yang memberi keuntungan bagi dirinya, tak perduli apakah tindakan itu merugikan orang lain, mengorbankan lepentingan orang lain.

Mengukur kemajuan ekonomi, teknologi apalagi, sangat mudah. Membangun fisik bukanlah hal yang sulit. Tetapi bangunan fisik itu bisa hancur berkeping-keping, ketika moral bangsa tidak baik.

Hirosima dan Nagasaki hancur dalam beberapa detik saja, ketika moral bangsanya buruk.

Kerusuhan Mei 1998 masih membekas dalam ingatan kita. Bumi Jakarta penuh kobaran api, gedung-gedung hancur, nyawa melayang, karena ulah segelintir bangsa yang tidak bermoral.

Tetapi menjawab pertanyaan semakin baikkah moral bangsa kita bukan hal yang mudah. Sebuah pekerjaan besar yang memerlukan refleksi dan kesatuan pandang tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk apa kita bernegara?

Pancasila dan UUD 1945 adalah referensi mengukur baik-buruknya moral bangsa ini, dan mengapa negara ini didirikan..
Sayangnya, sudah mengukurnya tidak mudah, kemauan bangsa ini untuk menjadikannya sebagai alat ukur moral juga semakin hari, semakin kabur. 

Kita masih berjuang memberantas pemikiran: kalau bukan kami, orang tidak berhak berkuasa! "Kalau tidak korupsi tidak bisa hidup di Indonesia". Suku, agama kamilah yang paling benar, yang lain salah!.

Kita semua dituntut berjuang menghempang para pemegang kekuasan yang mengartikan kekuasaan sebagai alat mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Kita semua dituntut tidak hanya mampu berjuang membuat negeri ini semakin maju secara fisik, tetapi juga semakin baik dari segi moralnya.

Jiwa dan semangat gotong royong, toleransi dan berbagai nilai-nilai luhur dalam Pancasila dan UUD 1945 jangan sampai luntur. Kita boleh take off, tetapi jangan sampai tidak tau mendarat di mana, dan hilang! (St Jannerson Girsang)
Share this article :

Post a Comment