}); Berdiri di Halaman yang Sama, Masjid dan Gereja Ini Jadi Simbol Toleransi | BeritaSimalungun
Home » , , » Berdiri di Halaman yang Sama, Masjid dan Gereja Ini Jadi Simbol Toleransi

Berdiri di Halaman yang Sama, Masjid dan Gereja Ini Jadi Simbol Toleransi

Written By Beritasimalungun on Thursday, 14 April 2016 | 08:46

Bangun Masjid An-Namira dan Gereja GMIM Jemaat Lakban dibangun dalam satu halaman di Kampung Buyat Pante, Dusun 5, Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatok, Minahasa Tenggara. Kompas.com/Ronny Adolof BuoL
MINAHASA TENGGARA-Tingkat toleransi kehidupan beragama di Kampung Buyat Pante, Dusun 5, Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatok, Minahasa Tenggara, ini sungguh terjaga. Hal ini tecermin dari bangunan masjid dan gereja yang didirikan di satu halaman tanpa pagar pembatas, bahkan nyaris berimpitan. 

Kubah Masjid An-Namira yang berhadapan dengan menara Gereja GMIM Jemaat Lakban seakan menyampaikan pesan bahwa kerukunan antar kedua pemeluk agama yang dianut sebagian besar warga di kampung itu menjadi pemersatu. 

Warga di sana sebagian besar bermata pencarian sebagai nelayan. "Bukan hanya tersimbolisasi dari kedua bangunan itu, tetapi selama ini saya tak pernah mendapati adanya gesekan horizontal atau hal lain di kedua pemeluk agama," ujar Pudin, warga Ratatotok, Minggu (11/10/2015). 

Mendirikan dua bangunan ibadah yang digunakan secara rutin dalam satu halaman tentu bukan perkara mudah. 

Butuh toleransi yang tinggi dari kedua umatnya, terutama toleransi saat waktu ibadah bertabrakan. 

Namun, menurut Pudin, warga Kampung Buyat sebagaimana warga Sulawesi Utara pada umumnya, sangat menghargai sikap toleransi. 

"Jelas ini menjadi kekuatan bagi kami semua di sini agar tetap menjaga tali persaudaraan walau berbeda keyakinan. Harmonisasi itu juga terlihat pada saat ada perayaan hari raya. Misalnya, saat Idul Adha, umat muslim yang menyembelih hewan kurban ikut membagikannya ke seluruh masyarakat tanpa memandang agama dan dari suku mana pun," kata Pudin. 

Kedua bangunan tersebut dibangun sejak tahun 2004 dengan dana partisipasi masyarakat setempat dan dibantu oleh PT Newmont Minahasa Raya yang dulunya mengoperasikan perusahaan tambang emas di sana.

Kini kedua bangunan yang berdiri di dekat lokasi wisata Pantai Lakban itu juga sering dijadikan tempat berfoto para wisatawan yang datang.

Mereka mengaku salut dengan toleransi yang disimbolkan dari kedua bangunan. Harapannya, ke depan kedua tempat ibadah tersebut bisa menjadi ikon toleransi di Sulawesi Utara dan Indonesia pada umumnya. 

"Harapan kami di lokasi itu bisa pula dibangun berbagai fasilitas pendukung," kata Imam Masjid An-Namira, Ustaz Dahri Pakaya. ((Kompas.com)
Share this article :

Post a Comment