}); Ibu dan Bayinya Tewas Digilas Mobil Pajero di Saribudolok | BeritaSimalungun
Home » , » Ibu dan Bayinya Tewas Digilas Mobil Pajero di Saribudolok

Ibu dan Bayinya Tewas Digilas Mobil Pajero di Saribudolok

Written By Beritasimalungun on Friday, 13 May 2016 | 00:11

Yoga Girsang/Metro Siantar
Warga mengerumuni lokasi mobil Pajero lokasi kecelakaan yang menewaskan ibu dan bayinya di persimpangan GKPS Immanuel, Saribudolok, Simalungun. Yoga Girsang/Metro Siantar
BERITASIMALUNGUN.COM, Saribudolok-Tragis. Ibu dan bayinya meninggal dunia setelah warung gorengan tempatnya mencari nafkah dihantam mobil Mitsubishi Pajero. Peristiwa terjadi di persimpangan GKPS Immanuel, Kelurahan Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Simalungun.

Kecelakaan maut itu terjadi sekira pukul 16.30 WIB, Selasa (10/5). Saat itu Mega br Zebua (26) sedang menggoreng makanan ringan untuk dijual. Tak jauh dari Mega, bayinya Stepani br Samosir yang masih berusia 1 tahun 4 bulan, terlelap tidur di ayunan.

Suasana tenang itu tiba tiba mencekam. Satu unit mobil Mitsubishi Pajero BK 1076 WF yang dikendarai GS (52), datang dengan kecepatan tinggi. Mobil itu terlihat datang dari arah Jalan Singgalang.

Brakk… Benturan keras terdengar. Sesaat mobil menyapu warung gorengan beserta isinya, termasuk Mega dan putrinya.“Suara mobil itu seperti suara pesawat. Menurut saya larinya tak kurang dari 120 km/jam,” ujar saksi yang melihat kejadian, D Sinaga (28) kepada METRO SIANTAR.

Ia memperkirakan, awalnya pengendara ingin berbelok ke kanan menuju arah Jalan Merdeka Bawah. Namun karena melaju dengan kecepatan tinggi, supir diduga tak mampu mengendalikan kendaraan sampai di persimpangan Jalan Sipiso-piso.

“Kalau saya menduga, pengemudi ini tidak ada menginjak rem sama sekali. Kendaraan itu terlihat tetap lurus walau tiba di persimpangan. Lihat saja, tidak ada bekas gesekan ban pertanda pengereman secara tiba-tiba di lokasi. Dia lurus saja hingga melangkahi parit dan tembok pembatas gorong-gorong jalan,” urai Sinaga sembari menjelaskan, jika tidak dengan kecepatan tinggi, mustahil kendaraan mampu melangkahi parit dengan lebar kurang lebih 2 meter yang ada di lokasi. Begitu juga dengan tembok pembatas gorong-gorong setinggi 60 cm di lokasi yang dilewati mobil itu.


Setelah menghantam warung gorengan yang terbuat dari tenda kecil itu, mobil masih terlihat menyeret-nyeret kain tenda dan besinya hingga sejauh 30 meter. Kemudian mobil terbalik-balik dan berhenti setelah menghantam rumah warga lainnya.

“Saat itu si bayi yang masih berada di ayunan ikut terseret mobil. Sementara ibunya, terpental begitu ditabrak. Padahal sebelumnya si ibu itu masih terlihat menggoreng. Sementara bayinya tidur di ayunan,” ujarnya.

Melihat kejadian, warga sekitar langsung mengerumini lokasi kejadian. Beberapa di antaranya langsung melihat kondisi bayi yang merupakan anak kedua pasangan Jamin Samosir dan Mega Zebua tersebut.

“Saat dilihat di dekat mobil mewah yang sudah berhenti itu, Stepani sudah tak bernyawa,” ungkap Sinaga.Oleh keluarga, jenazah bayi malang itu kemudian dibawa ke rumah duka di Dusun Bintang Mariah, Nagori Sinar Baru, Kecamatan Silimakuta untuk disemayamkan.

Sementara itu Mega yang semula terpental, ditemukan dalam kondisi kritis. Ia langsung dilarikan warga ke Klinik Permata Saribudolok lalu dirujuk ke RS Kabanjahe. Sementara itu supir mobil, GS yang juga mengalami terluka parah dibawa ke RS Horas Insani Kota Siantar.


Hingga malam hari, kondisi mega tak membaik. Oleh tim medis RS Kabanjahe, Mega dirujuk lagi ke RS Sari Mutiara Medan. Namun, berbagai usaha yang dilakukan untuk menyelamatkan korban tak berhasil. Ia yang mengalami koma pasca kejadian, akhirnya menyusul sang bayi.

Mega menghembuskan nafas terakhirnya sekira pukul 02.30 WIB pada Rabu (11/5).


Kasat Lantas Polres Simalungun AKP Rizki Ramadhan melalui Kanit Ipda Joni Silalahi mengatakan, kasus kecelakaan itu masih diselidiki pihaknya.



“Dua korban meninggal dunia. Sementara GS, pengemudi Pajero yang beralamat di Jalan Singgalang, Kelurahan Saribudolok, juga kritis.

Dia menjelaskan, saat kejadian, korban Mega dan anaknya sedang berada di warung gorengan yang ditabrak Pajero itu. “Diduga mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dari jalan Singgalang menuju Jalan Sipisopiso dan menabrak tembok parit, kemudian menabrak warung gorengan serta pemilik dan anaknya,” ungkapnya.



Dimakamkan Berdampingan

Kemarin (11/5), keluarga menggelar acara adat pemakaman di Los Dusun Bintang Mariah. Di sana, jasad ibu dan anak yang sudah dimasukkan ke dalam peti yang penutupnya belum terpasang itu disandingkan. Pemandangan ini pun melecut rasa sedih para pelayat yang hadir.


Isak tangis terdengar bersahutan. Termasuk suami dan ayak kedua korban, Jamin Samosir (29). Ia seakan tak mampu lagi meluapkan perasaan sedihnya dengan menangis. Di sekeliling Jamin, ada sanak keluarga yang lain. Mereka juga histeris. Tak ada yang menyangka Mega harus terbaring bersama dengan anaknya Stepani dan meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya.

“Maningun rup do hita (kita harus terus bersama-sama),” jerit Jamin tak jauh dari jenazah keluarganya.Sando Samosir, abang kandung Jamin mengungkapkan, peristiwa naas itu tak pernah sama sekali mereka bayangkan. “Kami kehilangan dua anggota keluarga sekaligus. Ini tidak pernah terlintas di pikiran kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, keluarga besarnya meminta penegak hukum, khususnya kepolisian, mengusut tuntas kejadian ini. “Kami belum percaya ini lae, tidak mungkin mobil bisa sampai melindas tempat berjualan adik saya itu. Kami ingin kasus ini jelas,” tukasnya meledak-ledak.


Setelah menggelar acara adat, jenazah Mega dan Stepani kemudian dikebumikan berdampingan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen Dusun Bintang Mariah. (Yoga Girsang-MSC)
Share this article :

Post a Comment