Home » , » KISAH YUYUN... DIDIKLAH ANAK LAKIMU!

KISAH YUYUN... DIDIKLAH ANAK LAKIMU!

Written By Beritasimalungun on Saturday, 7 May 2016 | 10:50

KORBAN.IST
BERITASIMALUNGUN.COM-Kisah Yuyun, remaja putri usia 14 tahun yang diperkosa, dibunuh, dan dibuang ke jurang oleh 14 remaja putra, di Ulak Tanding, Rejang Lebong, Bengkulu, membuat hati seperti teriris. Nyaris tak percaya, ada pemuda-pemuda usia remaja sebiadab ini. Binatang pun rasanya tidak sesadis ini. Ada apa dengan anak-anak remaja bangsa ini saat ini?

Banyak orang yang memaki dan melakukan aksi untuk memprotes peristiwa sadis ini. Termasuk kalangan DPR, yang melakukan aksi menyalakan lilin. 

Sedihnya, disamping aksi simpati dan empati, muncul pernyataan-pernyataan yang kontradiktif yang tidak berkeadilan, termasuk dari kalangan DPR. Ketua Komisi VIII DPR, Wasekjen PAN, Saleh P Daulay setengah menyalahkan korban yang berjalan sendiri di pinggir kebun sehingga terjadi pemerkosaan dan pembunuhan. 

Sementara Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Asrorun Niam Saleh menilai penyebab kematian Yuyun disebabkan pengaruh minuman keras. "Faktor pemicu utama adalah minuman keras alkohol,” katanya.

Saya tidak mengerti bagaimana tokoh sekaliber mereka justru menyalahkan korban dan minuman keras. Ini kurang lebih sama dengan kontroversi defenisi porno dalam UU Pornografi dan hukum Syariah di Aceh yang meletakkan ketentuan (kesalahan) pada cara berpakaian perempuan.

April 2015, Bupati Aceh Barat Ramli Mansur menuai caci-maki karena mengatakan, “Perempuan di Aceh Barat yang tidak berpakaian sesuai Syariah Islam layak diperkosa. Alasannya karena lelaki bisa terangsang melihat dada perempuan.” Gila aja. Yang kotor itu pikiran laki-laki yang mau memperkosa. Bukan cara berpakaian perempuan.

Saya pernah punya kenalan, laki-laki setengah baya, yang mengaku (tepatnya curhat) yang justru terangsang melihat perempuan yang memakai hijab. Yang serba tertutup itu justru membuat dia serperti penasaran dan bergetar ingin menyingkap. 

Apalagi kalau busana yang dikenakan perempuan itu dari bahan lentur, yang menunjukkan bentuk pantat dan bayangan pakaian dalam. Ia bisa gemetaran dan pergi menjauh. Nah, coba, yang bermasalah apakah para perempuan yang memakai hijab, atau kenalan saya ini?

Saya memahami, dalam berbagai budaya di Tanah Air kita banyak unsur yang tidak berkeadilan secara gender. Contohnya, di orang Batak marga hanya diturunkan dari anak laki. Kalau kita mau jujur, bahkan agama pun mempunyai unsur itu. 

Misalnya, seperti perempuan tidak boleh jadi imam. Tapi sebagai orang yang sudah berpendidikan, mestinya kita di zaman modern ini bisa mengelimir ketidakadilan budaya itu dalam pemahaman hak azasi.

Tidak adil kalau dalam kasus pemerkosaan justru yang disalahkan perempuan. Lho, yang melakukan pemerkosaan siapa? Kan laki-laki. Mau perempuan pakai rok mini, mau dia jalan sendiri (yang notabene pulang sekolah), itu hak dia. Dan kamu (laki-laki) tidak ada hak (dan salah) memperkosanya. 

Kamu yang harus menjaga nafsumu dan kelaminmu. Kalau dalam kasus seperti ucapan Bupati Aceh Barat yang ngawur itu, okey, perempuan yang tidak berpakaian menurut Syariah itu boleh diperkosa. Tapi setiap laki-laki yang memperkosa perempuan, apapun alasannya, alat kelaminnya harus dibuntungi. Mau?

Amat banyak kejadian dalam kehidupan masyarakat kita yang belum berkeadilan dalam hal gender. Lihatlah kejadian di Cikupa, Tangerang, April lalu. Agus membunuh dan memutilasi teman dekatnya yang sudah hamil 7 bulan, karena minta dinikahi. Gila sekali!

Sejak masih kerja di majalah remaja saya sering melihat dan menerima curhat dari remaja perempuan mengenai pacar (laki-laki) yang suka marah-marah, memaksa ini itu, bahkan memukul pacarnya. Ya ampun, jadi pacar itu bukan berarti memiliki kuasa. Kalaupun sudah suami-istri tidak boleh melakukan itu. Bahkan orangtua si gadis pun tidak boleh.

Karena itu, saya pikir, kita semua bertanggung jawab atas gejala-gejala menyedihkan yang muncul di masyarakat seperti sekarang. Kita para orangtua yang memiliki anak laki-laki bertanggung jawab mendidik anak kita agar menjadi manusia yang menghargai perempuan. 

Teman-teman perempuannya, pacarnya, anak-anak perempuan orang lain, sama dengan ibunya dan saudara-saudara perempuannya. Tidak ada hak pada laki-laki yang membuat dia bisa berbuat seenaknya pada anak perempuan.

Apa yang terjadi di masyarakat adalah gambaran apa yang terjadi di rumah-rumah, di keluarga kita. Kalau diluar anak-anak laki-laki kita seperti hewan, berarti di rumah tidak dididik agar tidak berperilaku seperti hewan. 

Kalau di luar anak suka tawuran, membakar-bakar kampusnya sendiri, memperkosa anak orang... yang pertama salah adalah (didikan) orang tua. Jadi... didiklah anak lakimu! (Penulis : Nestor Rico Tambun)
Share this article :

Post a Comment