Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Tim Grup A Piala Eropa 2016: Rumania

BERITASIMALUNGUN.COM-Rumania bisa dibilang tim semenjana di ranah Eropa. Prestasi tim berjuluk Tricolorii itu dalam ajang Piala Eropa juga tak begitu istimewa. Rumania tercatat hanya lima kali lolos ke putaran final Piala Eropa. Pencapaian terbaik mereka adalah menembus perempat final pada 2000.

Prestasi tersebut bisa jadi paling dikenang publik Rumania. Bagaimana tidak, Gheorghe Hagi dan kawan-kawan berhasil mematahkan prediksi banyak orang.

Tergabung dalam Grup A bersama Portugal, Inggris, dan Jerman, Rumania jelas tak diunggulkan lolos ke babak berikutnya. Namun, hasil 1-1 lawan Jerman dan kemenangan 3-2 atas Inggris. membuat Rumania berhak maju ke perempat final dengan status runner up grup.

Sayang, langkah sensasional mereka terhenti pada babak delapan besar. Rumania harus mengakui keunggulan Italia setelah kalah dua gol tanpa balas lewat gol Francesco Totti dan Filippo Inzaghi.

Meski gagal juara, Rumania dinilai memiliki generasi emas. Sebut saja Christian Chivu, Adrian Mutu, Cosmin Contra, Dan Petrescu, dan Viorel Moldovan yang mengisi beberapa lini.

Namun, setelah itu performa Rumania di kancah Piala Eropa terjun bebas. Pada 2004 dan 2012, mereka gagal lolos ke putaran final. Pada 2008, Rumania memang lolos ke putaran final yang berlangsung di Austria-Swiss, namun mereka tak mampu lolos dari penyisihan grup.

Rumania punya kesempatan untuk mengulang prestasi pada Piala Eropa 2000. Tiket putaran final Piala Eropa 2016 sudah berada dalam genggaman. Rumania lolos setelah menjadi runner up Grup F dengan mendulang 20 poin.

Pada putaran final Piala Eropa 2016, Rumania tergabung dalam Grup A bersama Prancis, Albania, dan Swiss. Melihat komposisi tim, peluang untuk lolos ke fase berikutnya cukup terbuka bagi skuat asuhan Anghel Iordanescu tersebut.
Bintang: 
Razvan Rat


Tim nasional Rumania termasuk dalam tim yang memiliki pertahanan kukuh menjelang Piala Eropa 2016. Hal tersebut terlihat dari catatan kebobolan mereka selama babak kualifikasi.

Dalam 10 pertandingan di Grup F, Rumania hanya kebobolan dua kali. Kukuhnya pertahanan Rumania tak lepas dari peran Razvan Rat, yang merupakan sosok kunci skuat Tricolorii.

Tak hanya kuat dalam bertahan, Rat juga kerap membantu menyusun serangan lewat sisi sayap kiri. Selama babak kualifikasi Piala Eropa 2016, pemain berusia 34 tahun itu sudah mengemas tiga assist dalam 9 pertandingan.

Kenyang pengalaman membuat Rat tampil tenang dalam setiap pertandingan yang dilakoni bersama Rumania. Tak hanya itu, pemain kelahiran Piatra-Olt itu juga memiliki kharisma serta jiwa kepemimpinan. Wajar bila akhirnya dia ditunjuk sebagai kapten timnas Rumania.

Karier Rat memang terbilang cukup luar biasa. Mengawali karier profesional bersama Rapid Bucuresti, pemain berpostur 178 cm ini sempat membela tim ternama seperti Shahtar Donetsk dan West Ham United. Saat ini, Rat menjadi bagian dari tim La Liga, Rayo Vallecano.

Publik Rumania berharap Rat bisa memimpin rekan-rekannya menciptakan sejarah seperti Piala Eropa 2000. Dia diharapkan bisa menularkan pengalaman serta ilmunya kepada pemain muda Rumania.
Pelatih: 
Anghel Iordanescu


Nama Anghel Iordanescu memang kurang familiar di telinga pecinta sepak bola Eropa. Maklum, pelatih berusia 65 tahun ini tak pernah melatih klub atau tim nasional besar di Benua Biru.

Meski demikian, Iordanescu tercatat sebagai satu di antara pelatih tersukses di Rumania. Dia berhasil meraih empat gelar Liga Rumania bersama Steaua Bucharest, yaitu pada musim 1986–87, 1987–88, 1988–89, 1992–93.

Pencapaian terbaiknya adalah mengantarkan Steaua menembus partai final Liga Champions 1988-89. Sayang, Iordanescu gagal membawa klub raksasa Rumania itu mengalahkan AC Milan setelah menyerah empat gol tanpa balas dari Ruud Gullit dan kawan-kawan.

Kesuksesan Iordanescu bersama Steaua membawa berkah. Dia kemudian mendapat pekerjaan untuk melatih tim nasional Rumania pada 1993. Belum lama membesut Tricolorii, mantan pemain OFI Crete itu langsung mencetak sejarah.

Dia berhasil membawa Rumania lolos ke putaran final Piala Dunia 1994. Tak hanya itu, Iordanescu juga mampu memimpin Rumania menembus babak perempat final untuk pertama kalinya.

Sayangnya, dia gagal membawa Rumania berprestasi pada ajang Piala Eropa 1996 dan Piala Dunia 1998. Dia pun mendapat kritikan pedas dari media. Setelah Rumania tersingkir dari Piala Dunia 1998 di Prancis, Iordanescu memilih hengkang untuk melatih timnas Yunani.

Pada 2002, pria kelahiran Bucharest tersebut kembali dipanggil timnas Rumania. Namun, kiprah Iordanescu kali ini tak sesukses sebelumnya. Dia gagal memenuhi target membawa Rumania lolos ke putaran final Piala Eropa 2004.

Kegagalan itu sempat dia bayar dengan membawa Tricolorii menembus putaran final Piala Dunia 2006. Akan tetapi, Iordanescu kembali dipecat Federasi Sepak Bola Rumania (FRF) setelah penampilan buruk melawan Armenia.

Pada 2014, FRF memberikan kesempatan ketiga kepada pelatih yang membawa Al Hilal dan Al Ittihad meraih gelar Liga Champions Asia tersebut. Sejauh ini, dia sukses menjalankan tugasnya membawa Rumania ke putaran final Piala Eropa 2016.

Publik Rumania pun berharap Iordanescu bisa menyamai, atau bahkan melebihi, pencapaian Emerich Jenei yang mampu membawa Rumania menembus perempat final Piala Eropa 2000.
Legenda: 
Gheorghe Hagi


Rumania mencatat sejarah pada Piala Dunia 1994 dengan mencapai babak perempat final sebelum akhirnya disingkirkan Swedia lewat adu penalti. Hasil itu pun membuat para penggawa Rumania menjadi buah bibir.

Nama Gheorge Hagi mendapat paling banyak sorotan. Dia dianggap roh permainan Rumania saat itu. Memiliki jiwa kepemimpinan tinggi, Hagi pun mendapat julukan Comandante—Sang Komandan—dari fans Rumania.

Hagi yang ketika itu membela klub Italia, Brescia, juga terbilang tajam jika berada di jantung pertahanan lawan. Tiga gol berhasil dipersembahkannya untuk Tricolorii pada ajang tersebut.

Saat Rumania berhasil mencatat sejarah pada Piala Eropa 2000, Hagi juga yang menjadi bintang. Di bawah kepemimpinan Hagi saat berada di lapangan, Rumania sukses mencapai babak perempat final Piala Eropa untuk pertama kalinya.

Padahal saat itu, Hagi nyaris saja tak ikut serta karena sempat memutuskan pensiun pada 1998. Namun, beberapa bulan setelah gantung sepatu, dia mengubah pikirannya untuk kembali membela timnas Rumania.

Hagi bisa dibilang satu di antara pemain Rumania yang sukses. Memulai karier di Farul Costanta pada 1982, Hagi kemudian bersinar setelah tampil empat musim bersama Steaua Bucuresti.

Bersama klub raksasa Rumania tersebut, pria dengan postur 174 cm itu juga memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Akibat penampilan gemilang itulah Hagi direkrut raksasa La Liga, Real Madrid, pada 1990. Sayangnya, dia hanya mampu mempersembahkan gelar Piala Super Spanyol selama dua musim berseragam Madrid.

Karier Hagi memang tak begitu cemerlang di Spanyol. Ketika bergabung dengan Barcelona pada 1994, pemain yang hanya tampil 36 pertandingan bersama Blaugrana itu juga gagal mempersembahkan gelar bergengsi.

Hagi baru kembali memperlihatkan kemampuan terbaiknya di klub Turki, Galatasaray. Tampil sebanyak 132 kali, Hagi mencetak 79 gol selama lima musim.

Pada 2001, tepat di usia ke-36, Hagi memutuskan gantung sepatu. Dia kemudian beralih pekerjaan menjadi pelatih timnas Rumania. Namun, dia akhirnya dipecat lantaran tak mampu membawa timnya lolos ke Piala Dunia 2002.
Sumber: Bola.com

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments