}); JR Saragih Sudah Sedeng? Daerah "Bangkrut", Eh Justru Membangun Rumah Dinas Mewah | BeritaSimalungun
Home » , , , , » JR Saragih Sudah Sedeng? Daerah "Bangkrut", Eh Justru Membangun Rumah Dinas Mewah

JR Saragih Sudah Sedeng? Daerah "Bangkrut", Eh Justru Membangun Rumah Dinas Mewah

Written By Beritasimalungun on Sunday, 4 September 2016 | 21:42

Pagu Proyek Pembangunan Rumah Dinas Bupati Simalungun dengan Penunjukan Langsung.
"DaERAH “BANGKRUT” MEMBANGUN RUMAH DINAS MEWAH. HENTIKAN PROYEK KESENANGAN BUPATI DALAM KESULITAN RAKYAT SIMALUNGUN DAN HENTIKA BIRUISASI SIMALUNGUN!"

BeritaSimalungun.com, Raya-Lima tahun lalu sebenarnya JR Saragih sudah membangun rumah baru di Raya. Alasannya supaya dekat kantor – tidak jauh dari Siantar. 

Ternyata rumah dinas yang di Siantar itu dijual (pinjamkan 30 tahun). Di samping rumah dinas baru itu dibangun juga satu unit quest house tetapi entah mengapa setelah rebut-ribut pemeriksaan kini bangunan itu sudah dibongkar tak berbekas.

Kini rumah dinas itu dijadikan kantor Dikjar. Namanya rumah dijadikan kantor jadinya kacau. Ada dinding yang dibongkar, ada yang ditambah seperlunya tanpa memperhatikan estetika dan kelayakan. 

Di kantor itu sekarang ada plang stainless yang besar dempet dengan dinding lantai dua, mengganggu pikiran orang yang berlogika. 

Ruangan juga serba darurat, ada yang mejanya menyempil di gang, ada yang teronggok di sudut sana. Meja juga nampaknya tidak tersedia maka yang sudah bulukanpun dipakai. 

Keadaannya précis penampungan sementara karena bencana. Padahal kantor dinas masih utuh dan luas. Bupati Simalungun ini memang suka pindah memindah kantor dinas. Kadang hanya tukaran dinas yang berdekatan seperti dinas kesehatan dengan dinas pendidikan dua tahun lalu.

Kini bupati hendak membangun rumah dinas baru berbiaya hampir Rp 9 milyar. Biaya ini tergolong sangat besar untuk situasi Simalungun. 

Tidak heran kalau di medsos di bully sebagai rumah dinas termewah di Indonesia dan pemborosan. Bicara pemborosan bukan ini saja bupati JR Saragih ini menjadi sorotan. Biaya hidup dua puluh juta lebih tiap hari, kemana-mana naik heli, mobil dinas mewah…dll.

Keadaan ini terbalik dengan situasi nasional saat ini. Menkeu justeru memotong anggaran yang tidak penting. Sementara Pemda Simalungun yang dikatakan “daerah bangkrut” dan hutangnya banyak Justeru menghabiskan anggaran untuk yang diada-ada. 

Fitra melalui majalah Gatra melansir Simalungun terancam bangkrut karena utang dan merupakan kabupaten terkecil biaya pembangunannya (belanja modal) terrampas oleh biaya perut.

Bersamaan dengan pemborosan rumah dinas pada saat ini juga sedang sibuk mencat biru semua bangunan Pemda. Dari kantor bupati, kantor dinas kantor camat sekolah –sekolah semua di cat biru. 

Tembok jalan juga di cat biru. Lebih parah dari biruisasi orde baru. Tentu biruisasi ini juga adalah kesenangan bupati yang ketua Partai Demokrat. 

Bertentangan dengan warna khas Simalungun putih hitam merah, tidak mengenal biru (tidak ada makna warna biru dalam kultur Simalungun). 

Contoh photo SMU Sidamanik, Kantor Camat Sidamanik dan SD di Pongkalan Buntu. Saat ini tidak ada satu ruas jalan kabupaten di Kabupaten Simalungun yang bagus, semuanya rusak! 

Bahkan jalan penghubung kecamatan Raya ke Raya Kahean sudah tidak bisa dilalui kenderaan mobil. Bangunan sekolah di Simalungun banyak yang tidak layak pakai. 

Lantainya sudah terkelupas lalu menyembulkan debu. Kursi meja juga reot-reot dan jumlahnya tidak cukup. Rumah dinas guru banyak yang tidak layak huni dan jumlahnya kurang. Sejak dibangun puluhan tahun lalu tidak pernah direnovasi maka atap bocor, lantai terkelupas, dinding kusam.

Suatu yang aneh dengan rumah dinas di Simalungun adalah rumah dinas wakil bupati yang ditempati oleh Kepala Kejaksaan Negeri Simalungun. 

Bagaimana lagi Kejaksaan Simalungun mengawasi Pemda Simalungun kalau dia saja tinggal di rumah dinas Pemda? Bagaimana control masyarakat mengawasi orang Pemda bebas bertemu tiap saat dengan Kajari siang atau malam?

Kita menyesalkan lemahnya pengawasan BPK maupun DPRD, Kejaksaan, dll. Semuanya lolos. Yang berjalan hanya pengawasan masyarakat yang tidak punya kewenangan langsung mengoreksi.

Namun demikian untuk yang berpikiran sehat control sosial masyarakatpun sudah cukup, maka diserukan hentikan proyek kesenangan bupati dalam kesulitan masyarakat itu! (Penulis Kurpan Sinaga)


Bangunan Biruisasi di Simalungun.


Bangunan Biruisasi di Simalungun.


Bangunan Biruisasi di Simalungun.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

Anonymous
4 September 2016 at 22:57

Orang lumpuh dibuat berjalan. Orang buta dibuat melihat. Orang sakit disembuhkan, bahkan orang mati dihidupkanNYA... Entahlah, adakah mujizat untuk orang bebal... ??? Jika ada, semoga mujizat itu pun 'berlaku' untuk Kabupaten Simalungun...!

Post a Comment