}); Mbah Gotho, Pria 146 Tahun Ingin Segera Meninggal | BeritaSimalungun
Home » , , » Mbah Gotho, Pria 146 Tahun Ingin Segera Meninggal

Mbah Gotho, Pria 146 Tahun Ingin Segera Meninggal

Written By Beritasimalungun on Friday, 2 September 2016 | 09:51

Mbah Gotho, Pria 146 Tahun Ingin Segera Meninggal
Mbah Gotho di rumahnya, Desa Sambung Macan, Sragen, Jawa Tengah, Rabu 31 Agustus 2016. Antara Foto/Maulana Surya

BeritaSimalungun.com, Sregen-IA sudah lama mendamba dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. Bahkan, pada 1993, ia sudah menyiapkan nisan untuk kuburannya.
 
Namun, Tuhan rupanya masih menghendakinya untuk menikmati laju roda zaman. Itulah Sodimejo yang akrab dipanggil Mbah Gotho.Videonya KLIK Disini
 
Lelaki asal Dusun Segeran RT 018/008, Desa Cemeng, Kecamatan Sambung Macan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, ini disebut-sebut berusia 146 tahun.
 
Usianya itu jauh melampaui Jeanne Calment, orang tertua di dunia yang meninggal dunia pada 1997 dalam usia 122 tahun 164 hari.

Mbah Gotho di rumahnya. Antara Foto/Maulana Surya


Mbah Gotho terlahir dengan nama kecil Saparman di Desa Cemeng. Berdasarkan data yang tercantum pada kartu keluarga dan KTP miliknya, ia lahir pada 31 Desember 1870.
 
Kalau data itu terverifikasi, artinya orang tertua di dunia yang masih hidup saat ini ialah dirinya.
 
Selain data dalam dokumen kependudukan itu, memang belum ada data lain yang menguatkan kebenaran usia Mbah Gotho tersebut. Namun, jika menyimak penuturannya, kemungkinan besar data itu benar.
 
Di usainya kini, Mbah Gotho masih memiliki ingatan sangat kuat. Ia menuturkan, dirinya lahir pada Kamis Wage, bulan Sapar.
 
Oleh karena itu, orang tuanya, Setrodikromo dan Saliyem, memberinya nama Saparman. Soal tahun kelahirannya, Mbah Gotho mengaku tidak ingat persis.
 
Namun, ia melihat proses pembangunan Pabrik Gula Gondang. Ketika pabrik itu diresmikan, dia ikut menonton.
Menurut catatan sejarah, pabrik gula yang masa operasinya tidak lama karena lokasi tidak sesuai dengan rencana awal itu dibangun pada 1880.
 
"Waktu itu saya sudah bisa membantu Bapak membajak di sawah," kata Mbah Gotho yang kini tinggal dan dirawat di rumah cucunya, Suryanto.

Mbah Gotho di rumahnya. Antara Foto/Maulana Surya
 
Kepala Desa Cemeng, Sriyanto, 54, memperkuat pengakuan Mbah Gotho.
 
Hal itu berdasarkan cerita dari salah seorang sesepuh desa bernama Mbah Dipo yang meninggal dunia sekitar lima tahun lalu dalam usia 112 tahun.
 
"Mbah Dipo pernah mengatakan, ketika beliau masih kanak-kanak, Mbah Gotho itu sudah dewasa dan menikah," katanya.
 
Mbah Gotho merupakan anak kedua dari sebelas bersaudara. Sepanjang hidupnya, ia menikah empat kali. Semua istrinya sudah meninggal.
 
Dari pernikahan itu, Mbah Gotho dikaruniai empat anak, dua di antaranya sudah meninggal dunia. Anaknya yang masih hidup memberikankan 12 orang cucu, 17 cicit, dan dua canggah.
 
Mbah Gotho mengaku tidak memiliki rahasia apa pun hingga berumur panjang. Namun, sejak muda dia sudah melatih diri untuk selalu sabar dan menerima takdir apa adanya.
 
Mbah Ghoto sudah tidak memiliki hasrat pada kehidupan duniawi. Ia ingin segera menghadap Sang Khalik. (*)

Sumber: http://news.metrotvnews.com
   
Share this article :

Post a Comment