Menjadi Demonstran

Written By Beritasimalungun on Sunday, 23 October 2016 | 22:18

ILUSTRASI

BeritaSimalungun.com-Pagi ini tiba-tiba saja pikiranku menerawang ke masa lalu. Masa lalu yang sudah berlalu. Dan aku tahu sekali, masa lalu cuma kenangan sedang hidup yang sesungguhnya adalah hari ini. 

Tapi begitu pun, bertamasya ke masa lalu kadang memang nikmat dan menyenangkan. Sementara, sejak lahir aku memang suka yang nikmat-nikmat dan menyenangkan. Buah dada misalnya. Buah dada Mamakku.


Terawangku pagi ini, entah mengapa berputar-putar pada era orde baru. Lebih tepat barangkali, masa di akhir-akhir kekuasaan Soeharto, penguasa orde baru itu. 

Puluhan tahun tertekan, belakangan muncul keberanian untuk melakukan protes. Meski pun, pemerotes akan akrab dan dekat dengan penjara. Sudah banyak contoh. 

Mian Marpaung misalnya, seorang tokoh buruh NV STTC Pematangsiantar. Termasuk Batara Manurung yang sekarang menjadi salah seorang komisioner KPU Pematangsiantar.

Tak ketinggalan pentolan-pentolah mahasiswa di FKIP Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Sering dilakukan diskusi-diskusi di bawah rerimbunan pepohonan di pekarangan kampusnya yang luas. 

Topiknya berkutat pada para penguasa yang korup dan lalim. Dan selalu, diskusi berlangsung hangat mengarah debat. Meski pun cuma penganan goreng ubi atau pisang rebus yang tersuguh.

Sekarang, banyak sudah yang saya sudah lupa nama-nama pentolan-pentolan itu. Di antara yang saya ingat ada Rindu Erwin Marpaung, Batara Tampubolon, Batara Manurung, Martin Aritonang, Hardono Poerba yang sekarang menjadi Kepala SMA Negeri Silou Kahean, Eriwayati Simatupang yang menjadi istri Batara Tampubolon dan sekarang menetap di Lubukpakam.

Dari STT HKBP yang kampusnya berdampingan dengan FKIP Universitas HKBP Nommensen di Jalan Sangnawaluh, ada Edi Manullang, Agus Manullang, dan banyak lagi. 

Sekarang, mereka sudah menjadi pendeta. Pendeta di HKBP na bolon i. Pdt Agus Manullang, sempat juga menjadi Komisioner di KPU Humbang Hasundutan. Juga Sony Berutu, yang sekarang menjadi Ketua DPRD Pakpak Bharat.

Sesekali, ada juga pertemuan antar mahasiswa beberapa perguruan tinggi di Siantar. Yang lebih aktif dan progresif adalah mahasiswa Universitas Simalungun. Kalau pertemuan antar mahasiswa PT di Siantar dilakukan, akan lebih riuh dan meriah. 

Semangat untuk melakukan protes dalam bentuk demo besar-besaran akan semakin membara. Bakar membakar pun sulit dielakkan. Dan kondisi yang seperti ini akan segera berurusan dengan yang berwajib. 

Tak jarang, penanggung jawab demo harus menginap beberapa waktu di Mapolres Simalungun, di Jalan Sudirman sana.

Kalau ada pertemuan antar mahasiswa untuk merancang demo, darahku terasa berkobar-kobar. Bahkan, bagai mendidih dan menggelegar. Sepertinya memang, dalam darahku mengalir gen pemberontak. 

Memberontak melawan kelaliman, ketidakadilan. Gen pemberontak itu barangkali berasal dari Bapakku. Dulu, sudah lama, di masa mudanya Bapakku dicatat sejarah sebagai salah seorang pemberontak. Meski pun tidak setenar almarhum Kolonel Maludin Simbolon atau Kahar Muzakar atau Andi Azis.

Turun ke jalan-jalan terutama di jantung Kota Pematangsiantar, belakangan menjadi hobbi dan kegemaran kami. Teriak-teriak bernada protes terhadap penguasa. 

Ribut-ribut, dan ketika aparat keamanan coba-coba menghalang, bentrok pun sulit dihindarkan. Saat-saat seperti ini sangat dramatis. Menjurus pada huru-hara. Diawali dengan hore-hore dan hura-hura sambil bakar membakar ban bekas, biasanya akan berakhir dengan huru-hara.

Untuk mencari ban bekas untuk dibakar di tengah jalan, mobil tuaku Kijang Camat selalu siap dan ready. Mobil berplat merah yang kudapat dari Kanwil Departemen Penerangan Sumatera Utara itu, selalu menjadi ‘lonte’ Artinya, dipakai oleh siapa saja entah kemana-mana. Antar jemput demonstran, atau berkeliling Siantar untuk mencari ban bekas. 

Hardono Poerba misalnya, bisa bawa mobil karena belajar mengemudikan mobil tuaku itu. Meski pun, mobilku itu harus korban karena dipakai Hardono belajar mengemudi hingga menabrak pohon di Kampus Nommensen.

Sekarang, Hardono sudah memiliki mobil bagus mulus terbilang mewah. Maklum sajalah, sekarang dia kan sudah menjadi Kepala SMA Negeri di tanah asal leluhurnya, Silou Kahean di perbatasan Simalungun - Serdang Bedagai sana. 

Bagi seorang Kepala SMA Negeri sekarang ini, tak sulit untuk mendapatkan dan memiliki mobil bagus dan mulus. Tidak seperti zaman Bapakku dulu waktu menjadi Kepala SMA Negeri.

Mobilku itu belakangan dibeli sejawatku Osborn Siahaan dengan harga perkilogram. Artinya, waktu mobilku itu terduduk di bengkel di Jalan Medan dekat RS Horas Insani, Osborn Siahaan menjumpai istriku. 

Dia membujuk istriku agar mobilku itu dibelinya. Entah bagaimana sampai sekarang aku tak tahu, istriku mau saja akhirnya menjual mobil itu kepada Osborn Siahaan yang belakangan menjadi Kabag Humas Pemkab Humbang Hasundutan. Bagaimana pun, mobil tuaku itu pernah menyumbangkan tenaganya untuk menumbangkan rezim orde baru.

Di ujung kekuasaan orde baru, keberanian (mahasiswa) semakin menggebu. Turun ke jalan tak lagi barang haram. Bagai anak panah dilepas dari busurnya, hampir sepanjang pekan ada saja demo di Siantar. 

Menggelegar, berkobar, dan akrab dengan bakar membakar. Sesekali mobilku aku umpan di tengah jalan agar ikut dibakar para demonstran. Sialnya, tak pernah kejadian. 

Padahal, kalau mobilku ikut menjadi korban dan dibakar massa tentu aku akan mendapatkan mobil baru sumbangan kawan-kawan.

Sebuah peristiwa yang amat dramatis pernah aku alami bersama istriku Delfria Simanullang dan putra sulungku Marco Hutabarat. Waktu itu, para demonstran merencanakan demo mulai dari Makam Pahlawan hingga perempatan Jalan BDB di lampu merah Jalan Medan di samping Rumah Makan Garuda sekarang. Aku dan istriku menjemput putraku Marco dari sekolahnya di SMP Cinta Rakyat Jalan Sibolga. Waktu itu, dia masih Kelas I SMP.

Marco kami bawa ke pusat demo, persis di depan Penginapan Tamariah. Dalam hatiku ingin menunjukkan pada putraku ini betapa sebagai Bapaknya aku seorang yang gagah perkasa mampu memimpin demo besar-besaran. 

Tapi saat aksi berlangsung menjurus ganas, kasar, bahkan brutal, mendadak petugas keamanan bersikap tegas. Tiba-tiba bukan saja gas air mata yang mereka gunakan untuk menghalau demonstran, tapi juga tembakan yang ‘katanya’ mengarah ke atas.

Dentuman peluru (katanya peluru karet) memporakporandakan segala aktifitas demo dalam hitungan detik. Kami secara spontan berupaya menyelamatkan diri masing-masing. Lari tak tentu dan tak jelas arah entah kemana. 

Yang penting menghindar dari terjangan peluru. Di tengah kerumunan orang-orang yang berupaya menyelamatkan dirinya, aku tak melihat dimana dan bagaimana putraku Marco Hutabarat. Istriku sempat aku lihat berdesak-desakan dan tertindih puluhan orang yang memaksa memasuki rumah seorang warga di samping Toko Bunga Deboris. 

Dalam situasi yang seperti itu, sempat juga kulihat rok yang dikenakan istriku tersingkap. Pahanya mulus. Darahku tersirap.

Hura-hara itu pun tak jelas bagaimana ujungnya. Aku dan istriku segera pulang ke rumah kami yang waktu kami kontrak di Jalan Sangnawaluh 10 A, persis di samping Megaland sekarang. Masih dalam kondisi ngos-ngosan, aku tidak melihat putraku Marco di rumah. Segera aku keluar lagi mencari dia. Di dekat Puskesmas Kesatria dia kulihat dengan wajah kuyu dan pucat.


“Tadi Abang lari ke arah rel kereta api. Peluru lewat dari telinga awak Pak”, katanya masih dengan wajah terkesan ketakutan. Kuusap kepalanya. Kubawa dia pulang ke rumah. Dalam hati aku mengatakan, tak akan mengajak serta istri atau anak-anakku kapan pun lagi untuk berdemo ria.

Lewat zaman orde baru, hobbi dan kebiasaan serta kegemaranku berdemo ria masih tersisa. Makanya, begitu diajak Johalim Purba sekarang Ketua DPRD Simalungun berdemo-demo di bawah bendera GEMPA (Gerakan Masyarakat Peduli Anggaran), tentu saja aku mau saja. Johalim yang nama FB-nya Jepe ini, memang seorang yang gemar dan hobbi pula berdemo ria memprotes kelaliman, ketidakadilan dan memberantas korup.

Masa-masa berdemo ria di bawah bendera GEMPA, aku memang merasa plong dan bahagia. Apalagi orator kami saat itu Hermanto Sipayung yang sekarang Wartawan Metro Siantar dan dedengkot GEMPA Resman Saragih yang sekarang petinggi Pemkab Simalungun, merupakan orang-orang yang sangat dinamis, tanggap dan responsif.


Sekarang, aku sudah terbilang tua. Kalau pun masih tersisa kegemaran dan hobbi berdemo ria, agaknya sudah tak pantas lagi. Sekarang, aku sudah punya cucu tiga orang, Ryo, Celle dan Ikov. Ryo adalah putranya Marco Hutabarat dan Menantuku Yoana Agustina, sedang Celle dan Ikov adalah putra anak keduaku Bram Adriant Pattinama Hutabarat dan Menantuku Mirza Susanna Imelda Sihombing. (Siantar Estate, 23 Oktober 2016-Ramlo R Hutabarat)
Share this article :

Post a Comment