Home » , , » Debat Pilkada DKI, Netizen Pertanyakan Penganggaran Program RT/RW

Debat Pilkada DKI, Netizen Pertanyakan Penganggaran Program RT/RW

Written By Beritasimalungun on Saturday, 14 January 2017 | 09:23

Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono. Foto: MI     

BeritaSimalungun.com, Jakarta-Reaksi kaget yang ditunjukan netizen terhadap penampilan pasangan calon gubernur dan wakil gubenrnur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni dalam debat Pilkada DKI 2017, cukup tinggi. Respon itu kerap muncul di setiap waktu pasangan nomor urut satu itu berbicara, terutama saat membahas soal program bantuan Rp1 miliar per tahun per rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW).

Rustika Herlambang, analis dari Indonesia Indikator, mengatakan, reaksi kaget bisa positif, tapi juga negatif. Namun, menurut dia, itu biasanya lebih condong kepada reaksi negatif.

Menurut Rustika, reaksi kaget itu paling banyak muncul saat Agus membicarakan soal program bantuan RT/RW. Saat itu, kata dia, netizen mempertanyakan penganggaran program tersebut.

"Dia (reaksi kaget) muncul di RT/RW, yang di situ dia bertanya lah itu duitnya dari mana? Nah itu munculnya banyak sekali," kata dia.

Sementara itu, timses Agus-Sylvi, Tjatur Sapto Edy mengatakan, anggaran yang diperlukan untuk program bantuan tak seberapa bila dibandingkan dengan Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) DKI yang mencapai Rp70 triliun. Sebab, anggaran yang dibutuhkan buat RT/RW per tahun hanya RP2,7 triliun dan PSLM Rp650 miliar, total Rp5 triliun.

"Total itu sekitar Rp5 triliun per tahun, jauh dari Rp70 triliun semuanya ini, APBD," kata Tjatur.

Ketika Paslon Saling Sindir 

Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kedua kanan) didampingi Djarot Saiful Hidayat (kanan) mendengarkan pertanyaan dari pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono (kedua kiri) dan Sylvi.
Suasana debat kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI sempat memanas. Mereka saling melontarkan kalimat sindiran pada sesi tanya jawab antarpaslon.

Perdebatan diawali oleh calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut satu Basuki Tjahaja Purnama dengan calon Wakil Gubernur nomor urut satu Sylviana Murni. Mereka berdebat masalah permukiman penduduk. 

Menurut Sylvi, Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Ahok banyak melanggar aturan dalam menggusur. Menurut dia, masyarakat hidup susah setelah digusur.

"Saya jadi bingung, bagaimana dengan Bukit Duri menang, kalau seorang pemimpin harus evaluasi, apakah ini menabrak hukum atau tidak. Menggusur tak pernah memikirkan dampaknya, siapa yang bertanggung jawab? Pemimpin harus punya hati," sindir Sylvi disambut sorakan pendukungnya, di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (13/1/2016).

Ketika Paslon Saling Sindir

Suasana debat kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI sempat memanas. Mereka saling melontarkan kalimat sindiran pada sesi tanya jawab antarpaslon.

Perdebatan diawali oleh calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut satu Basuki Tjahaja Purnama dengan calon Wakil Gubernur nomor urut satu Sylviana Murni. Mereka berdebat masalah permukiman penduduk.

Menurut Sylvi, Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Ahok banyak melanggar aturan dalam menggusur. Menurut dia, masyarakat hidup susah setelah digusur.

"Saya jadi bingung, bagaimana dengan Bukit Duri menang, kalau seorang pemimpin harus evaluasi, apakah ini menabrak hukum atau tidak. Menggusur tak pernah memikirkan dampaknya, siapa yang bertanggung jawab? Pemimpin harus punya hati," sindir Sylvi disambut sorakan pendukungnya, di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (13/1/2016).

Ahok lantas bingung mendengar pernyataan Sylvi. Musababnya, saat Sylvi masih menjabat di Pemprov DKI, Sylvi meyakinkan masyarakat yang digusur akan mendapat kehidupan layak. Ahok menambakan, Sylvi juga selalu menggunakan kata relokasi saat sosialisaai kepada warga.

"Saya juga bingung. Saya bukan gusur, saya menata. Jadi jangan bodohi masyarakat dengan kata-kata menggusur. Mungkin jadi gubernur karena mau menang, tapi menang dengan cara elegan lah," ujar Ahok.

Moderator debat, Dwi Noviratri Koesno yang akrab disapa Ira Koesno mempersilahkan calon Gubernur nomor urut tiga Anies Baswedan untuk bertanya kepada pasangan Ahok-Djarot Saiful Hidayat. Anies mempertanyakan siasat Ahok-Djarot dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Menurut Anies, pasangan petahana itu selalu mengedepankan pembangunan fisik.

"Selama ini yang dibangum hanya fisik saja, jalan, jembatan, trotoar, tapi manusianya?" tanya Anies.

Ahok menjawab bertanyaan itu dengan lugas. Menurut dia, Pemprov DKI membangun berbagai sarana untuk warga Jakarta. Program KJP dan KJS juga untuk masyarakat yang tidak mampu.  Kata Ahok, warga DKI saat ini juga tak perlu khawatir masalah banjir. Bekas Bupati Belitung Timur itu mengklaim pihaknya telah mengurangi 2/3 kawasan banjir di Jakarta.

"Kita harus membuat penuh otak, perut, dan dompet warga Jakarta," ujar Ahok.

Anies tak puas. Kata dia, jawaban Ahok tak nyambung. Dia meminta Ahok menyebutkan apa saja yang sudah dilakukan Pemprov DKI dalam upaya pembangunan SDM.

Ahok menimpali, "Ini bedanya. Kita melakukan kebijakan berdasarkan fakta di lapangan. Berbeda dengan dosen yang hanya mengajarkan teori-teori di kampus,"

Anies membalas, seorang pemimpin tidak hanya harus bisa bekerja, tapi juga harus mampu berkomunikasi dengan warga. Dia mengkritik gaya komunikasi Ahok.

"Jangan sepelehkan perkataan. Jangan sampai perkataan justru memecah belah bangsa," sindir Anies.

Sorak sorai massa pendukung bergemuruh. Para pendukung terus berteriak. Melihat kondisi mulai memanas, Ira meminta para pendukung tetap tenang.

"Saya tahu kondisinya sudah mulai memanas. Tapi kita harus taat agar acara ini dapat selesai tepat waktu," pinta Ira.

Suasana belum redah, Sylvi justru membikin suasana bertambah heboh. Bekas Wali Kota Jakarta Pusat ini menyapa Anies dengan sebutan menteri.

"Assalamu'alaikum Pak Menteri, eh Pak Anies," ucap Sylviana saat memberikan pertanyaan kepada Anies.

Ucapan Sylvia sontak membikin Auditorium Birawa bergetar. Massa pendukung kembali beradu teriakan.

Saat itu, Sylvi menanyakan pandangan Anies terkait keamanan di Jakarta. Menurut Sylvi, sebagai seorang pendidik, Anies tentu dapat memberikan solusi untuk meredam angka kriminalitas.

Anies menjawab, keamanan sebuah kota tergantung siapa pemimpinnya. "Damai bukan ditandai dengan tidak adanya kekerasan. Damai ditandai dengan adanya rasa keadilan." (*)


Sumber: Metrotvnews.com

Share this article :

Post a Comment