Home » , » Sah Sudah, Hefriansyah Jadi Wakil Walikota Pematangsiantar

Sah Sudah, Hefriansyah Jadi Wakil Walikota Pematangsiantar

Written By Beritasimalungun on Thursday, 23 February 2017 | 08:17


BeritaSimalungun.com, Medan-Akhirnya, sah sudah Hefriansyah Noor menjadi Wakil Walikota Pematangsiantar. Itu ditandai dengan pelantikannya Rabu sore (22/2/2017) oleh Gubernur Sumatera Utara T Eri Nuriadi atas nama Mendagri, di Lantai II Kantor Gubenur Sumatera Utara di Jalan Diponegoro Medan.

Hadir seribuan undangan mau pun yang tak diundang. Semua menunjukkan wajah-wajah ceria. Cerah, dan hujan pun mengguyur saat detik-detik pelantikan dilakukan.

“Semua yang hadir disini adalah orang-orang yang berjasa atau merasa berjasa atas kemenangan pasangan Hulman Sitorus - Hefriansyah Noor dalam pilkada barusan”, kata Ulamatuah Saragih, diaminkan Batara Manurung yang saya ajak berbincang di sela-sela acara pelantikan.

“Semua yang hadir disini sekarang, adalah orang-orang yang berharap pada Hefriansyah Noor. Tapi menyusul hanya hitung bulan kedepan, kebanyakan mereka akan kecewa bahkan ada yang menyesal”, kata saya. 

Ulamatuah Saragih dan Batara Manurung terlihat mengangguk. Meski pun tak jelas dan tak pasti apakah anggukan keduanya menunjukkan mereka setuju dengan ucapan saya. Soalnya, mengangguk belum tentu membenarkan atau setuju. Boleh jadi karena urat lehernya terasa sakit. Keseleo atau salah tidur misalnya.

Yang tak kalah menarik, pada pelantikan ini tampak banyak hadir komunitas masyarakat Melayu. Dalam sebuah acara sebelumnya di Gedung Bank Sumut, T Eri Nuraidi di celah pidato sambutannya mengatakan, hari ini ada peristiwa besar terjadi di Sumatera Utara. Seorang tokok muda Melayu akan dilantik sebagai Wakil Walikota Pematangsiantar.

“Dia itu kan anak main dan kadernya Ali Umry”, kata OK Rahmadhani, seorang di antara undangan yang datang dari Batubara.

Beberapa komunitas masyarakat Melayu yang saya kuping saling ngobrol. Secara umum mereka sangat bangga Hefriansyah menjadi Wakil Walikota Pematangsiantar. 

Makanya, banyak hadir warga Melayu pada acara pelantikan itu. Ada yang datang dari Serdang Bedagai, Deli Serdang, Batubara, Asahan bahkan dari Labuhanbatu, Langkat dan Kota Medan sendiri. Bahkan keturunan Sultan atau OK banyak yang hadir tutur mereka. Sayangnya, saya tidak hafal nama-nama mereka.

Kalau dari Siantar, agaknya yang hadir berasal dari etnis apa saja. AdaSimalungun, Karo, Pakpak, Nias, Toba, Samosir, Humbang dan Silindung. Juga Mandailing, Angkola mau pun Sipirok, Minangkabau, Jawa, atau keturunan Pakistan. 

Tidak ada saya lihat seorang pun Cina. Dari komposisi kehadiran itu agaknya merupakan gambaran dukungan massyarakat Kota Pematangsiantar terhadap Hefriansyah.

Ada juga terlihat mereka yang berasal dari kalangan pengusaha, politisi, birokrat dan entah apa lagi. Khususnya, para birokrat Pemko Pematangsiantar terlihat datang bergerombol atau berkelompok. 

Yang saya lihat ada Kelompok Baren Alijoyo Purba bersama Pariaman Silaen dan beberapa lainnya. Ada juga Kelompok Rumondang Sinaga, dan kelompok-kelompok lainnya. Saya tidak melihat Reinward Simanjuntak, Leo Simanjuntak apalagi Kartini Batubara.

Saya tidak sempat melihat-lihat bunga papan yang dipasang di pekarangan Kantor Gubernur Sumatera Utara secara keseluruhan. Cuma beberapa saja yang ‘terlanjur’ saya lihat bunga papan yang berasal dari Gandi Tambunan, juga Dr Ronald Saragih. 

Gandi Tambunan adalah mantan Sekda Tapanuli Utara dan mantan Kepala Dinas Perumahan Sumatera Utara yang sekaligus menjadi pengusaha. Hefriansyah kabarnya berkantor di gedung yang sama dengan Gandi Tambunan di Jalan Multatuli.

Saya juga tidak melihat Abanganda Syahrial Ams, yang setahu saya kerabat Hefriansyah Noor. Dulu, saya, Gandi Tambunan, Syahrial Ams dan Amri Tambunan tinggal dan menetap di kawasan Jalan Multauli dan Haji Miscbah, dekat Polonia sana. 

Tapi antara saya dan Syahrial Ams serta almarhum Amri Tambunan yang mantan Sekdakot Medan dan mantan Bupati Deli Serdang itu terpaut usia belasan tahun. 

Waktu zaman ganyang-ganyang PKI, Abanganda Syahrial Ams dan Gandi Tambunan serta Amri Tambunan, sudah menjadi pionir, sedang saya masih ngekor-ngekor. Anak bawang, istilah Medan-nya.

Kembali pada pelantikan Hefriansyah, seribuan orang berjejal berbaris bagai ikan rebus dalam keranjang menjabat telapak tangannya sebegitu acara pelantikan usai. 

Saya tidak latah ikut-ikutan menyalaminya, sakin berjejal dan padatnya antrian itu. Dari dulu saya nggak berbakat menyalami orang yang dilantik untuk menduduki jabatan tertentu. Apalagi, kalau seseorang yang dilantik itu tidak saya kenal secara dekat.

Saya memang hampir tidak mengenal Hefriansyah secara fisik sebelum dia terpilih menjadi Wakil Walikota Pematangsiantar. Waktu proses pilkada Pematangsiantar sedang berlangsung, saya paling-paling kenal namanya saja. Namanya pun, Calon Wakil Walikota. Tentu saja namanya ‘marsaringar’ dimana-mana. Disebut-sebut orang banyak dan ditulis di surat kabar atau media online.

Saya mulai mengenal Hefriansyah saat hari pemakaman almarhum Hulman Sitorus. Jelang acara pemakaman, saya ngobrol dengan teman saya Tahan M Panggabean dan rombongan DPD Partai Demokrat Sumatera Utara serta Johalim Purba yang Ketua DPRD Simalungun dan Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara di Lobby Siantar Hotel. Tiba-tiba Hefriansyah Noor datang bersama Abanganda Syahrial Ams serta istrinya Hj Siti Aminah Lubis yang saya panggil Kakak.

“Kawal saya Tulang ya”, kata Hefriansyah saat itu kepada saya. Baru kali itulah saya mendapat tahu, istrinya adalah Boru Hutabarat setelah diberi tahu Abanganda Syahrial Ams. Saya cuma mengangguk. 

Bagi Orang Batak, Borunya memang wajib dikawal. Bahkan dilindungi dan dibela sampai mati. Sampai tetes darah terakhir. Sebenarnya secara Adat Batak, saya bukan Tulang Hefriansyah Noor. Dan dia bukan Bere saya. Kalau istrinya Boru Hutabarat, itu artinya saya hula-hulanya. Sedang dia merupakan Raja ni Parboruan saya.

Setelah itulah, beberapa kali antara saya dan Hefriansyah terjadi komunikasi. Tapi terus terang, saya tak terlalu suka berkomunikasi dengannya. Kenapa ? Nggak tahu persis saya. Yang saya tahu persis, saya nggak cocok berkomunikasi dengannya. Karena nggak cocok, ya nggak sukalah saya. Kenapa rupanya. Adong na keberatan ? (Medan, 22 Pebruari 2017-Ramlo R Hutabarat)
Share this article :

Post a Comment