}); Naik Becak, Gus Sholah Kunjungi GKPS Jalan Sudirman Pematangsiantar | BeritaSimalungun
Home » , , , » Naik Becak, Gus Sholah Kunjungi GKPS Jalan Sudirman Pematangsiantar

Naik Becak, Gus Sholah Kunjungi GKPS Jalan Sudirman Pematangsiantar

Written By Beritasimalungun on Thursday, 2 November 2017 | 18:44

Gus Sholah Wahid ke Tanah Batak Hadiri Puncak 500 Tahun Reformasi Martin Luther 
 
Gus Solah (berpeci) ketika mengunjungi Gereja GKPS Jalan Sudirman Pematangsiantar, Kamis (2/11/2017). (Istimewa)
BeritaSimalungun-Tokoh NU, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) blusukan ke Tanah Batak. Adik Kandung Presiden Gusdur ini tiba di Bandara Silangit sekitar Pukul 09:45 WIB, Senin (30/10/2017). Bersama istrinya, Farida, Gus Sholah menaiki pesawat Sriwijaya air dari Jakarta. 

Dia disambut Panitia perayaan Puncak 500 Tahun Reformasi Martin Luther, yakni Pdt Samuel Sitompul, Pdt Saor Hutagaol, Tokoh muda Batak Dunia, Sabar Mangadu Tambunan, dan Munir Aritonang pigak Kementrian Agama (Kemenag) Tapanuli Utara.

Terkait kehadirannya, Gus Sholah yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini menuturkan akan menghadiri undangan Perayaan Puncak 500 Tahun Reformasi Martin Luther. Perayaan itu akan dilaksanakan di Kantor Pusat HKBP Tarutung pada Rabu, 1 November 2017.

“Kedatangan saya untuk menghadiri undangan perayaan Puncak 500 Tahun Reformasi Martin Luther. Saya senang mengunjungi tempat yang belum pernah saya datangi. Ini pertama kali saya ke sini," ujarnya.

Selain menghadiri undangan HKBP, Gus juga juga berencana road show ke beberapa titik peradaban Batak lainnya, termasuk gereja GKPS Jalan Sudirman Pematangsiantar, Kamis (2/11/2017). Juga mendatangi sekolah yang siswanya mayoritas orang miskin di daerah Tapanuli Selatan.

Panitia Perayaan Puncak 500 Tahun Reformasi Martin Luther, Pdt Samuel Sitompul menyampaikan, Gus didaulat menjadi satu dari pembicara pada seminar. Seminar tersebut berthema "Liberated By God's Grace".

Alasannya menghadirkan Gus sebagai pembicara, karena ingin menjalin kerjasama antat elemen-elemen bangsa. Apalagi, Gus merupakan tokoh nasional sekaligus tokoh Muslim yang berpotensi mempersatukan Bangsa Indonesia.

Naik Becak Siantar

Sementara dalam kunjungannya ke GKPS Jalan Sudirman Pematangsiantar, Kamis (2/11/2017), Gus Solah menaiki Becak Siantar. Adik kandung mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gusdur) ini memuji kerukunan antar umat beragama di Kota Pematangsiantar.

“Saya sangat senang bisa melihat kenyataan sosial dimana sesama agama bisa bekerjasama dan bahkan tidak timbul gesekan-gesekan di sini. Ini bisa menjadi model, rujukan dan bisa menjadi contoh bagaimana perbedaan itu tidak harus membuat kita renggang,” pujinya saat diwawancarai wartawan di halaman GKPS Jalan Sudirman Pematangsiantar, Kamis (2/11/2017).

Kerukunan dan budaya yang dibangun di Pematangsiantar, kata Gus Solah, bisa menjadi role model sekaligus pelajaran bagi seluruh daerah yang ada di Indonesia atau bahkan dunia. Kerukunan yang terpelihara baik di Siantar ini, sambungnya, merupakan kekayaan besar bangsa Indonesia.

Bahkan, Gus Solah menyarankan kondisi Pematangsiantar bisa menjadi rujukan di banyak kota yang ada di Indonesia karena bisa menjaga keutuhan antar umat beragama. “Ini bisa menjadi contoh. Mungkin busa dibikin sebuah filem dokumenter yang disampaikan ke dunia atau berkerjasama dengan kota lain di dunia yang juga menjadi simbol persahabatan antar umat beragama,” saran Mantan Ketua Nahdatul Ulama (NU) ini.

Mantan anggota Komisioner Komnas HAM ini berpesan kepada masyarakat Siantar untuk mempertahan kerukunan antar umat beragama yang sudah dibangun sedemikian apik. 

“Kita pelihara kita rawat, kita sama-sama memiliki tanah Siantar, tanah Simalungun, kita sama-sama memiliki Negara Republik Indonesia. Tentu kita jaga supaya tetap seperti yang ada sekarang bahkan menjadi lebih baik ke depannya,” ujarnya.

Gus Solah menyampaikan perlunya belajar dari daerah yang pernah menjadi konflik, sepasti Ambon. Bagaimana Ambon bisa menghentikan konflik, kemudian bisa memulihkan kembali hubungan antar agama yang pernah terganggu. 

“Walaupun itu sebenarnya bukan konflik karena agama, tetapi kemudian ketika memakai nama agama menjadi sensitif atau sesuatu yang mendorong konflik,” jelasnya.

Gus Solah mengatakan tujuan agama yang sesungguhnya bukanlah memunculkan konflik. Sebab pesan agama itu adalah pesan kebaikan, pesan persaudaraan, pesan untuk melakukan bersama-sama memakmurkan dunia ini dan kesejahteraan dunia secara lahir dan batin. (Berbagai Sumber/BS)


 
Share this article :

Post a Comment