}); Bagaimanakah Hidup Harus Dijalani? (Antara GKPS Tinggi Saribu dengan GKPS Cikoko) | BeritaSimalungun
Home » , » Bagaimanakah Hidup Harus Dijalani? (Antara GKPS Tinggi Saribu dengan GKPS Cikoko)

Bagaimanakah Hidup Harus Dijalani? (Antara GKPS Tinggi Saribu dengan GKPS Cikoko)

Written By Beritasimalungun on Monday, 29 January 2018 | 09:45

Pdt Defri Judika Purba

Oleh: Pdt Defri Judika Purba

BeritaSimalungun-Hari ini (Minggu 28 Januari 2018) saya melayani ke GKPS Tinggi Saribu. Apa yang saya hadapi sangat berbeda jauh dengan apa yang saya alami minggu yang lalu.

Minggu lalu saya melayani di salah satu jemaat di Kota Jakarta, yaitu GKPS Cikoko. Jemaat ini termasuk jemaat yang mapan dilihat dari program dan dukungan dana.

Gedung gerejanya sudah permanen dengan balkon di atas pintu masuk ada terpasang beberapa AC di dinding, membuat suasana tambah sejuk dan adem. 

Kursi untuk jemaat berjejer rapi membentuk formasi empat baris. Sound system sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan suara yang mengganggu. 

Sekeras apa-pun song leader mengeluarkan suara, tidak akan bisa mendominasi suara jemaat. Betul-betul penataan audio yang sudah melibatkan aspek akustik ruangan. 

Sudah tersedia lapangan parkir yang memuat mobil jemaat. Walau tidak terbilang luas, lahan parkir cukuplah menampung mobil jemaat yang datang beribadah, di tambah bahu jalan di depannya. Di samping parkir tersedia gedung sekolah minggu bertingkat yang terdiri dari beberapa ruangan kelas.

Warta jemaat memuat dengan rinci program yang sedang dikerjakan dan akan dikerjakan. Untuk program jemaat, saya perhatikan didominasi bona tahun sektor. 

Ada yang dilaksanakan di rumah jemaat dan ada di tempat wisata. Jemaat yang sedang sakit dan berulang tahun juga dimuat secara rapi dan rinci. 

Warta jemaat juga memuat rincian dana masuk dan keluar berikut jumlah saldo. Saya perhatikan saldo kas jemaat puluhan juta rupiah.

Saldo panitia pembangunan hampir dua milyar. Ada program panitia pembangunan yaitu renovasi gedung gereja yang ditaksasi berbiaya empat setengah milyar.

Meja altar dihiasi bunga tekwa warna/i dengan dedaunan segar di sela-selanya. Setelah selesai ibadah, bunga segar ini tidak ada lagi di tempatnya. 

Mungkin langsung diganti dengan bunga yang lain pada ibadah berikutnya. Waktu ibadah, suasananya benar-benar sangat nyaman.

Nyanyian dinyanyikan dengan baik dan benar dengan memperhatikan kaidah musik. Tanda titik dan angka nol benar-benar dipakai. 

Pengiring musik ada dua. Satu dengan efek pipe organ satu lagi dengan iringan piano lembut. Song leader ada tiga orang. Saya perhatikan mereka benar-benar menguasai lagu begitu juga cara memakai miks.
Pdt Defri Judika Purba (paling kiri) saat melayani di GKPS Cikoko Jakarta.
Itulah suasana dan pengalaman seminggu yang lewat. Hari ini (Minggu 28 Januari 2018) suasananya sangat jauh sekali berbeda. Untuk menuju ke GKPS Tinggi Saribu, saya harus menyiapkan tenaga ekstra untuk bisa sampai kesana. 

Memang sepeda motor sudah bisa kesana. Tetapi akhir-akhir ini kondisi jalan bertambah rusak. Sebagian sisi jalan sudah ada yang longsor menutupi badan jalan. 

Air hujan yang deras juga menggerus jalan sehingga jalan banyak yang berlubang akibat gerusan air. Batu lepas berserak dimana mana. 

Kalau dulu pertama sekali naik sepeda motor kesana, hanya dua titik yang rawan, kali ini sudah empat titik. Saya harus turun dari sepeda motor untuk mendorongnya. 

Untung datang pengantar jemaat menjemput saya. Kalau tidak, saya mungkin tidak sampai ke Desa Tinggi Saribu.

Gedung gereja GKPS Tinggi Saribu masih semi permanen. Ada dua baris bangku berjejer. Altarnya masih dari triplek. Tidak ada bunga warna/i di atas altar. 

Hanya ada bunga hias palsu berwarna pink dari tahun ke tahun, tidak pernah diganti. Lonceng gereja dari lingkar mobil. Digantung seadanya pakai kawat. Alat pemukulnya terbuat dari besi kecil.

Ibadahnya berbeda jauh dengan kondisi pertama yang saya ceritakan. Nyanyian tidak ada diiring alat musik. Semua nyanyian dinyanyikan dengan tempo lambat. 

Sudah beberapa kali diajari, tapi toh juga kembali kepada kebiasaan awal. Kalau ibadah mau dimulai, petugas ibadah berdiri di depan di samping altar berdesak-desakan. Mereka belum memiliki gedung konsistori.

Warta jemaat yang dibacakan setelah selesai ibadah, tidak terlalu lama. Hanya dua menit tidak sampai karena tidak banyak warta yang harus disampaikan. 

Hanya dana masuk yang diwartakan, dana keluar tidak. Saldo jemaat tidak sampai kisaran lima juta. Itu pun ada setelah dikumpul selama beberapa tahun. Tidak tahu harus dikemanakan.
 
Dari dua situasi yang saya ceritakan di atas, sebenarnya saya memiliki mimpi. Mimpinya agar kiranya kita bisa bertumbuh bersama. 

Bertumbuh dalam kehidupan persekutuan yang saling menopang dan memperhatikan. Bertambah besar secara bersama-sama. Dalam Tahun Diakonia GKPS 2018 ini, pertumbuhan bersama di dalam persekutuan gereja kita hendaknya digagasi dan dipikirkan bersama. 

Jemaat yang sudah mapan dan besar misalnya bisa "Berdiakonia" kepada jemaat-jemaat kecil yang ada di pedesaan. Kalau ini misalnya terjadi, pasti terjadi suatu gelombang perubahan yang semakin nyata dalam hidup persekutuan kita.

Kembali kepada judul tulisan di atas. Bagaimanakah kehidupan ini harus dijalani? Dengan memaparkan dua situasi di atas, sebenarnya saya tidak mau memperbandingkan. Saya hanya mau menyampaikan kondisi apa adanya. 

Didalam situasi ini bagaimanakah saya menghadapinya? Apakah saya merindukan kondisi yang pertama, seraya menolak kondisi yang kedua? 

Sama sekali tidak. Saya menerima kedua kondisi tersebut di dalam proses pemaknaan hidup. Beginilah kehidupan ini berproses dan terjadi. Kadang susah kadang mudah. Kadang diatas kadang dibawah.

Kadang berduit, kadang tidak berduit. Kadang lewat jalan tol, kadang harus mendorong sepeda motor. Kadang makan ikan bandeng pepes, kadang cukup hanya daging babi hutan. Kadang di kota, kadang di desa. Kadang tidur di hotel, kadang tidur di atas lantai papan.

Semua yang terjadi mengajarkan kehidupan ini akan menjadi lebih indah kalau dijalani dengan ucapan syukur. Syukur untuk semua perkara dan peristiwa yang sudah dan akan terjadi. Apa pun perkara yang kita hadapi kalau dihadapi dengan syukur, semua menjadi sangat indah.
 
Seperti kata syair lagu: "Hidup ini adalah kesempatan, hidup ini untuk melayani Tuhan, Jangan sia-siakan apa yang Tuhan b'rikan, hidup ini harus Jadi Berkat". Tetaplah bersyukur !!!*
Share this article :

Post a Comment