}); Kejamnya Surya Paloh (NasDem) “Campakkan” Erry Nuradi dari Bursa Cagubsu Pilkada 2018 | BeritaSimalungun
Home » , » Kejamnya Surya Paloh (NasDem) “Campakkan” Erry Nuradi dari Bursa Cagubsu Pilkada 2018

Kejamnya Surya Paloh (NasDem) “Campakkan” Erry Nuradi dari Bursa Cagubsu Pilkada 2018

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 10 January 2018 | 10:22

Erry Nuradi Berusaha Tegar Ketua DPD Golkar Sumut bersama Ketua DPW Nasdem Erry Nuradi turut mendampingi pasangan Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah saat mendaftar ke Kantor KPU Sumut, Senin (8/1/2018). (Suara Pembaruan/Arnold H Sianturi)
BeritaSimalungun-Politik itu bisa kejam, jika dibawa kejam. Bisa bersahabat jika dibawa bersahabat. Namun politik itu seperti musuh dalam selimut bagi para politikus. Sekarang bisa berkawan, dan sebentar kemudian sudah jadi lawan. Namun dalam berpolitik itu tak ada lawan yang abadi dan tak ada kawan yang abadi, semua tergantung kepentingan. 

Namun apa yang dialami Ketua DPW Nasdem Erry Nuradi yang kini menjabat Gubernur Sumatera Utara sungguh tragis. Bahkan Ketum NasDem Surya Paloh menilai kepemimpinan Erry Nuradi dinilai gagal dalam memajukan Sumatera Utara. Sampai-sampai Surya Paloh meninggalkan Erry Nuradi dalam bursa Pilgub Sumut.


Tidak hanya Tengku Erry Nuradi, Djarot Saiful Hidayat, pun bakal tidak mendapatkan tiket untuk maju dalam kontestasi besar di Sumut. Ini bisa terjadi jika PPP yang memiliki 4 kursi dan Hanura dengan 10 kursi, mendukung Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah atau JR Saragih dan Ance Selian.

 Setelah pinangannya ditolak Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), posisi pasangan yang diusung PDI Perjuangan (PDIP) di Pilgub Sumatera Utara (Sumut), Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus, di ujung tanduk.


"Nasib mantan Gubernur DKI dengan anak DL Sitorus itu sekarang ada di tangan PPP. Tentunya, PPP dipastikan tidak mau sekadar memberikan dukungan. Setidaknya, mereka menginginkan kadernya menjadi wakil Djarot," ujar pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wara Sinuhaji kepada SP di Medan, Selasa (9/1/2018) malam.


Wara mengatakan, peta dukungan politik bisa dalam sekejap berubah, termasuk mencabut mandat dari calon gubernur dan wakil gubernur meski itu sudah dideklarasikan oleh partai pendukung. Penolakan PKB juga patut menjadi bahan evaluasi partai, sebab di posisi terjepit harus bersedia mengabulkan keinginan PPP.


"Posisi PDIP sudah sangat genting mengingat penutupan pendaftaran tinggal dua hari lagi. Saat ini, posisi PPP yang memiliki 4 kursi di DPRD Sumut berada di atas angin. Sebab, bisa saja dukungan partai itu diberikan kepada pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah maupun JR Saragih-Ance Selian," katanya.


Menurutnya, skema politik yang sedang dibangun partai besutan Megawati Soekarnoputri dalam memutuskan pasangan cagub itu bisa berubah. Soalnya, Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, yang ditinggalkan Partai Golkar, PKB, PKPI maupun Nasdem, malam hari di hari pertama dibuka pendaftaran cagub, dipanggil oleh Putri Proklamator.


"Isu ini sudah berembus kencang. Kemungkinan Erry Nuradi bakal diusung PDIP, dan Djarot diplot ke Jawa Timur. Jika Erry tidak cagub mungkin dijadikan cawagub. Nilai jual Erry Nuradi masih sangat besar dalam memenangkan pilgub jika dijadikan cagub. Kecil peluangnya dijadikan cawagub mendampingi Djarot," sebutnya.

Demikian berita yang dilansir http://www.beritasatu.com terkait pendaftaran calon peserta Pilkada Gubernur Sumatera Utara, Selasa (9/1/2018). 

Namun berita itu akhirnya terbantahkan menyusul Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus sudah tiba di Medan, Selasa (9/1/2018) malam dan Rabu (10/1/2018) mendaftar ke KPU Sumut Medan dengan koalisi PDIP (16 Kursi)-PPP (4 Kursi). 

Namun apa yang dirasakan Djarot Saiful Hidayat sebelumnya jauh lebih beruntung dari pada Erry Nuradi yang notabene kini menjabat Ketua DPW Nasdem Sumut harus “ditendang” NasDem dan ditinggalkan Golkar saat-saat jelang pencalonan cagubsu. 

Berusaha Tegar

Seperti diberitakan SuaraPembaruan, Wajah Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi, terlihat masih kusut saat tampil di hadapan khalayak ramai. Namun, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem tersebut, tetap berusaha tegar meski dirinya gagal untuk maju sebagai petahana di bursa pemilihan gubernur (Pilgub) di daerah tersebut.

Suami Evi Diana Sitorus itu dengan mengenakan seragam Nasdem pun turut mengantarkan pasangan Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah (Eramas) saat berangkat dari rumah pemenangan di Jl Ahmad Rivai Medan menuju Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut di Jl Perintis Kemerdekaan Medan, Senin (8/1/2018).
 
"Kita bersama masyarakat pendukung sudah berusaha, dan kenyataan seperti yang kita lihat. Syarat minimal tidak bisa didapatkan. Sehingga, kita semua harus bisa realistis untuk kondisi ini. Kita harus bisa ikhlas dan legawa," katanya.

Meski berusaha terlihat tegar, Erry Nuradi yang juga mantan bupati di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) tersebut, juga seakan menyimpan pil pahit atas kegagalannya maju dalam konstelasi di Pilgub Sumut. Sebab, Erry Nuradi merupakan lawan paling berat pasangan Eramas untuk bisa dikalahkan.

Sehingga, wajah muram yang tanpa sengaja terpancarkan oleh Erry Nuradi, dinilai masyarakat jauh berbanding terbalik saat dirinya melakukan deklarasi dukungan sebagai calon gubernur, yang dihadiri oleh Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, di Lapangan Merdeka Medan, beberapa waktu lalu.

Deklarasi dukungan itu dilakukan setelah Erry Nuradi mendapatkan dukungan partai untuk dirinya sebagai calon gubernur dan wakilnya adalah Ngogesa Sitepu (Ketua Golkar Sumut). Erry mendapatkan dukungan dari Golkar (17 kursi), Nasdem (5), PKB (3 kursi) dan PKPI (3 kursi).

Saat itu, Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh mengancam akan melengserkan Tengku Erry Nuradi dari jabatan sebagai Gubernur Sumut jika tidak mampu membawa perubahan kemajuan dalam pembangunan di Sumatera Utara (Sumut).

Janji itu dikemukakan Surya Paloh di hadapan ribuan massa saat deklarasi dukungan Partai Nasdem kepada pasangan calon gubernur Tengku Erry Nuradi - Ngogesa Sitepu di Lapangan Merdeka Jl Pulau Pinang Medan, 12 November 2017 lalu.

Surya Paloh menegaskan, masyarakat Sumut akan marah kepada Erry Nuradi bila bekerja tidak baik saat menduduki jabatan Gubernur Sumut. Surya mengancam akan terlebih dahulu menendang Gubernur Sumut sebelum masyarakat.

“Bapak Presiden pernah bertanya kepada saya menyangkut siapa yang akan diusung Nasdem di Sumut. Saya bilang Tengku Erry. Kata Presiden, Erry Nuradi bagus orangnya. Salam Bapak Presiden buat kita semua di sini," katanya.

Calon gubernur yang diusung NasDem dan Golkar, Erry Nuradi yang juga Gubernur Sumut memaparkan program pembangunan yang sedang dilaksanakan di daerah tersebut. Adapun pembangunan yang sedang berjalan adalah jalan tol, pariwisata Danau Toba dan sebagai tuan rumah persiapan MTQ 2018 mendatang.

“Untuk melanjutkan pembangunan demi kemajuan Sumut maka perlu ada sinergi antara gubernur dengan seluruh kepala daerah, baik itu bupati maupun wali kota di daerah ini,' sebutnya.

Erry Nuradi juga menyampaikan terimakasih atas dukungan Ketua Umum Nasdem terhadap dirinya sebagai calon gubernur. Erry berjanji akan bekerja keras untuk melaksanakan pembangunan demi kemajuan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Patahana Gagal

Masih dilansir www.beritasatu.com, Gubernur Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi akhirnya gagal untuk maju dalam kontestasi sebagai calon gubernur di pemilihan gubernur (Cagub Pilgub). Kegagalan tersebut terjadi setelah seluruh partai pendukung, termasuk Nasdem, menarik dukungan dengan berlabuh ke pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah.

“Nasdem terpaksa menarik dukungan karena partai yang sebelumnya bergabung mendukung Erry Nuradi, justru mengalihkan dukungan ke pasangan lain. Nasdem tidak bisa mencalonkan dengan 5 kursi di DPRD Sumut," ujar seorang sumber SP di Nasdem, Jumat (5/1/2018) malam.

Padahal, sambung sumber tersebut, partai besutan Surya Paloh itu sudah mendeklarasikan diri mengusung Erry sebagai calon gubernur. Saat itu, Erry Nuradi didukung Partai Golkar yang memiliki 17 kursi, PKPI dan PKB yang masing-masing memiliki 3 kursi di DPRD Sumut.

Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara (USU), Warjio mengatakan, posisi pasangan Edy Rahmayadi -Musa Rajekshah semakin menguat untuk memenangkan peata demokrasi seiring bergabungnya Partai Golkar, Nasdem, Gerindra, PKS maupun PAN. (BS-Lee)
 
Share this article :

Post a Comment