}); Terjadi Perpaduan 2 Budaya, Djarot-Sihar Diprediksi Menangkan Pilkada Sumut 2018 | BeritaSimalungun
Home » , » Terjadi Perpaduan 2 Budaya, Djarot-Sihar Diprediksi Menangkan Pilkada Sumut 2018

Terjadi Perpaduan 2 Budaya, Djarot-Sihar Diprediksi Menangkan Pilkada Sumut 2018

Written By Beritasimalungun on Monday, 15 January 2018 | 10:50

Pasangan Bacagub Cawagub Sumatera Utara Djarot Saiful Hidayat (kanan) dan Sihar Pangaribuan Sitorus (kiri) saat acara pengumuman bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung PDI Perjuangan di Kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta, Minggu (7/1/2018). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

BeritaSimalungun-Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menilai besar peluang pasangan Cagub-Cawagub Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Pangaribuan Sitorus menang dalam Pilgub Sumatera Utara (Sumut) 2018.

"Peluang Djarot dan Sihar ini sangat terbuka untuk memenangkan Pilkada Sumut 2018," ujar Emrus Sihombing kepada Tribunnews.com, Senin (8/1/2018).

Emrus Sihombing melihat PDI Perjuangan benar-benar melakukan evaluasi terkait pencalonan Cagub-Cawagub Sumut dua periode yang lalu.

Alhasil, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mampu membaca peluang "perkawinan" dua budaya, yakni Jawa dan Tapanuli yang diwakilkan oleh Djarot dan Sihar di Pilkada Sumut 2018.

Sehingga pasangan Djarot dan Sihar ini, menurut Emrus Sihombing sangat klop dan bisa diterima masyarakat Sumut.

Apalagi kalau melihat dari latar belakang budaya kedua sosok yang akan diusung PDI Perjuangan ini, yakni Djarot dari Jawa dan Sihar dari Tapanuli.

"Berdasarkan data yang saya peroleh, dari aspek jumlah penduduk di Sumut, suku berlatar belakang Jawa mencapai 35 persen. Sedangkan Tapanulis bisa mencapai 30 persen," ujar Emrus Sihombing.

"Dengan kata lain, dari sudut homogenitas, Paslon Djarot-Sihar, dengan pemilih di Sumut, bisa mencapai sekitar 65-75 persen. Jika dilihat dari sebaran budaya," katanya.

Menurutnya, angka tersebut menjadi modal penting bagi Paslon Djarot-Sihar berlaga dalam Pilkada Sumut 2018. Karena, bagaimana pun perilaku politik tidak bisa dilepaskan dari sudut homogenitas dari pemilih dengan paslon.

"Ini bukan persoalan SARA. SARA yang salah dalam konteks kampanye adalah dari sisi negatif. Sedangkan homogenitas dari sudut yang positif, karena kebiasaannya, orang memilih karena memiliki kedekatan homogenitas atau kesamaan budaya dengan pilihannya," ujarnya.

Jauh dari itu, tegas Emrus Sihombing, sosok Djarot sudah dikenal secara nasional sebagai tokoh nasionalis dan pluralis.

"Saya pikir Sumut sangat terkenal sebagai daerah yang sangat pluralis, Sehingga tidak terlalu sulit bagi warga Sumut untuk menerima mantan Gubernur DKI Jakarta itu sebagai Cagub," katanya.

Ditambah lagi sosok Sihar, dia melihat sebagai tokoh yang sangat dikenal dan diterima masyarakat dari subetnis yang ada di Sumut.

Lebih lanjut modal kuat yang dimiliki pasangan ini adalah sosok Djarot yang sangat terkenal pro rakyat. Apalagi jika melihat karir Djarot mulai dari Walikota Blitar, Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta.

"Sangat terkenal beliau adalah tokoh yang memang mempunyai program-program pro kerakyatan," ujarnya.

Bahkan lebih lanjut ia menjelaskan, Djarot dan keluarganya terkenal sebagai tokoh yang sederhana dan menggunakan jabatan sebagai amanah untuk kepentingan rakyat.

Keunggulan Djarot pun menurutnya, disempurnakan dengan kehadiran Sihar sebagai putera daerah dan terkenal sebagai tokoh yang rendah hati meskipun ia putera mendiang DL Sitorus.

"Meskipun dia putera seorang pengusaha besar Sumut, tetapi penampilannya tidak pernah menonjolkan kehidupan yang mewah. Tetapi sebaliknya ia berpenampilan sederhana. Pun ketika kita bertemu dengan beliau, ia menunjukan kesederhanaan itu," ujarnya.

Pun Sihar sangat terkenal sebagai tokoh sepakbola di Sumut dan memiliki visi-mis kepemimpinan yang luar biasa.
"Sihar pun seorang bergelar Doktor dari universitas terkenal di luar negeri," ujarnya.

Ia pun melihat dari tiga pasangan Cagub-Cawagub yang akan bertarung, akan terjadi "perang" program dalam kampanyenya.

Menurutnya, pasangan mana yang mempunyai program pro kerakyatan akan disambut baik oleh masyarakat Sumut.

Dan itu imbuhnya, lebih cenderung dimiliki oleh Djarot dengan pengalaman sebelumnya sebagai kepala daerah di Blitar dan DKI Jakarta.

"Pasangan Djarot dan Sihar ini sangat bagus sekali untuk memimpin Sumut limat tahun kedepan. Karena Djarot disana berjuang untuk rakyat di tempat-tempat itu," ujar Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner itu kepada Tribunnews.com.

Diberitakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Megawati Soekarnoputri, menunjuk Sihar Pangaribuan Sitorus, sebagai calon wakil gubernur mendampingi Djarot Saiful Hidayat di Pilgub Sumut tahun 2018.

Megawati mengatakan, dirinya telah mempertimbangkan dan mendengar semua masukan dari jajarannya terkait keputusan tersebut.

"Dia ini anaknya Pak DL Sitorus. Salah satu Jurkam, lalu jadi Tim Ahli Ekonomi Jokowi JK. Dia ini beda sama bapaknya, saya kan kenal sama DL. Mungkin dia datang dari sebelah sananya. Ini pasangan Sumut yang perlu kita fight," kata Megawati Soekarnoputri di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (7/1/2018).

Menurutnya, pasangan ini layak untuk memimpin Sumatera Utara. Memilih Sihar menurut Mega sempat dipenuhi perdebatan, terutama masalah marga yang ada di Sumatera Utara, khususnya marga dari Suku Batak.

"Kan susah ya, namanya di Sumut itu marga itu banyak sekali, nanti mereka berkelahi. Kalau saya tanya mereka berkelahi itu (marganya) sama nggak sih? Kayaknya sama bu. Satu marga kok ribut ya. Anak ini saya ambil, tapi ada juga yang bilang jangan ini, jangan itu bu. Semua meminta. Saya pikir kapam mau jadinya," kata Mega.

Mega mengatakan, Sihar sangat aktif dalam dunia pesepakbolaan di Sumatera Utara. Ia Sempat memimpin klub kebanggan kota Medan, PSMS dan mendirikan sejumlah klub sepakbola.

Selain itu, Sihar juga sempat bekerja bersama dengan puterinya yakni Menteri Koordinator PMK, Puan Maharani sebagai tenaga ahlinya. Mega pun memgaku telah meminta izin kepada Puan untuk mencalon Sihar.

"Sempat jadi anak buahnya menko PMK. Saya sudah izin ya," katanya.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sudah menetapkan Djarot Saiful Hidayat sebagai bakal calon Gubernur Sumatera Utara. Namun PDIP belum menetapkan siapa yang akan mendampingi Djarot untuk bertarung di Pilgub Sumut 2018. Pendamping Djarot akan diumumkan pada Minggu (7/1/2018).(*)

Sumber: Tribunnews.com
Share this article :

Post a Comment