}); Masyarakat Sirungkungan Sepakat Usir PT Aquafarm dari Wilayah Danau Toba | BeritaSimalungun
Home » , , , » Masyarakat Sirungkungan Sepakat Usir PT Aquafarm dari Wilayah Danau Toba

Masyarakat Sirungkungan Sepakat Usir PT Aquafarm dari Wilayah Danau Toba

Written By Beritasimalungun on Monday, 12 March 2018 | 06:30

Keramba Jaring Apung milik PT. Aquafarm Nusantara yang dianggap merusak Danau Toba. IST
BeritaSimalungun-Masyarakat Desa Sirungkungon, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) sepakat untuk mengusir PT Aquafarm Nusantara (AN) dari wilayah mereka karena tak lagi bisa ditolerir soal limbah di Danau Toba. Masyarakat setempat yang tergabung dalam Forum Pomparan Opung Jaronjang Manurung (Forpo Jaman) Sirungkungon mendesak segera perusahaan asal Swiss tersebut angkat kaki dari Tobasa.

AN menolak beberapa tuntutan yang diajukan atas perpanjangan sewa lahan yang digunakan perusahaan sebagai gudang dan mess. Lahan yang digunakan PT AN sebagai gudang penyimpanan pakan ikan dan mess seluas kurang lebih 2.558 meter persegi atau lima rante di Desa Sirungkungon itu adalah milik keluarga pomporan Opung Jaronjang Manurung. Perpanjangan sewa lahan yang diajukan pihak perusahaan tanggal 13 Juli 2017 mendapat jawaban dari pihak Pomparan Opung Jaronjang Manurung yang tergabung dalam Forpo Jaman.

“Kontrak kami berakhir Februari 2018. Dan, sebelum kontrak berakhir kami mengajukan perpanjangan kontrak kepada pihak Pomporan Opung Jaronjang Manurung pada tanggal 13 Juli 2017. Dan, ditindaklanjuti oleh pihak Forpo Jaman tanggal 2 Agustus 2017,” jelas Humas PT AN Afrizal kepada wartawan di Medan.

Adapun isi surat balasan yang disampaikan kepada pihak AN dengan nomor surat 01/FORPO JAMAN/VII/2017, pihak ahli waris yang tergabung dalam Forpo Jaman pada prinsipnya dapat menerima permohonan perpanjangan kontrak pihak PT AN dengan beberapa ketentuan.

Isi ketentuan itu, kata Afrizal, Pertama, perjanjian/kontrak dibuat secara komprehensif di hadapan notaris yang meliputi luas areal wilayah darat dan perairan danau Desa Sirungkungon yang digunakan PT AN. Kedua, nilai kontrak sebesar Rp 300.000.000 per tahun dan dibayarkan sekaligus untuk jangka waktu 10 tahun.

Ketiga, tanggung jawab sosial perusahaan dilaksanakan secara transparan (yang telah terealisasi maupun yang akan dilakukan). Keempat, humas sebaiknya satu tim yang terdiri dari lima orang mewakili seluruh ahli waris dan merupakan rekomendasi ahli waris Opung Jaronjang Manurung.

Kelima, apabila PT AN berkeinginan untuk melakukan perundingan, maka dilakukan di Jakarta, namun demikian apabila perusahaan berkeinginan melakukan perundingan di luar Jakarta, maka biaya akomodasi minimal untuk lima orang ditanggung oleh perusahaan.

Keenam, jika perusahaan sepakat untuk melakukan perundingan, maka pihak perusahaan dapat menunjuk salah satu pimpinan yang dapat mengambil keputusan.

Ketujuh, apabila tidak tercapai kesepakatan perpanjangan kontrak, maka PT Aquafarm Nusantara agar menyesuaikan kegiatan dan sistem kerja, sehingga diharapkan segera meninggalkan areal darat maupun perairan Desa Sirungkungon dan memindahkan seluruh barang-barang perusahaan, termasuk keramba jaring apung (KJA), dan keadaan kosong dan tidak ada kegiatan selambat-lbatnya tanggal 28 Februari 2018.

“Itulah isi ketentuan yang harus dipenuhi perusahaan. Surat itu ditandatangani oleh perwakilan ahli waris Opung Jaronjang Manurung, yakni Royen Agustinus Manurung selaku ketua Forpo Jaman, Juprianus Manurung sebagai sekretaris dan Armansyah Manurung sebagai dewan pembina,” jelas Afrizal sembari memperlihatkan surat perpanjangan kontrak yang diajukan Forpo Jaman kepada pihak AN.

Di waktu yang berbeda, lanjut Afrizal, AN juga mendapat jawaban dari ahli waris opung Jaronjang Manurung yang tinggal di Sumatera Utara (Sumut).

Dalam surat itu disebutkan bahwa ahli waris dari Pomparan Opung Jaronjang Manurung Sirungkungon yang dalam hal ini adalah pewaris lahan yang dipakai PT Aquafarm Nusantara yang berada di Desa Sirungkungon, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa menyatakan menerima permohonan perpanjangan kontrak PT AN.

Dalam surat itu, kata Afrizal, juga disebutkan apabila PT Aquafarm Nusantara berniat mengadakan kontrak perpanjangan sewa supaya menghubungi pomparan Opung Jaronjang Manurung yang tinggal di Sumut.

Kemudian, apabila ada pihak-pihak tertentu yang keberatan/komplain terhadap perpanjangan kontrak tersebut agar mengarahkan kepada pihak pomparan Opung Jaronjang Manurung dan bertanggung jawab penuh terhadap perjanjian yang akan disepakati.

“Surat perjanjian itu ditandatangani oleh lima orang ahli waris Pomparan Opung Jaronjang Manurung yang tinggal di Sumatera Utara, yakni Karel Manurung, Billiater Manurung, Leosten Manurung, Sihol Manurung dan Gunawan Manurung,” jelas Afrizal.

Perusahaan kata dia, masih optimis bahwa di antara ahli waris yang berkonflik akan ada kesepahaman dan solusi terbaik di internal dan hubungannya dengan keberadaan perusahaan.

“Sebab kedua belah pihak sebenarnya menginginkan keberlanjutan perusahaan karena terkait dengan kehidupan ekonomi masyarakat Sirungkungon,” kata Afrizal.

Tolak Perpanjangan Kontrak 

Sementara pemilik lahan dan perantau dari Desa Sirungkungon, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, menolak perpanjangan kontrak penggunaan lahan dan meminta agar PT. Aquafarm Nusantara (AN) meninggalkan lokasi dan tidak beroperasi lagi di desa mereka, karena dianggap telah mengakibatkan terjadinya kerusakan di Danau Toba.

Melalui aksi penutupan, yang secara langsung dilakukan oleh masyarakat di depan kantor PT. AN pada hari Jumat (09/03/2018), masyarakat menuturkan keberatan mereka atas kehadiran perusahaan asal Swiss itu di perairan Danau Toba.

Masyarakat menilai, kerusakan yang terjadi akibat pencemaran dari hasil operasi PT.  AN di perairan Danau Toba, sudah masuk dalam tahap memperihatinkan. Akibatnya, masyarakat, pemilik lahan dan perantau dari Desa Sirungkungon, merasa tidak mau ikut merusak Danau Toba dan konsisten mendukung Pemerintah Pusat dalam membangun Danau Toba menjadi destinasi taraf internasional.

“Membangun Danau Toba menjadi destinasi dunia, haruslah didukung dengan Danau Toba yang bersih dan layak untuk pariwisata taraf internasional dengan membersihkan perusahaan – perusahaan penyumbang limbah ke danau toba, sehingga dapat dinikmati generasi yang akan datang” kata Arimo Manurung selaku warga sekaligus pendamping dari masyarakat pemilik lahan.

Aksi penutupan itu juga sesuai dengan perjanjian kontrak dengan nomor : 06/TOBA/SEWA/III/08 antara Toni Walker Manurung dengan pihak PT. AN yang sudah harus berakhir pada 28 Februari 2018 lalu.

“Pada tahun 2008, sejak awal penandatanganan kontrak tersebut, antara pihak PT. AN dengan pemilik lahan yaitu, hanya sendiri atas nama Toni Walker Manurung untuk jangka waktu 10 tahun, namun Toni yang sempat menjadi staf di perusahaan tersebut, pada tahun 2009 mengundurkan diri karena merasa kehadiran aquafarm justru memberikan dampak buruk terhadap kelestarian danau toba” ungkap Arimo.

Sebelumnya, proses yang dilakukan oleh pemilik lahan untuk peringatan akhir masa kontrak tersebut, dilakukan dengan melayangkan surat somasi, Senin (19/02/2018) lalu kepada PT. AN agar segera meninggalkan lokasi hingga akhir kontrak selesai.

Namun, hingga Kamis (1/3/2018), PT. AN masih melakukan operasi, dan pada Senin (5/3/2018), pemilik lahan kembali melayangkan surat peringatan kepada pihak PT. AN untuk meninggalkan lokasi paling lambat hari Kamis (8/3/2018), hingga akhirnya secara sepakat masyarakat bersama pemilik lahan memutuskan melakukan aksi penutupan secara langsung.(BS-Berbagai Sumber)

Share this article :

Post a Comment