}); Yang Terluka yang Menyembuhkan | BeritaSimalungun
Home » » Yang Terluka yang Menyembuhkan

Yang Terluka yang Menyembuhkan

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 30 May 2018 | 11:28

Defri Judika Purba-FB.
BeritaSimalungun-(1). Tulisan ini saya dedikasikan untuk saudara laki-laki ku Jhon Kariando Purba dan adik perempuanku Noera Nedha Poerba selaku anak dari mama yang luar biasa yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Tetap kita tunjukkan pesan mama yang terukir indah di batu nisannya “ulang maringori” kita jalankan dalam hidup keluarga kita.

2. Tulisan ini juga saya dedikasikan untuk bapak rohaniku Saragih Jaharianson yang mulai sejak mahasiswa sampai sekarang selalu mendukung dan menopang pelayananku. Kisah kebaikanmu pak, selalu terpatri di dalam hatiku.

3. Terakhir, tulisan ini saya tuliskan untuk setiap insan yang bergumul dan berjuang untuk memahami misteri kehidupan ini secara khusus jemaatku yang sedang berjuang menghayati apa itu cinta, pengorbanan dan ketulusan. Sespen Purba

Kisah ini dimulai dengan perjumpaanku dengan jemaat yang saya layani disini (bahapal). Ada jemaatku saat ini sedang berjuang keras mengobati anggota keluarga mereka karena penyakit kanker. Saya sebenarnya sudah tahu tentang berita itu, tetapi karena satu dan dua halangan belum sempat berkunjung ke rumah mereka. Setelah ada kesempatan baik, saya bersama istri pun menyempatkan datang ke rumah mereka.

Setelah kami sampai di rumah, kami melihat keluarga tersebut sedang mengadakan diskusi keluarga tentang upaya pengobatan orang tua mereka. 

Yang sakit adalah ibu mereka. Kanker rahim. Selama ini mereka membawa orang tua mereka untuk berobat herbal. Pilihan kemotherapi tidak bisa dilakukan, karena pasien tidak bersedia. 

Sudah berulang kali mereka membawa orang tua mereka ke rumah sakit untuk transfusi darah. Saat ini setelah rasa sakit yang tidak lagi tertahan, akhirnya orang tua mereka mau menjalani kemotherapi.

Melihat kami datang, diskusi keluarga berhenti sebentar. Kami melihat pasien sedang duduk bersandar di atas tempat tidur yang telah disediakan. 

Sepintas tidak seperti orang yang sedang sakit. Menurut info dari menantunya seperti itulah kondisi beliau ketika tidak kambuh. Setelah basa-basi sejenak, kami pun terlibat dalam diskusi keluarga tersebut.

Dalam proses diskusi dan saling berbagi itulah saya banyak berbagi tentang bagaimana pengalaman keluarga kami waktu itu ketika ibu yang melahirkan saya juga mengidap penyakit yang sama dengan orang tua mereka.

Saya pun berkisah: Jauh sebelum kami mengetahui bahwa ibu saya kena kanker, kehidupan keluarga kami biasa saja. Tidak pernah sedikit pun terlintas situasi itu akan kami hadapi. Kehidupan ini kami jalani dengan sukacita tanpa beban. Keluarga kami termasuk tipe keluarga yang hangat dalam persekutuan. 

Tiga orang kami anak dari orang tua kami tidak pernah cekcok atau berselisih. Komunikasi antara kami semua sangat lancar dan terbuka. Walau saat itu mama sering mengeluh sakit di bagian rahimnya, kami semua memberi solusi dan semangat. 

Kadang kami bergantian membawa mama ke dokter. Tidak ada prasangka yang serius tentang penyakit mama. Keluhan mama yang sering adalah tidak teraturnya jadwal bulanannya. Kadang banyak, kadang sedikit kadang tidak ada apa-apa. 

Setelah diobati, sembuh sebentar dan kambuh lagi. Oleh beberapa dokter, situasi mama disebut masa memasuki menopause. Mendengarnya kami menanggapnya biasa saja.

Hingga suatu ketika, ketika penyakit mama kambuh lagi, kami membawa mama ke dokter spesialis kandungan di kota siantar. Ketika keluar dari ruangan dokter saya melihat muka mama sudah terlihat pucat dan panik. 

Sampai di teras praktek dokter – saya masih mengingat jelas- mama duduk bersimpuh sambil memegang kartu pemeriksaan dokter. Dengan suara yang terbata dan terputus-putus, mama menjawab pertayaan kami. 

Hasilnya: mama dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik. Ada satu penyakit yang harus dipastikan kondisinya. Dalam bayangan mama itu adalah kista.

Mendengar penuturan mama, kami pun berdiskusi untuk penanganan mama selanjutnya. Hasil diskusi kami, mama diperiksa dulu di dokter spesialis yang lain. Ini untuk mencari second opinion. 

Rekomendasi dari salah seorang dosenku saat itu kami turuti untuk membawa mama ke dokter spesialis di kota medan yang membuka praktek di sekitar jalan setia budi.

Setelah dapat waktu yang telah ditentukan, kami pun membawa mama ke medan. Kami sekeluarga. Tiba di praktek dokter tersebut, setelah antri, mama pun ditemani adikku yang perempuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, mama pun kembali duduk di tempat antrian.

Tiba saatnya untuk pemberitahuan hasil, maka saya yang masuk untuk menjumpai dokter. Dan inilah moment yang paling saya ingat dalam sejarah hidupku. Saya diberitahu oleh dokter tersebut, bahwa mama mengidap penyakit kanker. 

Sudah stadium tiga B menuju empat A. Walau memang masih menunggu hasil biopsi, dokter tersebut sudah dapat memastikan penyakit mama. Masih teringat kata dokter tersebut: “kenapa lama untuk dibawa berobat?”. 

Mendengar penuturan dokter tersebut, saya merasa pandanganku tiba-tiba gelap, serasa ada beban yang menekan tubuhku. Langit terasa runtuh. Suara bising lalu lintas tiba-tiba senyap. 

Saya seolah-olah berada pada dunia yang lain. Rasa hampa dan kosong tiba-tiba menyeruak dalam hati. Saya tidak sanggup untuk berdiri. Tungkai kakiku terasa lemah. Untuk sesat saya seperti tidak sadarkan diri. Hening.

Setelah beberapa saat, saya pun seperti sadar kembali. Tetapi ada yang aneh dalam pikiranku. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikiranku selama ini tiba-tiba datang menghantui. Sesuatu yang sangat menakutkan dan mengerikan. 

Dampak pikiranku itu membuat tubuhku menjadi dingin dan lidahku menjadi kelu. Saya tidak sanggup dengan pikiranku yang tiba-tiba datang tersebut; “mamaku tidak akan lama lagi hidup”.

Keluar dari ruang pemeriksaan dokter saya berusaha menahan hati diri untuk tidak menangis. Melihat mama duduk di ruang antri bersama keluargaku yang lain sebenarnya saya sudah mau berteriak dan meraung-raung. Saya tidak sanggup membayangkan wajah mama. 

Melihat wajahnya yang bertanya: “apa kata dokter pa?”, saya serasa dipukul godam yang berat yang membenamkan tubuhku ke dalam tanah. Saya berkata: “tidak ada apa-apa ma, kata dokter ada sedikit gangguan di rahim. Nanti setelah dikasih obat, maka akan sembuh”. Mendengarnya keluargaku semua lega.

Pulang dari praktek dokter, kami langsung menuju kampus tempat dimana saya kuliah dulu, STT Adi Sabda. Sudah ada janji dengan salah seorang dosenku yang juga menjadi “guru Spiritualitasku” untuk mendoakan mama secara pribadi. 

Sewaktu mama sedang didoakan di ruangan khusus, saya pun pergi ke toilet kampus tersebut. Di kamar mandi itu, pertahanan emosiku tidak sanggup lagi. Ibarat air di dalam bendungan, bendungan itu tidak mampu lagi menahan beban berat air yang menekannya. 

Saya pun menangis sejadi-jadnya di kamar mandi tersebut. Pintu saya tutup rapat-rapat, kran air saya jalankan kencang supaya jangan ada yang mendengar. Saya menangis sejadi-jadinya membayangkan saya akan kehilangan mama yang sangat saya sayangi.

Setelah puas dan air mataku seperti tidak ada lagi, maka saya pun keluar dari kamar mandi setelah mengusap wajah dengan air supaya kelihatan segar kembali. Mama pun sudah siap didoakan secara pribadi. Kami pun pulang kembali ke kampung halaman, pematang purba.

Di kampung- ketika mama tidak bersama kami- saya pun berterus terang bercerita kepada keluarga apa dan bagaimana kondisi mama yang sesungguhnya. Mendengar ceritaku semua keluarga terkejut dan tidak menyangka. 

Mungkin apa yang saya alami juga mereka alami sendiri. Butuh waktu yang lama untuk bisa menerima dan mencerna semua yang terjadi tersebut. Selang beberapa lama, kami pun berdiskusi bagaimana penanganan mama selanjutnya. 

Apakah kami menuruti rekomendasi dokter tersebut untuk membawa mama ke rumah sakit adam malik untuk di kemotherapi? Dari informasi yang kami dengar dari orang yang sudah pernah di kemotherapi dan informasi dari internet, kami dibawa pada sebuah fakta yang benar-benar sangat menggetirkan. 

Kemotherapi menurut tujuan dan latar belakangnya sebenarnya tidak untuk menyembuhkan pasien tetapi lebih kepada memperbaiki kualitas hidup. 

Kualitas hidup disini maksudnya adalah pasien tidak terlalu merasakan efek/ dampak sakit yang ditimbulkan penyakit tersebut. Kemotherapi lebih kepada usaha agar sel-sel kanker itu tidak terlalu menyebar ke anggota tubuh lainnya.

Menyadari hal itu, kami pun memutuskan untuk tidak membawa mama kemotherapi. Memberitahu penyakitnya pun kami tidak mau. Walau mungkin ini salah tetapi sebenarnya ada alasan lain kenapa kami bertindak seperti itu. 

Mama kami termasuk orang yang cepat panik menanggapi segala sesuatu. Pikiran buruk cepat melintas dalam pikirannya. Mama tidak sanggup berpikir jernih, runtut dan analitif menanggapi sesuatu. Pernah ketika saya masih mahasiswa dan sakit tipus, mama datang dari kampung bersama saudara laki-lakiku. 

Sepanjang perjalanan –cerita saudaraku- mama tidak bisa berkonsetrasi. Sampai di tempat parkir, mama langsung berlari menuju kamarku. Temanku yang menjemput di tempat parkir pun tidak dia hiraukan. Sampai di kamar, mama pun langsung memelukku sambil menangis. Seperti itulah mamaku.

Dengan keputusan kami, maka mulailah keluarga kami memasuki tahap-tahap yang tidak pernah kami siapkan sebelumnya. Kami pun membawa mama untuk berobat herbal ke pematang siantar. Saat itu saya sudah menjadi vikar pendeta dan menerima penempatan pertama di salah satu resort di Kota Siantar. 

Ini satu hal yang saya syukuri, saya bisa memberi waktu dan pertolongan lebih cepat kalau dibutuhkan. Dari tahap ini juga saya semakin banyak belajar tentang apa itu kanker. 

Rujukan saya yang paling banyak adalah dari buku-buku dan internet. Banyak buku yang saya beli yang menyangkut tentang pengobatan penyakit kanker. Dari tahap inilah saya tahu apa itu metastase (penyeberan sel-sel kanker ke organ tubuh lainnya), keladi tikus, tapak dara dll.

Setelah pengobatan ini, kondisi mama kadang sehat kadang memburuk. Karena itu mama pun sering bolak-balik ke rumah sakit. 

Mulai dari rumah sakit umum di kabanjahe lanjut dengan ambulance di tengah malam menuju rumah sakit adam malik. Suara ambulance yang meraung-raung di kegelapan malam saat itu adalah teror yang menyiksa bathin. Pulih sebentar masuk lagi ke rumah sakit. 

Karena kondisi yang semakin memburuk, maka kami pun memutuskan mama untuk dirawat di pematang siantar, di tempat keluarga. Keputusan ini agar mama tidak terlalu capek bolak-balik dari kampung (Pematang Purba) menuju rumah sakit yang terdekat.
 
Di saat mama menjalani proses pengobatan ada dua perkara yang benar-benar membuat saya seperti ingin menghempaskan badan di atas rumput yang basah di tepi sebuah jurang. 

Ketika badanku terhempas di rumput di tepi jurang tersebut, biarlah saya jatuh dari tepi jurang itu, untuk masuk ke dalam air yang ada di lembah jurang itu. Saya ingin alam ini memelukku dengan pelukan kebebasannya. Saya benar-benar tidak tahu lagi melampiaskan emosi dan beban perasaanku.

Peristiwa pertama adalah ketika adik perempuan saya akan diwisuda saat itu. Saat itu adik perempuanku mengambil prodi kebidanan di kota medan dan akan diwisuda. 

Kondisi mama sebenarnya sudah payah saat itu, tidak bisa berdiri lagi. Tapi beliau memaksa untuk bisa hadir karena mama berkata: “inilah obatku yang sesungguhnya”. Mendengar permintaan mama, maka kami pun terpaksa membawa mama di tempat wisuda. 

Di atas kursi roda, kami menunggu adik perempuanku keluar dari tempat wisuda. Saat itu kami menunggu di tempat parkir, karena mama tidak sanggup masuk ke ruangan wisuda. 

Setelah adik perempuanku keluar, maka mama pun memeluk buah hatinya dengan bangga. Apa yang diusakan dan dikorbankannya selama ini sudah berbuah. 

Melihat adegan mama memeluk adik perempuanku dari atas kursi roda, saya melemparkan pandangan jauh melintasi gedung-gedung pencakar langit di kota medan. Saya berusaha untuk tidak menangis walau tokh pelupuk mataku tetap hangat.

Peristiwa kedua. Saat itu mama sebenarnya sedang dalam proses pengangkatan menjadi kepala sekolah di SD negeri di kampung kami. Proses untuk ini sudah berjalan. Walau saat itu banyak hambatan, petikan SK dari bupati sudah terbit. 

Dengan petikan SK Bupati itulah itulah mama kami semangati. Pernah ketika saya memberi mama makan lewat NGT, saya menyemangati mama: “ayo ma, makan lagi ya, supaya sembuh. Setelah sembuh, baju yang sudah mama jahit bisa dipakai saat pelantikan kepala sekolah”. 

Apa kata mamaku: “inilah yang sangat kutakuti, baju yang sudah saya jahitkan tidak bisa lagi saya pakai”. Mendengarnya, langit kembali terasa runtuh.

Pengobatan untuk mama ternyata menguras banyak tenaga, materi dan waktu kami. Karena biaya pengobatan untuk mama masih berlanjut, maka ayah pun memutuskan untuk menjual ladang di kampung. Saya tidak tahu kapan dan kepada siapa dijual. Saat itu saya pribadi hanya fokus untuk menjaga dan mengobati mama.

Tranfusi darah adalah hal yang wajib untuk mama. Karena itu disamping pengobatan herbal, maka mama pun harus bolak-balik ke rumah sakit. Karena mama kami rawat di rumah keluarga di Pematang siantar, maka rumah sakit umum adalah langganan kami. 

Para perawat sudah tahu dan kenal kepada kami semuanya karena terlalu sering masuk rumah sakit. Pernah saat itu stok darah di PMI kosong. Kami kelabakan. Stok darah dari para donor tidak cukup. Akhirnya saya pun mencari stok darah di rumah sakit Laras di serbelawan. 

Saat itu saya melayani sebagai vikar pendeta di Resort siantar IV dan ditempatkan di serbelawan. Darah yang saya bawa dibungkus di dalam tas setelah dilapisi es. Sampai di siantar, dihangatkan sebentar kemudian ditransfusi ke tubuh mama.

Waktu mama sedang di rawat di rumah sakit, sebagai seorang pelayan, tentu pekerjaan pelayanan tidak boleh saya tinggalkan dengan alasan apa pun. Itu adalah prinsip dalam hidupku sejak dari dulu. Karena itulah pernah ada moment dalam hidupku, saya membawa buku-buku ke rumah sakit berikut laptop. 

Ketika mama sedang terpulas tidur, maka saya mengambil ruangan yang lain di kamar tersebut untuk mengerjakan bahan sermon. Ketika konsentrasi menyusun bahan sermon, sayup-sayup saya mendengar mama merintih. 

Saya pun meninggalkan laptopku untuk melihat kondisi mama. Setelah tenang kembali, maka saya pun melanjutkan menulis bahan sermon. Jam di dingding kadang sudah menunjuk angka jam dua dini hari. 

Dari rumah sakitlah saya berangkat melayani. Pernah saya kecelakaan di sinaksak, karena mengelakkan kereta yang tiba-tiba berbelok. Datanglah jemaatku yang dari serbelawan untuk menjemputku dan membawa ke klinik sekaligus “mamborastengeri”.

Kondisi mama mencapai puncaknya. Penyakit kanker yang telah menggerogoti tubuhnya semakin bermetastase. Kali ini sudah mencapai syarafnya. Akibatnya kami anak-anaknya pun tidak lagi dikenal oleh mama. 

Pernah kami mencoba bertanya kepada mama, siapakah kami anaknya. Kami berdiri di samping mama. Saudara laki-lakiku yang pertama bertanya: “saya siapa ma”. Mama menjawab: “Ini anakku si Ando”. Sekarang tiba giliranku: “Saya siapa ma?”.  Mama diam dan tidak tahu siapa yang bertanya. Saat itu kegelapan benar-benar menyelimuti jiwaku. 

Saya tidak tahu lagi untuk berbuat, berpikir dan bertindak apa. Dunia di sekelilingku terasa gelap. Pandangan mataku berpendar-pendar melihat dinding rumah sakit. Kakiku terasa melayang, tidak menyentuh lantai rumah sakit.

Karena kondisi mama yang semakin memburuk, maka keluarga pun memutuskan membawa mama kembali ke kampung halaman. Tidak berapa lama di kampung halaman, mama pun menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat di atas tempat tidurnya. 

Sebelum mama menghembuskan nafasnya, saya masih sempat memberi mama makan di kamarnya. walau mama tidak lagi mengenalku, saya tidak peduli. 

Setelah mama selesai makan dan saya doakan, maka saya pun harus kembali ke siantar untuk mengejar pelayanan. Hari itu adalah hari kamis. 

Ada PA wanita di salah satu jemaat yang saya layani. Keesokan harinya hapeku berdering. Di layar hape ada nama tetanggaku. Seolah sudah memiliki firasat maka saya pun mengangkatnya. 

Pertama dia berbohong dengan menyatakan, mama memanggil-manggil namaku, karena itu pulanglah. Setelah saya desak apa yang terjadi, maka dia berkata: “domma marujung goluh nanggi pi, mulak ma ho”! mendengarnya saya tidak terkejut. 

Kebetulan juga saat itu saya sedang bersaat teduh. Setelah siap membaca Firman Tuhan dan berdoa, maka saya pun menutup disiplin rohaniku itu dengan menyanyikan lagu pujian di Kidung jemaat: Makin dekat Tuhan.

Proses pemakaman mamaku berjalan seperti yang direncanakan keluarga. Di peti matinya kami menaruh segala obat yang pernah dia pakai selama hidupnya. Baju pelantikan kepala sekolahnya berikut SK pangangkatannya juga.

Demikianlah saya mengakhiri cerita. Dengan menceritakan kisah yang pernah kami alami ini, kami berharap tuturan kisah ini bisa memberi kekuatan dan topangan kepada jemaatku yang saat ini sedang mengalami proses yang sama. 

Walau situasi tidak sama persis, dengan berbagi kisah ini semogalah mereka tetap dalam perjuangan cinta merawat orang tua/ mertua yang mereka sayangi. (Defri Judika Purba-Salam Penuh Perjuangan. Bahapal Raya, 30 Mei 2018)
Share this article :

Post a Comment