}); Peristiwa KM Sinar Bangun Sangat Memalukan Pengelolaan Transportasi Wisata Danau Toba | BeritaSimalungun
Home » , , , » Peristiwa KM Sinar Bangun Sangat Memalukan Pengelolaan Transportasi Wisata Danau Toba

Peristiwa KM Sinar Bangun Sangat Memalukan Pengelolaan Transportasi Wisata Danau Toba

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 20 June 2018 | 17:13

Donasi Untuk Keluarga Korban
Oleh: DR Amin Sar Manihuruk
 
BeritaSimalungun-Sudah capek Pemerintah Pusat dibawah kepemimpinan pak Jokowi dalam membangun Danau Toba sebagai salah satu tujuan wisata besar dan menarik. 

Tapi pemerintah daerah sekitar tampaknya jalan ditempat, tidak merespons pemikiran besar dari pemerintah pusat terhadap wilayah masing2

Sangat memalukan sekali pengelolaan tranportasi wisata Danau Toba. KAMPUNGAN, masalah standar operational prosedure pengadaan dan pengelolaan transportasi Danau Toba sangat tradisional sekali.

Ada apa ini antara pemilik kapal dengan pemerintah setempat? Ada main kah? Pemerintah provinsi harus membongkar tuntas masalah ini, jangan tidur saja kalian, makan gaji buta. 

Bisnis yang langsung berkaitan dengan nyawa manusia harus spesifik dalam pengelolaannya. Segala sesuatu urusan dengan nyawa manusia harus TERUKUR.

Aneh juga tidak banyak masyarakat Danau Toba dan para turis yang memanfaatkan UU No 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik dan PP No 61 tahun 2010 tentang peraturan pemerintah pelaksanaan UU No 14 tahun 2008.

Mari kita pelajari kembali UU tersebut dan praktekkan. Sehingga pejabat publik negara dan swasta tidak seenaknya dalam bersikap dan berperilaku. 

Turut berdukacita kepada keluarga yang menghadapi musibah ini. Semoga tuhan memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan.(Penulis Pensiunan dari Kemen. Komunikasi dan Informatika Jakarta, berasal dari Desa Hutaimbaru-Pinggir Danau Toba, Kabupaten Simalungun).

Sahala Tua Saragih:  KM Sinar Bangun (berbahan kayu) tenggelam ("manongnong") atau karam ("harom")?
 

Di kampung kami (tepi Danau Toba) operasi kapal masih tradisional. Tak pernah penumpang pakai karcis. Tak pernah ada pelampung. Tak pernah dihitung jumlah penumpang. 

Tak pernah diukur kapasitas (muatan) maksimal setiap kapal. Kata manifest tak pernah dikenal. Jadi, kita tak tahu pasti jumlah penumpang kapal yg celaka itu. 

Biasanya supir kapal (nakhoda) bisa membaca perilaku alam dg cermat berdasarkan pengalaman. Nakhoda yang rendah hati tak mungkin memberangkatkan kapalnya bila melihat situasi Danau Toba. 

Di kampung kami (di Kab. Simalungun) tak pernah kapal karam (bukan tenggelam) karena para nakhoda tak mau melawan alam. Begitu pengalaman zadul seorang anak Danau Toba.(BS-Lee)
Share this article :

Post a Comment