Home » , , » Cerita Cinta Dari Bah Pasussang

Cerita Cinta Dari Bah Pasussang

Written By Beritasimalungun on Saturday, 28 July 2018 | 08:16

Simbol Kasih Pada Arsik Ikan Jurung
Perjalanan Full Timer GKPS Distrik 2 berkumpul bersama di GKPS Resort Bah Pasussang untuk mengikuti Sermon, Jumat 27 Juli 2018. Foto FB-Defri Judika Purba.

Oleh: Pdt Defri Judika Purba STh

BeritaSimalungun-Hari ini (Jumat 27 Juli 2018) kami Full Timer GKPS Distrik 2 berkumpul bersama di GKPS Resort Bah Pasussang, Kabupaten Simalungun untuk mengikuti Sermon. 

Kami berangkat bersama dari Simpang Sondi Pematang Raya Ibukota Kabupaten Simalungun sekitar sepuluh kereta (Sepeda Motor-red). 

Perjalanan memakan lebih setengah jam dengan jarak sekitar sepuluh kilo meter. Jalan sudah bagus sampai Desa Bulu Raya Pasar. Setelah itu jalan sudah mulai rusak apalagi di sekitar objek wisata Bah Sidua Ruang. Jalan menurun dengan batu-batu lepas membuat perjalanan sedikit susah.

(Baca: "Anak-Raja-Berhati-Hamba"


Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang luar biasa. Di sebelah kiri hamparan sawah terhampar dengan indahnya.

Petak-petak sawah tersusun dengan rapi. Padinya masih hijau, selaras dengan alam sekelilingnya. Nun jauh disana berdiri dengan pongah sebuah bukit. Namanya Simarsolpah. 

Kepongahannya semakin menjadi-jadi dengan iringan embun yang mulai naik karena sinar mentari pagi mulai menunjukkan sinarnya. Agaknya bukit itu membanggakan dirinya yang jauh melebihi perbukitan di sekelilingnya. Bukit Simarsuppit di seberangnya pun belum sanggup melebihi ketinggiannya.
 
Setelah sampai di perumahan dinas, beristirahat sebentar. Kami pun masuk dalam diskusi penelaahan Alkitab. Suasananya begitu cair penuh candaan. Jauh dari suasana menggurui.

Tibalah saatnya makan siang. Tuan rumah menyediakan di meja menu yang sangat luar biasa. Apakah itu? arsik Ikan Jurung.
Arsik Ikan Jurung Khas Bah Pasussang, Simalungun.

Sepengetahuanku ikan ini sangat susah dicari. Habitatnya di aliran sungai yang deras. Untuk mencarinya tidak boleh di siang bolong.

Minimal di sore hari dan paling bagus di malam hari. Ikan ini secara ekonomis sangat mahal. Ikan sepanjang lima puluh centimeter saja bisa seharga Dua Ratus Ribu Rupiah. 

Harganya yang mahal membuat ikan ini sangat susah di dapat di pasar. Selain bernilai ekonomis tinggi, ikan ini juga sering dipakai untuk obat atau acara adat. 

Sebagai obat ikan ini sering diminta untuk orang yang memiliki permintaan khusus (Sirni Uhur) dan untuk acara adat ikan ini dipakai untuk acara potong rambut (rudang) dan acara Sayur Matua.

Ikan yang sangat mahal dan susah dicari inilah yang tersaji di atas meja makan tuan rumah. Dan menurut cerita beliau, untuk memperoleh ikan ini mereka harus menyusuri Sungai sepanjang empat kilo meter bersama jemaatnya. 

Ikan ini ditangkap dengan teknik dijala. Penangkapan dengan cara disetrum tidak diperbolehkan. Ikan juga bisa ditangkap di celah-celah batu. Untuk teknik yang satu ini harus dilakukan oleh orang yang benar-benar profesional.

Membayangkan beliau (tuan rumah) bersusah payah mencari ikan ini, saya yang tipe melankolis benar-benar terharu. Apa yang tersaji di atas meja makan, bagiku bukan hanya sebatas ikan. 

Ada pengorbanan, cinta kasih dan rasa hormat disana tersaji. Cintalah yang memampukan beliau bersama jemaatnya menahankan dingin dan dalamnya aliran sungai untuk mencari ikan. 

Pengorbananlah yang membuat beliau mampu menaiki dan menuruni jalan terjal menuju sungai. Semua itu dilakukan dengan tulus dan penuh rasa hormat kepada kami tamunya yang datang.

Sungguh sebuah proses cinta yang benar-benar merdeka dan dari hati. Dalam refleksi sederhana itulah saya menyantap menu makan siang dengan gembiranya.

Setelah acara makan siang selesai kami pun menutup nya dengan informasi dan diskusi yang lain menyangkut tentang pelayanan kami.
 
Perjalanan Pulang Full Timer GKPS Distrik 2 berkumpul bersama di GKPS Resort Bah Pasussang untuk mengikuti Sermon, Jumat 27 Juli 2018. Foto FB-Defri Judika Purba.
Kami pun pulang dengan sukacita dan tanpa beban. Perjalanan pulang sama dengan perjalan awal kami. Penuh dengan canda tawa. Sesekali kami berhenti di satu tempat untuk berfoto bersama. 

Kami rindu dan ingin, moment ini menjadi penanda dan mengingat tentang kebersamaan kami. Kebersamaan yang saling mengingatkan dalam kasih. Kebersamaan dalam cinta kasih untuk melayani lebih sungguh-sungguh lagi. (Bahapal Raya, 27 Juli 2018)

Share this article :

Post a Comment