Home » , » "Maafkan Aku yang Selalu Mengusik Kenyamanan Dirimu"

"Maafkan Aku yang Selalu Mengusik Kenyamanan Dirimu"

Written By Beritasimalungun on Monday, 29 October 2018 | 13:02

Oleh : Pdt Renny Damanik
"Mattin do gatni tene bapa, boto kopi i kodei on. Jawabmu: "Ehhhh...mattin do namin jadi mapaet ma halani roh ham manjupahi hanami i kodei on, mela hanami, lang ni boto dompak ja pe bahenon bohi on."
Beritasimalungun-Aku tidak akan berhenti dan takkan bosan untuk tetap melirik dan masuk ke tiap kedai sepanjang jalan ini. Kalau pun pikiran dan hatiku selalu bergejolak untuk melangkah masuk ke dalam tempat ini. 

Hari ini aku datang lagi menjumpaimu dan tetap mengajakmu untuk beribadah pada Tuhan. Ketika aku duduk dan menyapamu, aku berkata, apa sebenarnya masalah mu dan yang tidak menyenangkan dihatimu sehingga tidak mau ke gereja? 

Aku bertanya tentang hal itu supaya aku tidak salah kaprah, supaya aku jangan salah paham, dan bisa memperbaiki pelayanan di gereja.

Selanjutnya kutanya, kenapa ham masih di kedai sudah jam segini, dan masih mesan teh kopi dan teh manis? "Mattin do gatni tene bapa, boto kopi i kodei on. Jawabmu: "Ehhhh...mattin do namin jadi mapaet ma halani roh ham manjupahi hanami i kodei on, mela hanami, lang ni boto dompak ja pe bahenon bohi on." 

Aku bilang kenapa begitu, ke gerejalah nasiam, apala sahali sahali kalau tidak bisa tiap minggu, aku tetap menanti nasiam karena aku tidak tega membiarkan nasiam di kodei ini sementara aku kotbah di gereja. 

Seandainya nanti Tuhan menanyakku, aku tidak salah dan sudah bisa ku pertanggungjawabkan bahwa aku sudah mengajakmu dan menggembalakanmu. 

Selanjutnya ku tanya ke sebelah bapak yang duduk di kedai ini, ini siapa bapa? Jawabnya, itu juga pemuda GKPS. Lalu ku hampiri dia dan kutanya, kamu kok tidak ke gereja, jawabnya aku di suruh mama ke....

Lhaa..kenapa ke sana di hari minggu dan jam kebaktian? Itunya di suruh mama aturang, katanya, kaget aku mendengar kata aturang.

Lalu ku bilang, kenapa panggil aturang ke aku, karena mamaku Purba katanya. Nah..jawabannya itu membuat aku ada ide, untuk mendekatkan diri kepadnya. 

Kalau gitu aturang yang bilang ke mamamu nanti pulang gereja ke.....Aku yang bertanggung jawab, jadi ke gerejalah kau ya bapa?

Lalu jawabnya, iya aturang, dan ku bilang, ku tunggu ya, jangan berbohong kau samaku, lalu selanjutnya dia bilang, yang itupun aturang pemuda GKPSnya itu. 

Lalu ku tangkap lah pemuda yang satu lagi ternyata dia marga Damanik. Manlojoblah jantung, dan aku pegang dia dan ku katakan, kau marga Damanik, jangan bikin malu sama bou ya. 

Aku pakailah pendekatan budaya supaya dia dekat padaku dengan panggilan BOU bukan INANG PENDETA. Itulah yang di photo ini. 

Sesampai di Gereja, aku perhatikan pelan dari mimbar, dimana yang ku ajak dari kedai tadi, ternyata mereka datang beribadah dan aku pun memujinya dari mimbar karena aku juga turut bahagia atas kesediannya mendengarkanku untuk datang beribadah.

Sungguh...aku berterimakasih kepada Tuhan yang memberkati pelayananku hari minggu 28 Oktober 2018 di Bintang Mariah. Aku selalu teringat dengan syair lagu yang di buku Haleluya:" Seng Ra Auau Marnaloja Paima Ganup Roh." 

Kata kata ini juga terinspirasi dari vikar pdt ku pertama di Baringin namanya Mariantha Nainggolan, yang ketika dia pamit waktu pindah dia beri kenang kenangan dengan" Gambarku yang gonces bertuliskan, SENG RA AU MARNALOJA PAIMA GANUP ROH".
 
Mengapa dia menuliskan itu di photo itu, aku tidak tahu. Bagiku tulisan itu mendorongku untuk terus melayani dengan hatiku yang tulus. Makasih ya Mariantha Nainggolan yang sudah jadi Pendeta sekarang dan di tempatkan di Kantor Pusat GKPS. Salam Diakonia.(*)

Sumber: FB Renny Damanik.
Share this article :

Post a Comment