}); Singkong, 'Superfood' Baru untuk Berantas Stunting di Indonesia | BeritaSimalungun
Home » , » Singkong, 'Superfood' Baru untuk Berantas Stunting di Indonesia

Singkong, 'Superfood' Baru untuk Berantas Stunting di Indonesia

Written By Beritasimalungun on Thursday, 28 February 2019 | 16:57

Singkong bisa tumbuh di seluruh wilayah Indonesia (Foto: thinkstock)

Jakarta, BS - Prevalensi stunting di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka penurunan sebesar 30,8 persen. Walau begitu, tetap saja masih ada beberapa daerah yang memiliki kasus stunting yang tinggi.

Oleh karena itu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan beberapa penelitian guna menekan angka stunting tersebut. Salah satunya melalui pengembang nutrisi dari pangan lokal, yakni singkong.

Ahmad Fathoni, peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI mengatakan Indonesia menjadi negara ketiga penghasil singkong terbesar di dunia setelah Nigeria dan Thailand. Seluruh wilayah Indonesia bisa ditanami singkong, maka dari itu menjadikannya salah satu komoditas pangan terbaik untuk konsumsi maupun industri.

"Ada 4 mikronutrien dalam tumbuh kembang yang dibutuhkan untuk stunting, vitamin, zat besi, zinc, dan protein. Permasalahannya, singkong ini dikenal rendah protein. Kami di LIPI menyeleksi beberapa jenis singkong dan juga merakit singkong agar memberikan nutrisi lebih," kata Fathoni pada acara Media Briefing 'Penurunan Prevalensi Stunting dan Diabetes melalui Nutrisi dari Pangan Lokal', Kamis (28/2/2019).

Selain pembibitan, Fathoni dan tim juga melakukan pengembangan singkong sebagai bahan pangan berkualitas yakni menjadikannya tepung singkong termodifikasi atau Mocaf. Mocaf dijadikan beberapa bahan baku makanan misalnya seperti mie atau kue.

"Sayangnya singkong masih belum mendapat perhatian. Kebanyakan pemerintah lebih memfokuskan pada sumber pangan beras atau padi, jagung, dan gandum. Karena itu sangat penting untuk mengedukasi masyarakat soal ini," tandasnya.

Stunting merupakan kondisi di mana anak tidak mendapatkan cukup nutrisi bahkan sejak dalam kandungan. Misalnya sang ibu tidak memakan makanan bergizi saat hamil dan anak tidak mendapatkan ASI eksklusif pada 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga berakibat pada tumbuh kembang anak yang ditandai dengan tubuh pendek. (*)

Sumber: Detik.com
Share this article :

Post a Comment