}); "Apa Kabar Monumen Sang Naualuh?" | BeritaSimalungun
Home » , , » "Apa Kabar Monumen Sang Naualuh?"

"Apa Kabar Monumen Sang Naualuh?"

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 23 April 2019 | 15:46

"Apa Kabar Monumen Sang Naualuh?"
Beritasimalungun-"Siapa yang bermain main dengan monumen Sang Naualuh, berulang kali berjanji menyelesaikan di depan orang hidup dan orang mati (pidato sambutan ziarah setiap tahun HUT di jerat raja Siantar) , tanpa pernah ditepati, kelak akan mendapat bala kematian ".

Kajian ilmiah bisa dikalahkan oleh opini politis, bisa dibayangkan dua kali kajian akademis dan seminar perihal lokasi penempatan monumen Sang Naualuh bisa goyah berubah oleh pandangan 1-2 orang.

Peletakan batu pertama tahun 2012 oleh walikota Alm. Hulman Sitorus setelah melalui berbagai tahapan mulai dari sayembara, diskusi, seminar, kajian akademis akhirnya mengambil keputusan lokasi segitiga depan Ramayana.

Ternyata dapat dirubah lokasi dengan pandangan investor Sintong Bingei - STTC yang siap membiayai keseluruhan 7 M dengan catatan kesesuaian letak di tengah pagoda Taman Bunga.

Walikota Alm Hulman Sitorus menyetujui, dilakukan seminar kembali dan melahirkan SK Walikota berikutnya membatalkan lokasi semula , tapi dalam praktik tidak ada tindak lanjut hingga pergantian pemilihan walikota berikutnya.

Tahun 2018-2019 ada harapan, pembangunan monumen mendapat anggaran APBD sebesar 3M, penempatan lokasi dikaji ulang dengan mendatangkan akademisi tata ruang dari USU, ada 3 alternatif yakni segitiga Ramayana, segitiga depan Kapolres dan sudut Taman Bunga depan BRI.

Tapi tak tahu ada angin apa Walikota Siantar Hefriansyah Noor tiba tiba menempatkan lokasi monumen Raja SND di lap. Adam Malik bahkan langsung melakukan peresmian bersama pewaris kerajaan, keluarga besar Damanik, Ketua DPRD, MUI, Forkompinda dll.

Legalitas, apakah SK Walikota sudah ada untuk penempatan lokasi baru dan membatalkan lokasi sebelumnya dari SK Walikota 2013 ?

Apa landasan hukum dan berita acara hasil seminar dan pertemuannya dimana ?

Alhasil, pondasi sudah terbangun dan berjalan dalam waktu 2-3 minggu memakan biaya 500 juta, ternyata selang beberapa hari mendapat penolakan oleh GAMIS (Gerakan Masyarakat Islam Siantar) dengan argumen tidak memenuhi estetika dan etika posisi monumen dengan cara menghadap bila sholat id hari raya.

Walikota Hefriansyah Noor kembali membatalkan pendirian monumen SND dengan status menghindari bencana sosial, walaupun kita sama ketahui sendiri jumlah yang demo hanya 10-12 orang.

Mendapat respon cepat dan tanggapan langsung, tanggapan yang tidak seimbang dengan mobilisasi masa atau demo sebelumnya dengan jumlah beratus masyarakat Simalungun turun ke jalan kota selama 6-8 bulan berturut turut.

Point :
1. Somasi dilayangkan kepada walikota Siantar Hefriansyah Noor atas pemindahan lokasi tanpa landasan hukum / legalitas.

2. Somasi kepada walikota Hefriansyah Noor atas pelanggaran perjanjian kontrak dan kerugian negara 500 juta.

3. Internal Simalungun bersama seluruh elemen, ormas, barisan pemuda, komunitas, sanggar, pegiat budaya simalungun dll harus bisa menyatukan langkah dan persepsi agar tidak terpecah belah, bulat dan bagian utama dari pengambil kebijakan dan keputusan.

4. Mengembalikan penempatan lokasi monumen semula, hasil kajian akademis dan seminar tahun 2012 yakni di segitiga depan Ramayana.

5. Class action terus menerus dan kontiniu

"Panthe Rei" , mari terus bergerak hingga mencapai kesempurnaan.

Hadir : dr. Sarmedi Purba, Sejarawan Hisarma Saragih, Paner Damanik (Ihutan Bolon Damanik), Juandaha Raya Purba Dasuha, Jomen Purba (Yayasan Museum Simalungun), Tuahman Saragih Garingging, Sultan Saragih, Bulan Damanik , Candra Malau, Dedy Wibowo Damanik, mahasiswa USI, pemuda Himapsi dkk.

#HIMAPSI, Diskusi publik Quo Vadis monumen Sang Naualuh. #Aula FKIP USI. (FB-Sanggar Rayantara) 




Share this article :

Post a Comment