Home » » SALAM SECANGKIR KOPI, SAUDARAKU KRISTIANI..

SALAM SECANGKIR KOPI, SAUDARAKU KRISTIANI..

Written By Beritasimalungun on Friday, 19 April 2019 | 11:01

Jakarta-Ketika beredar surat dari Keuskupan tentang himbauan umat Katolik untuk memilih pada Pilpres 2019 ini, diam-diam saya menangis.

Tidak sia-sia selama beberapa waktu jauh sebelum Pilpres berlangsung saya mendatangi beberapa gereja, terutama gereja Katolik, untuk mengajak mereka memilih di Pilpres kali ini.

Saya jelas khawatir, karena waktu Pilpres bertepatan dengan hari-hari besar umat Kristen. Dan biasanya pada hari-hari itu mereka libur ke luar negeri, yang berakibat pengurangan suara besar-besaran pada hari pemilihan.

Dalam setiap diskusi bersama para Romo dan dihadapan para jamaah, saya selalu menekankan betapa pentingnya Pemilu kali ini. Pemilu kali ini lebih bermakna "pertahanan negeri" daripada sekedar memilih Prabowo dan Jokowi.

Ancaman disintegrasi terlihat jelas di mata saya. Luasnya pengaruh HTI melalui ormas-ormas radikal dan politikus yang ingin menguasai negeri, kelak akan membuat negeri ini terpecah. Mereka menguasai dunia pendidikan dan elemen-elemen penting negeri ini.

Mereka menggunakan massa untuk melaksanakan nafsu berkuasa mereka. Persekusi dan intimidasi adalah kekuatan mereka. Bayangkan, bagaimana kita bisa hidup tenang dalam kondisi seperti itu ?

Kekhawatiran itu saya bawa dalam setiap diskusi. "Mainkan politik kebangsaan, bukan politik praktis. Politik kebangsaan adalah politik dimana kita bergerak bersama untuk mempertahankan negeri.." dan semangat yang sama saya bawa setiap menjadi pembicara di gereja-gereja.

Dan pesan ini ternyata sama dengan pesan keUskupan. Uskup agung Jakarta, Mgr Ign Suharyo, yang pada Maret lalu, mengeluarkan pernyataan bahwa umat Katolik harus menggunakan hak pilihnya, karena hak pilih adalah tanggung jawab iman. Dan narasi ini digaungkan juga oleh Uskup-uskup lain di seluruh Indonesia.

Ini kurang lebih sama dengan prinsip NU yang memainkan politik kebangsaan dengan slogan, "Cinta tanah air adalah sebagian dari iman..". Dan memilih pemimpin yang benar, yang membubarkan HTI, adalah bagian dari kecintaan pada tanah air.

Selesai sudah. Jokowi kembali memimpin negeri ini.

Dan PR terbesar beliau adalah menjaga bagaimana konsep Bhinneka Tunggal Ika bukan lagi hanya slogan, tetapi sudah menjadi penerapan kebangsaan. Kelak tidak ada lagi konsep mayoritas minoritas yang membelah kita semua. Karena kita semua sama, sama-sama anak bangsa.

Selamat merayakan Jumat Agung, saudara-saudaraku umat Kristiani. Terimakasih atas perjuangan bersama menjaga negeri.

Salam secangkir kopi..

"Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.."

Denny Siregar
Share this article :

Post a Comment