}); Mengunggulkan GP Pada Bursa Bupati Simalungun | BeritaSimalungun
Home » , , , , » Mengunggulkan GP Pada Bursa Bupati Simalungun

Mengunggulkan GP Pada Bursa Bupati Simalungun

Written By Beritasimalungun on Thursday, 25 July 2019 | 16:05

Mengunggulkan GP Pada Bursa Bupati Simalungun.FB
Oleh: Suwandi Purba 

Beritasimalungun-Dalam konteks calon Simalungun 1 yang terlihat cukup serius dan intensif masih GP dan WD. Ada upaya sejumlah pihak mendorong RHS tetapi saya pesimis yang bersangkutan bersedia.

Begitu juga Parlindungan P, akan berfikir ulang untuk siap maju. Ada juga Pardamean Siregar yg terlihat berupaya mendekati sejumlah partai. Andai pun sejumlah figur itu beberapa diantaranya berhasil menjadi calon dan menjadi pesaing GP, saya optimis GP akan unggul.

Sebagai putra daerah yang tinggal dan mengabdi di Pemkab Simalungun mulai dari staf, camat, kadis hingga sekda 7 tahun, secara psikologis GP lebih dikenal.

Dan seperti kata-kata bijak "tak kenal maka tak sayang" tentu pula lebih banyak penduduk kabupaten ini yang lebih sayang kepadanya. Setidaknya, seluruh perangkat nagori yang ada mengenalnya, pernah berbincang atau bahkan ngopi dan makan bersama di warung. Ini modal besar, modal psikologis yang bisa menjadikan kekuatan dahsyat menggerakkan dukungan akar rumput ke GP.

Tentu dukungan para perangkat nagori ini tidak akan diorganisir apalagi menjadi TS karena GP pun tau itu tidak dibenarkan. Jadi yah...dukungan psikologis yang bisa menjadi kekuatan dahsyat.

Modal berikutnya adalah dukungan ASN. Dalam suatu perbincangan dengan seorang pensiunan ASN, mantan kepala UPT  salah satu instansi di Pemkab Simalungun, saya mendapatkan informasi tentang kesederhanaan seorang GP.

Seorang sekda yang jauh dari kesan sombong, sangat merakyat, dekat dengan bawahan dan mudah senyum. Ia bahkan sering dijumpai minum atau makan di kedai di Hapoltakan Raya. Rumahnya pun hingga saat ini terkesan sederhana untuk ukuran Sekda.

Bahkan diungkapkan teman pensiunan ASN itu, banyak rumah kepala dinas dan camat yang justru lebih mewah dari rumahnya yang berada di Gang Tiga Runggu Kota Siantar.

Bahkan pada hari-hari libur tidak jarang orang bisa melihat GP mengendarai sepeda motor sendirian menyusuri Jalan Pendeta Wismar Saragih menuju Kantor Pusat GKPS di Pematangsiantar.

Rupanya senggang GP sering mendatangi abang kandungnya yang saat ini menjabat Ephorus GKPS Pdt Martin Rumanja Purba untuk sharing dan menerima advis. Rekan-rekan ASN ini lah yang awalnya mendorongnya untuk maju menggantikan JR.

ASN ingin orang yang telah mengenal jengkal demi jengkal Tanoh Simalungun dan faham administrasi serta birokrasi menjadi pemimpin di Simalungun.

Tentu dukungan ASN tidak akan dimobilisir apalagi dijadikan TS atau dilibatkan langsung untuk pemenangannya. Tidak akan karena GP taat aturan ASN tidak diperbolehkan terlibat dukung mendukung.

Tetapi sekali lagi, puluhan ribu ASN dan keluarganya yang sudah mengenalnya bahkan mungkin sudah pernah dibantu olehnya secara psikologis memberikan suara untuk GP saat pencoblosan nanti.

Modal lain yang sama dahsyatnya yah, soal GKPS dan marganya. Ini bukan politik identitas tetapi lebih sebagai fakta diri dan pendekatan perilaku pemilih.

Gereja GKPS dan jemaat nya itu yang terbanyak berada di Kabupaten Simalungun. GP dibesarkan di tengah keluarga pendeta. Opungnya termasuk salah satu pendeta pertama di awal adanya GKPS.

Ayahnya juga seorang pendeta dan juga menjadi pimpinan Ephorus GKPS. Abang kandungnya Pdt Martin Rumanja Purba juga seorang pendeta dan sampai saat ini menjabat Ephorus GKPS.

(Ephorus Pdt Martin Rumanja Purba, MSi dan Sekjen Pdt  Dr Paul Ulrich Munthe, MTh merupakan ulangan Pimpinan Pusat GKPS tahun 1970. Pada Synode Bolon GKPS tahun 1970, Ephorus GKPS adalah Pdt Lesman Purba, STh ayah Ephorus Pdt Martin Rumanja MSi. Sedangkan Sekjen GKPS saat itu adalah Pdt Dr Armensius Munthe, MTh ayah dari Sekjen Pdt Dr Paul Ulrich Munthe, MTh).

Dan GP bersama istri dan anak-anaknya tercatat pula sebagai jemaat GKPS. Sekali lagi kami tekankan, ini bukan politik identitas tetapi secara psikologis orang GKPS itu akan tau GP adalah keluarga pendeta, sosok yang dibesarkan di lingkungan GKPS.

Dan perilaku pemilih kita masih sangat mencari kedekatan  yang ada pada diri calon dengan dirinya. Cap dirinya sebagai anak pendeta GKPS menjadi modal psikologis yang akan mendorong warga GKPS memilihnya saat di TPS.

Tetapi sekali lagi GP tidak akan melibatkan GKPS dalam politik praktis. Dia tidak akan meminta dukungan dari kelembagaan GKPS. Tetapi sebagai warga GKPS tentu wajar jika suatu saat kelak ia akan datang ke kantor Pusat GKPS untuk meminta doa atas keinginannya menjadi pemimpin di Pemkab Simalungun.

Ephorus GKPS pun pasti akan menerima dan mendoakan calon bupati lainnya yang datang dan minta didoakan, bahkan andaikan si calon itu pun bukan warga GKPS atau bahkan bukan pula umat Kristiani.

Tidak ada yang salah dalam hal ini. Bukankah itu salah satu tugas gereja, mendoakan umat dan hsl2 yang baik. Soal marga, ini juga bukan  politik identitas tapi soal psikologis pemilih.

Salah satu marga terbesar di etnis Simalungun adalah Purba. Marga ini mendominasi beberapa wilayah dan ia ada di hampir seluruh nagori. Memang sistem kekerabatan/sosial Simalungun mengenal Dalihan Na Tolu.

Artinya satu marga tidak bisa mendominasi marga lain karena di satu saat bisa menjadi anak, di saat lain bida menjadi boru atau tondong. Ada keterkaitan marga yang satu dengan lainnya.

Tetapi marga Purba mungkin saat ini punya pemikiran, "Inilah waktunya Purba si jolom suhul i tanoh Simalungun".

Mimpi ini bukan tanpa alasan. Setelah era reformasi, Kabupaten ini dipimpin marga Silalahi, Damanik dan saat ini tengah dipimpin Saragih. Sebelumnya itu dipimpin Damanik, Silitonga dan wajar jika dalam kurun 40 tahun muncul keinginan Purba bupati ta.

Pemikiran ini secara psikologis sedikit banyak pasti ada dalam bebak dan hati marga Purba dan borunya. Pemikiran yang wajar, bukan sempit apalagi bernuansa politik identitas.

Mungkin saat ini ada beberapa kandidat marga Purba yang muncul, tetapi diyakini saatnya akan mengkristal ke GP. 

Dukungan petahana/JR Saragih. GP adalah birokrat murni yang diajarkan tertib administrasi dan tertib penganggaran. Pemahamannya tentang itu dijalankannya secara teguh. Itulah yang menghantarkannya mengapa ia bisa dipercaya Bupati Jhon Hugo Silalahi menjadi camat.

Begitu pula di masa kepemimpinan Zulkarnaen Damanik, ia dipromosikan Sekdis di Dispenda. Itu jugalah yang membuat JR Saragih mengangkatnya menjadi Kadispenda dan Kadishub sebelum kemudian menjadi Sekda yang telah dilakoninya 7 tahun lebih hingga saat ini.

Selain penguasaan tertib adiminstrasi dan penganggaran, seorang sekda itu dipakai karena faktor loyalitas. Faktor loyalitas ini lebih dimaksudkan sebagai "penjaga diri" sang Kdh agar kebijakannya bisa berjalan  tidak melanggar UU/peraturan dan didukung maksimal oleh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) maupun oleh masyarakat itu sendiri.

Itulah yang dilakoni GP selama 7 tahun ini, sehingga ia tetap di posisi sekda loyal kepada atasannya, menertibkan administrasi dan anggaran serta bisa berkomunikasi dengan rakyat.

Itulah mengapa JR memberi sinyal kepada GP untuk maju di Pilkada Simalungun 2020. Bukan bagian dari untuk mengamankan kepentingan JR, tetapi semata memang GP berbekal pengalaman akan lebih mampu membawa Simalungun lebih maju.

Dalam beberapa kesempatan GP secara terang2an menyatakan dirinya maju berkat dorongan JR. Sebesar apakah dampak dukungan petahana baginya?

JR adalah sosok fenomenal orang Simalungun. Ia tidak seperti kebanyakan orang Simalungun dengan ciri tak mau menonjol. Ia tampil beda, menggebrak, selalu di depan dan punya visi jauh ke depan.

Ini membuat dirinya dikenal sebagai Pejuang Tangguh. Tidak tanggung-tanggung, dia memenangkan 2 kali pilkada yang sarat dengan tantangan. Ia sempat dicoret namanya oleh KPU dalam pencalonan bupati periode ke dua, dan ia tak menyerah namanya kembali masuk dan menang.

Ia membuktikan suku Simalungun itu seorang petarung yang bukan hanya jago kandang, dengan kemampuannya ia dipercaya menjadi Ketua DPD Partai Demokrat Sumut.

Ini menjadi loncatan baginya untuk menjadi Cagubsu dan pada saat itu ia telah berhasil mendapatkan perahu menjadi calon gubsu. Bayangkan seorang putra Simalungun sendirian mampu meraih tiket kursi partai.

Bandingkan dengan Gubsu saat itu T Ery Nuradi, Ketua DPD Nasdem Sumut yang gagal mendapatkan partai pendukung. Meski kemudian gagal karena tersandung ijazah, terlepas dari itu semua JR adalah petarung tangguh yang pasti punya dan mampu memobilisasi suara di Simalungun.

GP dalam satu kesempatan dengan penulis pernah menyatakan dukungan dari JR akan punya arti yang sangat besar. Ia sangat hormat dan berterima kasih jika JR mendukungnya.

Tetapi ia juga menegaskan  dirinya akan maju dengan kekuatan yang penuh sinergi dengan kekuatan utama dukungan arus bawah. Syalom. (Penulis Adalah Wartawan-Redaktur Hharian SIB)
Sumber: Group WA Forum Diskusi Simalungun

 
 
Share this article :

Post a Comment