}); Politik Nasi Goreng Ala Megawati | BeritaSimalungun
Home » , » Politik Nasi Goreng Ala Megawati

Politik Nasi Goreng Ala Megawati

Written By Beritasimalungun on Friday, 26 July 2019 | 08:23

MEGAWATI BERTEMU PRABOWO: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kedua kanan) didampingi Puan Maharani (kiri) dan Prananda Prabowo (kanan) menerima Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua kiri) di kediaman Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7/2019).
Megawati-Prabowo Bertemu Tanpa Jokowi,  Mega: Tak Ada Koalisi, Tak Ada Oposisi
 
Jakarta, BS-Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto bertemu dalam suasana hangat di kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Jakarta, Rabu (24/7) meskipun Presiden Jokowi tidak hadir karena sedang menyambut tamu negara Putra Mahkota Abu Dhabi/Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan di Istana Bogor.

Di kediaman Mega juga turut hadir putri dan putra Mega yaitu Puan Maharani dan Prananda Prabowo, Sekjen PDIP Hasto Kristianto dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan. Pertemuan berlangsung hampir 2 jam.

Suasana hangat pertemuan kedua Ketum itu tergambar dalam jumpa pers yang dilakukan keduanya. Dalam kesempatan itu, Megawati menegaskan tidak ada koalisi ataupun oposisi.

"Dapat dibilang, ndak ada koalisi, tidak ada oposisi di dalam sistem kenegaraan kita. Tapi kalau berbeda karena pilihan, itu silakan saja. Sehingga yang namanya dialog itu sangat diperlukan," kata Megawati usai bertemu Prabowo.

Megawati mengatakan Indonesia tidak mengenal istilah 'koalisi' ataupun 'oposisi'. Menurut dia, perbedaan pendapat dalam berpolitik adalah hal yang biasa.

"Sebenarnya kan kalau kita berbeda pendapat itu adalah sebuah ruang yang biasa, kenapa harus diterus-teruskan. Mari kita rukun kembali menjalin persahabatan kita mendapat ujung, yaitu untuk kepentingan bangsa dan negara. Dan kita tentu harus bisa melakukannya dengan diskusi," tuturnya.

Megawati pun meminta Prabowo terus berkomunikasi dan berdiskusi dengannya. Dia mengaku siap membantu Prabowo jika memang dibutuhkan.

"Silakan datang ke tempat saya kapan pun juga. Begitu juga kalau Mas Bowo ingin bertemu dengan presiden, kalau memang harus saya diminta untuk bisa menyampaikan, saya sampaikan. Tapi kalau Mas Bowo sebaiknya menurut saya ngomong sendiri saja dengan Pak Jokowi pasti akan diterima beliau dengan baik," pungkas Megawati.

Pintu dialog terbuka. Megawati pun siap jadi perantara antara Jokowi dan Prabowo.

"Saya bilang, semuanya adalah keputusan nanti presiden terpilih karena pada beliaulah sebenarnya hak prerogatif itu ada, bukan pada saya. Kalau menyampaikan, usul, saran, saya bisa sampaikan. Begitu juga dari teman-teman yang lain," ungkapnya.

Mari Rangkul Kembali

Pada kesempatan itu, Megawati juga menegaskan mengajak pendukung capres cawapres di Pilpres 2019 untuk kembali rukun.

"Saya bilang pada beliau, Mas, saya panggil beliau itu Mas dari dulu, sebenarnya kan kalau kita berbeda pendapat itu adalah sebuah ruang yang biasa, kenapa harus diterus-teruskan. Mari kita rukun kembali menjalin persahabatan kita untuk kepentingan bangsa dan negara," kata Megawati.

Megawati bahkan bersedia menjadi penyambung lidah Prabowo ke Presiden Jokowi.

"Yang namanya dialog itu sangat diperlukan, tapi saya bilang semuanya adalah keputusan presiden terpilih, karena pada beliaulah hak prerogatif itu, bukan pada saya," ujarnya.

Pertemuan Megawati dengan Prabowo ini berlangsung sekitar dua pekan setelah pertemuan dengan Jokowi dan Prabowo. Dalam pertemuan kemarin, ada momen Megawati dan Prabowo bicara empat mata.

Megawati juga berbicara soal politik nasi goreng. Prabowo, menurut Megawati, kerap menagih bertemu demi dimasakkan nasi goreng.

Politik Nasi Goreng

Pada saat jumpa pers itu, keduanya juga bicara soal nasi goreng.

"Tadi Ibu Mega memenuhi janjinya memasak nasi goreng untuk kami. Luar biasa nasi gorengnya, saya sampai nambah, padahal beliau sudah ingatkan saya suruh diet," kata Prabowo saat membuka jumpa pers.

Prabowo merasa terhormat atas sambutan baik Megawati. Dia menegaskan perbedaan sikap politik tak pernah memutus hubungan keduanya.

"Kami juga menunggu Ibu jalan-jalan ke Hambalang," ujar Prabowo.

Megawati, yang bicara setelah Prabowo, menegaskan diplomasi politik nasi goreng dengan Prabowo. Dia menegaskan politikus perempuan punya kelebihan karena bisa berdiplomasi lewat masakan.

"Beliau katakan nasi goreng yang saya buat enak, katanya.... 'Tapi ternyata setelah dibuktikan memang enak ya, sering-sering diundang, ya, Bu, untuk makan nasi goreng.' Perempuan pemimpin politik ada bagian yang sangat mudah meluluhkan hati laki-laki, itu namanya politik nasi goreng," ujar Megawati.

Keduanya tak mengungkap soal deal politik yang dibicarakan dalam pertemuan itu.

Apa sebenarnya deal di balik politik nasi goreng?

Prabowo Siap Membantu

Prabowo juga berbicara soal membantu mengatasi masalah bangsa.

"Kami menyambung kekeluargaan, persahabatan lama. Saya selalu merasa dapat penghormatan dan perlakuan yang baik dari sejak dulu," kata Prabowo.

Prabowo mengakui memang terkadang ada beberapa perbedaan sikap politik antara dia dan Mega. Menurutnya, perbedaan itu biasa karena yang terpenting ialah menyambung tali kekeluargaan sehingga bisa membantu mengatasi masalah kebangsaan.

"Kadang-kadang kita mungkin berbeda dalam beberapa sikap politik yang tidak prinsip, menurut saya, karena yang utama kami sama-sama patriot, sama-sama komit dengan NKRI sebagai harga mati," ucap Prabowo.

"Kalau ada perbedaan, itu biasa. Di ujungnya kita selalu ingin melanjutkan dan menyambung tali persaudaraan tali kekeluargaan dan hubungan yang rukun, hubungan yang baik, sehingga kita bisa membantu mengatasi masalah-masalah kebangsaan," sambungnya.
 
Lukisan Bung Karno Naik Kuda

Prabowo Subianto memberikan hadiah lukisan Bung Karno kepada Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Lukisan itu gambar Presiden Sukarno yang sedang menaiki kuda.

Pantauan di kediaman Megawati, tampak mobil boks logistik Gerindra masuk ke rumah Megawati. Kemudian petugas keamanan menurunkan lukisan yang dibungkus dengan rapi dari mobil boks. Lalu mobil boks tersebut meninggalkan kediaman Megawati.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut lukisan Bung Karno itu diberikan khusus oleh Prabowo kepada Megawati. Pada saat bertemu dengan Mega, Prabowo mengatakan akan memberikan sebuah lukisan Bung Karno yang sedang mengendarai kuda.

"Ketika awal bertemu Pak Prabowo bercerita bawa kenang-kenangan untuk Ibu Megawati berupa lukisan Bung Karno yang naik kuda ketika ibu kota RI berada di Yogyakarta. Dan itu dalam rangka hari TNI saat itu," kata Hasto kepada wartawan.

Hasto menyebut lukisan itu disiapkan khusus oleh Prabowo untuk presiden ke-5 RI itu. Lalu mereka bercerita saat-saat Bung Karno menaiki kuda pada 1947 di Yogyakarta saat peringatan hari Badan Keamanan Rakyat atau saat ini disebut TNI.

"Diberikan secara khusus buat Ibu Mega dan Ibu Mega mengucapkan terima kasih dan kemudian berceritalah bagaimana naik kuda itu," lanjutnya.

"Ibu Mega bercerita ketika menjelang peringatan, saat itu namanya masih Badan Keamanan Rakyat (TNI) 1947, terus Bung Karno harus naik kuda, kemudian dicarikanlah kuda terbaik untuk dinaiki Bung Karno," kata Hasto.

Lebih lanjut, Hasto mengatakan Megawati senang atas pemberian Prabowo. Lukisan tersebut, kata Hasto, mengingatkan Megawati bagaimana perjuangan Bung Karno sebagai salah satu tokoh pendiri bangsa.

"Senang, apalagi semua cerita tentang bagaimana para pendiri bangsa ini membangun Indonesia bersama," tutupnya.

Undang Prabowo ke Kongres PDIP

Sementara itu, PDIP bakal menggelar kongres ke-5 yang rencananya digelar di Bali pada Agustus mendatang. Megawati mengundang Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke kongres tersebut.

Hal tersebut disampaikan Mega setelah bertemu Prabowo di kediamannya. Mega awalnya menjawab soal ketidakhadirannya dalam pertemuan bersama Ketum NasDem Surya Paloh.

"Saya tadi tanya juga sama Pak Bowo supaya daripada menjadi hal yang digoreng-goreng. 'Mas, mau diundang nggak sama saya?' 'Lalu ke mana, Mbak? Ke kongres, ya mau dong'. 'Kalau mau, saya undang, kalau nggak, ya, ndak apa-apa,'" kata Megawati mengulangi percakapannya dengan Prabowo.

Megawati meminta pernyataannya itu ditulis agar tak menjadi isu liar. Menurutnya, semua pihak harus rileks di negeri ini.

"Jadi tolong semuanya tolong ditulis ya supaya ndak digoreng-goreng. Rileks sajalah di negeri tercinta ini. Saya kira beliau juga setuju," jelas Mega.

BG Hadir

Diberitakan bahwa Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (BG) turut hadir dalam pertemuan Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarnoputri. PDIP menyebut seluruh lembaga negara memiliki tanggung jawab membangun suasana kondusif pasca-Pemilu 2019.

"Sejak awal kan namanya seluruh badan-badan negara itu kan juga punya tanggung jawab pasca-pemilu untuk membangun semua suasana kondusif," ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Kehadiran BG dalam pertemuan itu bukan sebagai kader PDIP, kata Hasto. Hingga saat ini, BG belum mempunyai kartu tanda anggota (KTA) PDIP.

"Oh bukan. Kader itu kan ber-KTA dan itu mengikuti program kaderisasi dan beliau nggak pernah," lanjut Hasto. (Detikcom)
Share this article :

Post a Comment