Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Terimakasih Pendeta Bigman Sirait

Oleh: Birgaldo Sinaga

Beritasimalungun-"Orang yang tidak berdosa bukan sekedar tidak melakukan perbuatan dosa. Diam. Tidak melakukan apa-apa. Tapi orang yang tahu pekerjaan baik tapi tidak melakukan kebaikan itu juga sesungguhnya berdosa. Maka jika kamu beriman, bertumbuhlah dalam kebaikan. Berbuat baiklah bagi bangsa dan negara".

Saya terinspirasi dengan ucapan Pdt Bigman Sirait ini. Kata-katanya membumi. Tidak melangit. Meskipun muara dari setiap suara kenabian yang disampaikannya selalu untuk kemuliaan Tuhan.

Sejak dua hari lalu, di rumah duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto, ribuan orang memberikan penghormatan terakhir kepada Pdt Bigman. Ramai sekali. Berdesak-desakan. Tiga ruangan seukuran lapangan basket tidak cukup menampung pelayat.  Di luaran juga dipasang tenda. Tidak cukup juga. Sebagian terpaksa berdiri.

Saya mengenal Pdt Bigman dari tulisannya sejak dekade 2000an. Sejak muda, Pdt Bigman sudah dipanggil Tuhan sebagai penginjil. Bermula dari pergaulan remaja yang suka berkelahi, pada awal 1980an Bigman Sirait dijamah Tuhan.

Bigman muda yang jago berantem tunduk pada panggilan Tuhan. Ia bertobat. Ia memulai pertobatannya menjadi guru sekolah minggu. Bigman muda melayani selama 3 tahun sebagai guru sekolah minggu.

Pada 1984, Bigman muda dipercaya melayani kelas remaja dan pemuda. Naik pelayanannya hingga dari kampus ke kampus. Dari kantor ke kantor dalam persekutuan karyawan. Dari Jabodetabek hingga ke Medan.

Bigman muda telah bermetamorfosis. Dari ulat menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu yang terus terbang menyampaikan kebenaran dan keindahan firman Tuhan.

Bigman muda jatuh hati pada perempuan cantik bernama Greta Mulyati. Gadis yang dikenalnya karena sama2 melayani di sekolah minggu. Gadis mungil nan cantik ini membuat Bigman muda bersimpuh melamar Greta. Mereka menikah pada 3 Oktober 1987.

Kemarin malam, saya melihat Ibu Greta di ujung peti mati suaminya. Ketiga anaknya Kezhia, Keithy dan Kennan berdiri di samping peti. Saya melihat tangis tertahan dari Ibu Greta. Kantung matanya masih bengkak. Ia berusaha menahan air matanya tidak jatuh. Ulos Tujung berwarna biru tua yang melingkar di lehernya menandakan Ibu Greta telah menjadi janda.

Tidak mudah menjadi istri seorang pendeta. Terlebih menjadi istri seorang Bigman muda yang punya energi, spirit dan rencana besar. Rencana besar dalam membangun sekolah, pelayanan di kanal radio, televisi, majalah, kanal youtube dan seabreg misi pelayanan lainnya.

Masuk pedalaman Kalimantan membangun sekolah. Masuk pedalaman Papua membangun sekolah. Setiap hari full time terus bekerja. Memastikan visi misinya bergerak sesuai dengan target yang telah direncanakan.

Kerja keras tidak mengenal lelah ini cukup berisiko sebenarnya. Sejak bayi, Pdt Bigman sudah punya kelainan jantung. Bigman punya jantung bermasalah. Klepnya bocor. Sudah sering dioperasi. Tapi energi muda dan semangat muda Bigman terus bergemuruh. Ia tidak mau diam. Ia tidak mau tidur menghabiskan waktu untuk istirahat.

Greta sang istri mau tidak mau terpaksa ikut super sibuk. Ia bukan saja menjadi istri dan ibu bagi ketiga anaknya. Ia juga punya tugas menjadi perawat pribadi Bigman. Perawat yang terus cerewet mengingatkan untuk minum obat dan menjaga pantangan.

Greta mundur sebagai Advertising Manager di sebuah majalah nasional pada 2003. Karirnya lagi moncer kala itu. Greta mundur agar bisa full time ikut melayani Tuhan. Ikut terjun mendampingi suaminya masuk kampung keluar kampung. Masuk pedalaman keluar pedalaman.

Dari tangan dingin Pdt Bigman berdiri Yayasan MIKA (Misi Kita Bersama). Yayasan ini fokus pada pelayanan pendidikan di Kalimantan. Sekolah PAUD, TK, SD, SMP dan SMA berdiri di Desa Amboyo, Ngabang, Kalbar.

Pada 2000 Pdt Bigman juga mendirikan Yayasan PAMA (Pelayanan Media Antiokhia). Sebuah pelayanan melalui siaran khotbah di 42 siaran radio, 4 saluran TV. Menjangkau masyarakat perkotaan.

Pada 2007, Pdt Bigman mendirikan Gereja Reformasi Indonesia. Gereja ini menjadi ladang penggembalaan Pdt Bigman di Jakarta dan Kalimantan.

Beberapa waktu lalu, Pdt Bigman ingin mendirikan sekolah di Papua. Tanah sudah ada. Bangunan belum ada. Ia ingin sekali melihat sekolah itu terbangun. Ia senang sekali ketika harga semen dan BBM sama dengan harga di Jawa. Tol laut itu membuat mimpi Bigman membangun sekolah semakin mudah.

Sepulang operasi dari Singapore, Pdt Bigman berbicara di depan ratusan orang. Di atas kursi roda Pdt Bigman dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya memberi kesaksian yang luar biasa.

"Saya tiga bulan di ICU. Sebenarnya jantung saya sudah tidak berfungsi lagi. Jantung saya sudah tidak bisa memompa darah lagi. Ini ditolong oleh pompa mesin. Ditanam di tubuh saya", ujarnya dengan nafas tersengal.

Saat di operasi 17 kantong darah ditransfusikan ke tubuh Pdt Bigman. Dokter spesialis RS Mount Elizabeth bekerja keras hampir 18 jam. Terkadang dokter itu sudah menyerah. Tapi tiba2 ada tanda kehidupan lagi. Dokter itu semangat lagi.

"Bayangkan bagaimana memasang jantung elektronik ke dalam jantung asli yang sudah tidak berfungsi. Apa maksud semua ini Tuhan?", tanya Pdt Bigman usai sadar dari operasi.

Dirinya diberitahu usianya tidak lama lagi. Jantung elektronik itu punya masa waktu terbatas. Harganya gila. Mahal sekali. Milyaran.
Pdt Bigman bertanya pada Tuhan.

"Mengapa Engkau membiarkan saya tetap hidup Tuhan?",

"Jadilah garam dan terang dunia", itu pesan Tuhan sekali lagi pada saya ujarnya lagi.

Pdt. Bigman merenung. Apa lagi yang harus dikerjakannya? Bukankah sejak 1981 dirinya sudah melayani Tuhan? Apalagi maksud Tuhan?

Sejak Januari 2019, isu golput begitu nyaring. Kelompok golput semakin kencang bersuara. Terlebih ketika ada isu bakal dibebaskannya Ustad ABB. Lini masa riuh rendah dari kelompok golput mengancam keputusan itu. Golput membludak. 

Pdt Bigman tahu itu. Jika golput meningkat sulit Jokowi menang. Arus suara kelompok minoritas tampak mulai ogah dengan situasi pilpres. Survey juga mencatat semakin kecil selisih jarak 01 dan 02. Jika golput meningkat, kemungkinan 02 menyalib di tikungan semakin besar.

"Saya harus melakukan sesuatu", ujar Pdt Bigman.

"Dokter Carlos..tolong sampaikan ke tim dokter agar mengijinkan saya mencoblos di Kedubes Indonesia", pinta Pdt Bigman kepada dokter Carlos.

Dokter Carlos memberi nasihat itu tidak mungkin. Tubuhnya baru saja dipasang jantung buatan. Terlalu berisiko. Bisa mati dalam perjalanan. Baru usai operasi.

"Sampaikanlah permintaan saya ini. Saya harus mencoblos. Demi bangsa dan negaraku. Jangan khawatirkan keadaanku. Memilih pemimpin yang baik dan jujur itu jauh lebih penting dari sekedar hidupku", desak Pdt Bigman.

Dokter Carlos menyerah. Pesan Pdt Bigman dirapatkan tim dokter Mount Elizabeth. Tak punya pilihan lain. Itu hak asasi. Dilindungi undang-undang.

Segera dokter Carlos memerintahkan para perawat menyiapkan semua keperluan peralatan medis dan ambulance. Selang infus masih menempel di tangannya. Peralatan medis lain masih menempel di dadanya.  Selang oksigen diganti. Perawat stand by.

Pendeta yang terbaring lemah itu berpindah ranjang.  Tubuh ringkihnya dipindahkan ke dalam ambulance lengkap dengan selang oksigen masih menempel di hidungnya. Sekitar 30 menit jarak tempuh menuju Kedubes Indonesia. Dokter Carlos ikut dalam ambulance.

Ambulance itu masuk halaman Kedubes.  Beberapa petugas PPLN sudah bersiap menyambut. Tidak turun.  Pendeta Bigman mencoblos di dalam ambulance.  Yang penting pencoblosan harus berada dalam teritori TPS. 

Wajah pucat  Pendeta Bigman tampak jelas.  Suaranya tersengal.  Putus-putus. Tampak jauh beda ketika Ia berkhotbah.  Suaranya besar.  Tegas.  Ngebas. 

Tapi hari itu,  suaranya lemah.  Nafasnya tersengal.  Ia bahkan tidak mampu duduk untuk mencoblos.  Ia hanya terbaring di ranjang.  Ia mencoblos sambil terbaring di atas ranjang ambulance.

Usai mencoblos,  Pdt Bigman Sirait diwawancarai wartawan.  Banyak wartawan meliput kenekatan Pdt Bigman. 

"Saya menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia.  Pergilah  ke TPS di mana kamu ada.  Jangan pernah melarikan diri dari tanggung jawab sosial politikmu sebagai anak bangsa", ujarnya penuh semangat.

"Apakah bapak tidak takut terjadi sesuatu yang buruk dalam perjalanan ke kedubes di tengah kondisi bapak masih di ICU?", tanya seorang wartawan.

"Kalau soal mati kapanpun dan di manapun bisa mati.  Saya tidak takut.  Yang penting  tanggung jawab sebagai  anak bangsa untuk memilih pemimpin yang benar dan adil itu yang utama", sahut pendeta  Bigman.

Berita orang yang sedang sakit keras berani mengambil risiko nyawa di Singapore mendadak viral. Masa hari tenang di tanah air guncang. Rekaman video Pdt Bigman yang ngotot mencoblos meski taruhan nyawa menampar banyak orang. Mencambuk banyak orang.

Di grup-grup WA komunitas gereja,   berseliweran video viral Pdt Bigman. Ramai sekali perbincangan di kelompok minoritas kala itu.

Teman saya dan keluarga besarnya yang sudah memesan tiket liburan keluarga negeri merasa malu. Ia membatalkan kepergiannya. Ia tertampar dengan kisah Pdt Bigman. 

Seorang sahabat di fesbuk mengirim pesan pada saya, mereka 20 orang perantau rela pulang kampung pake ongkos sendiri karena mendengar kisah Pdt Bigman.

Ada jutaan orang yang tadinya memilih golput berbalik arah. Saya mencatat antrian panjang di Kedubes Indonesia di luar negeri. Mengular. Semua anak bangsa keluar sejak subuh mengantri demi mencoblos Jokowi.

Di Kedubes Singapore saja, ada peningkatan 2 kali lipat kepadatannya dibanding Pilpres 2014 lalu. Teman saya yang sudah lama tinggal di Singapore baru kali itu mau mencoblos. Ia seperti kena godam raksasa menonton perjuangan Pdt Bigman Sirait. Seperti kita tahu,  golput Pilpres 2019 menurun 10 persen  dibanding Pilpres 2014.

Kemarin malam, saya melihat tubuh kaku Pdt Bigman Sirait dalam peti jenazah bercat putih. Di ruangan itu bunga mawar putih mendominasi. Keluarga besarnya istri, anak dan menantunya juga berpakaian putih. Serba putih. Seperti baju kesukaan Presiden Jokowi.

Saya datang dan menjenguknya untuk memberikan penghormatan terakhir. Datang untuk memberi penghormatan kepada seorang pejuang. Seorang patriot sejati. Sebagai teman seperjuangan dalam membela Jokowi. Membela demokrasi. Kemanusiaan dan keadilan.

Pdt Bigman menjadi inspirasi bagi banyak orang. Saya berjuang menjadi relawan Jokowi dengan kedua kaki, tangan dan jantung yang masih kuat. Bisa mengamen dan bergerak setiap hari. Karena tubuh saya masih kuat.

Pdt Bigman berjuang dengan nafas tersengal. Dengan tenaga melemah. Dengan nafas satu-satu. Dengan alat pompa mesin elektronik jantung menempel. Dengan alat medis menempel di sekujur tubuhnya. Tertatih-tatih. Ia tidak menyerah. Terus berjuang. Tidak pernah mengeluh. Tidak cengeng. Tahu untuk apa hidup di sisa waktu hidup yang sangat terbatas. Demi pemimpin jujur dan baik.

Malam kemarin, wajah teduh Pdt Bigman menyapa semua orang. Ia begitu tenang dalam tidurnya. Ia telah sampai ke garis finish. Mengantarkan piala kemenangan. Piala yang berisi warisan kepada kita. Warisan untuk selalu berbuat baik bagi bangsa dan negara. Bagi kehidupan. Selagi nafas masih ada.

Lamat-lamat lagu It is well With My Soul  melantun merdu. Mengiringi air mata yang jatuh tidak tertahan Ibu Greta diujung peti mati suaminya tercinta. Air mata ketiga anak-anaknya.

"When peace like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll
Whatever my lot, thou hast taught me to say
It is well, it is well, with my soul
It is well
With my soul
It is well, it is well with my soul"

Diujung penutupan peti mati itu, Ibu Greta berbisik lirih mendekat ke wajah suaminya tercinta.

"Selamat jalan sayangku... I will always love you dear", lirih Ibu Greta.

Saya menghampiri jenazah Pdt Bigman.  Mendekat.  Menatap wajah teduhnya.

Saya berucap "Selamat jalan Pak Pendeta Bigman.  Kami berhutang banyak padamu. Terimakasih telah menjadi inspirasi bagi kami.  Bagaimana mencintai negeri ini dengan utuh dan penuh". Salam perjuangan penuh cinta. Birgaldo Sinaga.
 

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments