}); "Bahagiaku Begini Disini, Bahagiamu Ginama Disana? | BeritaSimalungun
Home » , » "Bahagiaku Begini Disini, Bahagiamu Ginama Disana?

"Bahagiaku Begini Disini, Bahagiamu Ginama Disana?

Written By Beritasimalungun on Monday, 2 December 2019 | 11:17

Pdt Renny Damanik dan Ompung Yang Baik. (Foto FB)
Oleh: Pdt Renny Damanik

Beritasimalungun-Hari sudah mulai gelap saat melaksanakan penguburan pada satu jemaat. Jalan yang sulit ditempuh, berlumpur dan licin. Jalan yang dilewati gareta dan gareta gojos, membuat kadang hampir terjatuh ketika berjalan.

Syukur ada pemuda yang baik hati, membawa agendaku, dan seorang inang yang sudah lanjut usia memberikan aku meminjam sepatu"SALUNG". 

Sehingga aku bisa bebas menginjak lumpur yang kadang banyak kotoran kerbau. Maklum jalan ke ladang. Aku pikir aku tak sanggup lagi pulang dari kuburan karena sangat lelah dan lumayan jauh.

Ditambah sepatu salung sudah berat karena banyak lumpur yang lengket. Akhirnya aku naik betis. Paling asyik dan buat aku tertawa menikmati yang tak ternikmati yaitu ketika aku masuk lumpur dan lumpur masuk ke dalam rok sepanku dan amat geli.

Tapi aku harus tertawa menyemangati diriku dan kawan ku jemaat. Akhirnya kamipun sampai dipinggir jalan dan sudah agak remang remang.

Dan saat itu aku mengembalikan sepatu salung inang ini yang sudah kotor. Dan inang ini minta aku masuk rumahnya, dan aku segan karena aku bau LUMPUR. 

Tapi karena dia sangat ingin aku masuk rumahnya dan aku pun duduk. Lalu kusandarkan tubuhku pada badan inang ini dan dia senang dan bangga dan tertawa.

Lalu karanya, "AHA MA HUBERE BAMU PANDITA HUN JABUKU ON?" Wah... Kata itu luar biasa bagiku, dan pikirku sudah berbuah ternyata ambilanku itu. 

Kemudian dia suhati borasnya samaku, katanya aku baru panen boras sabah, ada sabah yang ku sewa dan inilah hasilnya.

Kemudian dia bilang lagi, apalah nanti lauk beras ini ya, maunya ham pandita  AYAMKU? Makin kaget aku. Lalu kami ke dapur dan ayamnya berbaris baris, dan ditangkapnya ayamnya diberi samaku, dan ayam ini jinak, diam, tidak berkeokkeok dan ribut. 

Aku heraannnn. Lalu kami berphoto, karena aku salut pada pemberiannya, walau itu beras dan ayam bagiku itu luar biasa harganya. 

Tak ternilai dengan angka karena ketulusan dan hatinya yang murah hati. Terimakasih inangku, saat aku mengantar sesuatu sama opung sebelah ternyata aku mendapat sesuatu dari opung sebelah. Akhhhhh, bahagia sekali aku ya karena mereka. Bahagiaku memang beda dengan bahagiamu. Makasih buat inang yang murah hati.(*) 


Share this article :

Post a Comment