}); Maruli Wagner Damanik | BeritaSimalungun
Home » , , , » Maruli Wagner Damanik

Maruli Wagner Damanik

Written By Beritasimalungun on Thursday, 5 December 2019 | 17:59

St Maruli Wagner Damanik. Dok BS
Oleh : J R Sinaga

Beritasimalungun-Ada notifikasi baru di beranda Facebook ku. Ketika aku cek, namanya Wagner Damanik. Pernah ketemu? Gak.. apalagi kenal beliau.

Namun, sering aku membaca tulisan makkela Rikanson Jutamardi Purba perihal keinginan beliau menjadi "parhorja" / pelayan bagi masyarakat Simalungun.

Tombol "terima pertemanan" aku klik. Sesaat kemudian, ada pesan masuk di messenger.."Terimakasih Lae" bunyinya.

Mimpi apa aku, disapa seorang Jenderal bintang dua dipundak itu. Suatu kehormatan bagiku.

Entah apa yang merasukimu pak mau menyapa aku, yang sudah 3 tahun ini menanggalkan status sebagai warga Simalungun. 

Aku pun berteman dengan beliau, dan setiap status yang di-update, pasti aku baca. Berusaha memahami ide yang beliau ingin tanamkan di Simalungun.

Hasilnya? Luar biasa..

Tidak, tulisan ini tidak di bayar. Apalagi disuruh untuk menuliskan tentang beliau. Lagian, gak ada untungnya bagi beliau, karena aku bukanlah bang Birgaldo Sinaga.

Apa yang dibutuhkan Simalungun, ada pada diri pak Wagner. Ide nya cemerlang, dua opini beliau di harian Sinar Indonesia Baru telah menjelaskannya secara gamblang.

Mudah bergaul dimana dan kepada siapa saja. Kaum milenial, nyambung. Ke Lapo tuak, ikut nimbrung. Gagasan yang beliau tawarkan bukan bisnis, melainkan penguatan karakter agar mampu terlepas dari pola pikir inferior yang selama ini membelenggu.

Kok Inferior?

Simalungun itu punya segalanya untuk maju, namun kenyataannya?

Pariwisata, oke. Perkebunan, luas. Pertanian? Subur ! Tetapi rakyatnya merasa "kemampuan" mereka masih sebatas ini. Padahal potensi SDM dan SDA yang dimiliki luar biasa besar.

Bukan salah pak JR ketika Menpar kala itu menyebut bahwa Parapat adalah kabupaten Toba. Melainkan kelalaian kita dalam memperkenalkan "hasimalungunonta" kepada publik.

Untung ada Jeka Saragih, yang begitu bangganya memperkenalkan Simalungun sebelum bertanding diajang One Pride MMA,.dan sebahagian orang lagi tentunya.

Tapi itu diluar, bagaimana dengan kabupatennya sendiri? Ini yang perlu dibenahi.

Besarnya potensi SDM dan SDA Kab. Simalungun belum mampu dimaksimalkan oleh stakeholder terkait. Menggenjot SDA tanpa memperhatikan kualitas SDM, sama saja menghancurkan masa depan. Fokus pada SDM mengabaikan SDA, apa gunanya?

Kedua potensi itu harus dimanfaatkan secara seimbang, sehingga benar-benar berdampak bagi semua.

Sia-sia jembatan dibangun, tapi SDM perihal pengelolaan pertanian, anggaran, dan pemasaran tidak dibangun secara serempak. Meski lebih sia-sia lagi, kalau pelatihan terus dilakukan, tapi abai terhadap infrastruktur.

Lalu, kenapa harus pak Wagner Damanik?

Selain Ide yang cemerlang, beliau berani mengambil langkah beresiko, yakni majunlewat jalur independen.

Apa Untungnya?

Jalur ini memang berat, butuh kerja ekstra untuk bisa mengamankan suara. Tetapi, cost politik lewat jalur ini, bisa saja jauh lebih murah daripada jalur lain, ditengah "kentalnya" aroma politik transaksional bangsa ini.

Yakinlah, tidak ada yang murni ingin menjadi bupati, sekaligus menjadi panti sosial, menghamburkan dana ratusan juta hingga miliaran rupiah, hanya demi gelar semata.

Bill Gates yang uangnya berjibun itu pun, hanya fokus pada panti sosial lain. Kalau dia mau, dan menyatakan ingin berbagi dengan menjadi Presiden Amerika, tandingan uang sama Donald Trump, pastilah pak Trump kalah telak.

Jadi, dengan dana politik yang kecil, gaji beliau nantinya jika terpilih sebagai bupati, cukuplah menutupinya. Jadi, bisa fokus kerja, kerja dan kerja. Makanya pak, segera tentukan wakil.

Lalu, apalagi kelebihan Wagner Damanik?

Aku belum pernah ketemu, belum tahu juga jejak nyatanya. Semua yang kutuliskan, berdasarkan hasil pengamatan terhadap ide yang beliau tuangkan, dan langkah berani yang beliau ambil.

Satu lagi, semoga beliau gak cerita susah. Kalau mau jadi motivator, lebih pas Mario Teguh.

Semangat dan terus berjuang pak Irjen. Maruli Wagner Damanik. Ini era industri 4.0. Bukan yang besar mengalahkan yang kecil,.bukan yang banyak modal yang sudah pasti menang. Tetapi siapa yang cepat, dia yang akan memenangkan pertandingan.

Sejauh ini, menyuarakan cita-cita anda dan kita untuk Simalungun yang lebih baik, adalah kewajiban kita semua. Salam Habonaron do Bona.(***)
Share this article :

Post a comment