}); Hati Seorang Ayah | BeritaSimalungun
Home » , , » Hati Seorang Ayah

Hati Seorang Ayah

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 26 February 2020 | 09:49

Hati Seorang Ayah. (Foto Pdt Defri Judika Purba)
Oleh: Pdt Defri Judika Purba

Beritasimalungun-Saya duduk di warung kopi "Mak Uci" bersama jemaat usai ibadah minggu di GKPS Talun Kahombu. Warung kopi "Mak Uci" ini persis di depan tangga gereja Talun Kahombu, Simalungun. 

Warung yang menyediakan kebutuhan sehari-hari masyarakat di Desa Talun Kahombu. Ada beras, gula, minyak dll. Warung ini juga menjadi tujuan masyarakat Desa Tinggi Seribu untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. 

Saya sering memperhatikan bungkusan di warung "Mak Uci" ini. Bungkusan tersebut berisi pesanan atau titipan belanja masyarakat Desa Tinggi Seribu.

Saya sendiri pasti selalu ke warung ini setiap melayani ke GKPS Talun Kahombu. Minum teh manis ditambah kerupuk merupakan makanan dan minuman favoritku di warung "Mak Uci" ini. 

Ketika teh manis di meja sudah habis, "Mak Uci" sering menawarkan air putih hangat. Mak Uci sudah mengerti dengan baik istilah, pembeli adalah raja.

Nah, ketika kami sedang minum teh manis dan roti ketawa, datanglah seorang jemaat ke warung kopi. Melihat jemaat tersebut, spontan saya tersenyum dan menyapa beliau. Saya mengucapkan selamat hari minggu dan mengajak minum bersama. Beliau pun duduk persis hadapanku.

Basa-basi sebentar beliau pun menceritakan informasi yang membuat saya tersentak kaget. Beliau menginformasikan, bahwa pergumulannya selama ini sudah dijawab Tuhan. 

Anaknya yang hilang selama tujuh belas tahun telah ditemukan dan pulang ke rumah mereka. Mendengarnya saya seperti mendengar petir di siang bolong. Percaya dan tidak percaya.

Ceritanya Seperti Ini

Beliau memiliki seorang anak yang tidak pernah pulang selama tujuh belas tahun. Pergi merantau saat usianya dua puluh enam tahun. 

Awalnya pergi merantau ke rumah saudaranya di daerah Pekanbaru. Ada dua saudara laki-lakinya disana. Suatu ketika saudaranya meninggal dunia disambar petir. 

Selang beberapa lama, ada usaha dari keluarga dan teman-temannya untuk menjodohkannya dengan istri saudaranya tersebut. Dia tidak setuju dan memilih untuk pergi.

Mulai saat itulah tidak ada kabar darinya. Usaha Keluarga yang mencari pun ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sia-sia.

Tentu saja kondisi ini membuat keluarga secara khusus orangtua bergumul hebat. Mereka merasa gamang dengan keberadaan anak mereka. Kalau masih hidup, dimana posisinya, kalau sudah mati dimana kuburnya. Sungguh satu kondisi yang tidak menyenangkan.

Pernah ketika seksi wanita Talun Kahombu mengadakan PA di rumah mereka, rasa gamang dan kosong terlihat benar di wajah mereka (Inang). 

Ketika saya bertanya kenapa, Inang tersebut tidak dapat menyembunyikan isi hatinya. Hatinya masih bertanya -tanya akan apa maksud Tuhan dalam hidup mereka. Ditinggal mati dan ditinggal hidup, sungguh satu kehidupan yang penuh misteri.

Di lain kesempatan, ketika saya bercerita dengan mereka -bapak-, beliau tetap percaya bahwa anaknya masih hidup. Ketika saya bertanya, darimana dapat keyakinan seperti itu, beliau menjawab: " hati kecil saya sebagai ayah masih percaya dia hidup. 

Waktu kecil saya memang sering memanggil dia dengan sebutan "leong", seperti layang-layang putus dari benangnya, tapi sekali lagi saya percaya, anak saya masih hidup".

Mendengarnya saya takjub akan keyakinan beliau. Bagi saya ini bukan perkara mudah. Kehilangan anak selama satu minggu saja sudah luar biasa menggerus pengharapan dan iman, apalagi sampai tujuh belas tahun? 

Hanya cinta dan iman di hati orangtua kepada anaknya-lah yang tetap bisa menumbuhkan pengharapan dan iman tersebut. Iman dan pengharapan yang tidak lekang dimakan waktu.

Awal tahun 2020 ini merupakan tahun yang mengisi kembali iman dan pengharapan mereka. Bertahun-tahun, hidup mereka nyaris kosong dengan pengharapan yang hampir sirna. 

Ibarat sinar mentari yang terbenam di sore hari, sinarnya tidak redup dan gelap melainkan berwarna-warni berhias awan tipis yang beriring lembut. 

Allah yang mereka imani dan percayai, telah mengisi kembali hari-hari kosong dengan sebuah pekerjaan-Nya yang begitu mengherankan. Hidup mereka kembali bergairah dan semangat.

Bagaimana cerita anak mereka bisa pulang? Sangat sederhana. Suatu ketika anak mereka ini sedang lewat naik sepeda motor. Tiba-tiba ada yang mengenalinya dan mengejarnya. 

Setelah dapat, diberitahukan orang tuanya di kampung sedang sakit. Mendengarnya, anak mereka pun memutuskan untuk pulang.

Perjalanan pulang ini sebenarnya bertentangan dengan niat pribadinya yang tidak akan mau pulang, kalau belum berhasil. Apa daya, kadang kehidupan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.

Saat ini, anak yang hilang tersebut sudah kembali lagi ke perantauannya di daerah Siak, Pekanbaru. Hanya satu minggu di kampung halaman. 

Masih ada pekerjaan yang terbengkalai. Ketika saya bertanya, sudah adakah nomor hape yang bisa dihubungi, keluarga berkata sudah ada.

Okh ya, saya akan mengakhiri tulisan sederhana ini dengan beberapa testimoni tentang beliau:

1.Setiap musim durian beliau selalu rajin memberi kepada kami. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Kadang durian masih ada di rumah, sudah diberikan lagi. Durian yang diberi pun selalu yang terbaik. Saya sudah tahu dimana beliau menitip durian di ladangnya, ketika kami tidak berjumpa.

2.Beliau diam-diam selalu membayar minuman kami di warung kopi "Mak Uci". Tidak ada pemberitahuan sama sekali. Ketika saya tanya karena sudah terlalu sering, beliau berkata: "Tidak apa-apa pendeta, hidup ini sederhana saja. Kalau masih ada kesempatan untuk berbagi, itulah kebahagiaan itu". Mendengarnya, saya diam seribu bahasa.

3.Remiel dan Anggita selalu diberi duit jajan. Tidak banyak dari sisi jumlah, tapi nilainya bagiku sangat luar biasa.

Semoga Allah sumber segala kekayaan, kemuliaan dan kuasa akan terus mengisi hidup mereka yang pernah kosong. Dan bukan hanya mereka, tetapi hidup kita juga.(Bahapal Raya, 26 Februari 2020).
Share this article :

Post a Comment