Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Euforia Pilkada Khusus Kabupaten Simalungun

Raden Alam Damanik
Oleh: Raden Alam Damanik

Beritasimalungun-Setiap 1x5 tahun datang lagi pesta demokrasi buat masyarakat Simalungun. Pilkada lagi pilkada lagi. Tiap ada pilkada lahir lagi team sukses terkesan jago-jago “par bada” pula.  Saling jatuhkan pasangan lain.  Saling sanjung jagoannya se –olah-olah sudah pasti yang terbaik.  Bagaikan malaikat tanpa cacat seolah dengan jagoannya itu Simalungun seolah mau di sulap menjadi waaaah. Pokoknya ini dia.  Terbaik.  Terhebat.  Bla...  Bla. . . .Bla. .  “Pantang so bilak”.  

Ayo evaluasi sejak tahun 70-an dari zaman Rajamin Purba jadi Bupati Simalungun sampai tahun ini sudah berapa kali ganti bupati. Aha ma na dop muba di Simalungun? Dari dulu jalan di Simalungun disana-sini rusak.  

Dari dulu tidak seorangpun Bupati Simalungun yang mampu membuka lapangan kerja buat masyarakat Simalungun setidaknya 5.000 - 10.000 orang. Dari dulu bupati mana yang bisa mengundang investor asing ke Simalungun?  

Lihat contoh, Sumatra Barat, 95 persen jalan mulus sampai ke pelosok desa. Demikian juga Jawa Tengah, sampai ke sawah-sawahpun jalan mulus.  Bukan tidak ada contoh. Tangerang, Bekasi, Purwakarta  sama-sama tingkat kabupaten puluhan perusahaan asing menanam modal di kabupaten tersebut.  Masyarakat Simalungun pun merantau ke Tangerang, ke Bekasi, ke Purwakarta karena dimana ada gula disitu ada semut.  

Oooohhhh..... Itu karena dekat ibu kota.  Baik,  kalo ada 100 investor asing di kabupaten yang saya sebut alasan karena dekat ke ibu kota.  Wajar dong “nanggo apala” 10 investor  masuk ke Simalungun. Artinya cuma 10 persen.  

Dan alasan karena dekat ibu kota sama sekali tidak benar.  Karena 100 persen investor itu tidak ambil bahan baku produksi dari ibu kota. Contoh, Pabrik Kecap, Sambel.   Saos di produksi di Tangerang.  Bahan bakunya dari Brebes Jateng.  Cabe,  Bawang.  Tomat.  Tidak ada kaitan dengan ibu kota.  Pada hal UMR lebih tinggi di Tangerang dari pada di Simalungun.  

Apa Bupati.  DPDR tidak pernah study banding?  Ngak pernah  lihat kabupaten lain kok bisa maju? Tahun ini 2020 ada lagi pilkada, lahir lagi “Ts parbada”, saling bully. Ada calon bupati berani buat teken kontrak politik. Itu bukti calon itu serius, bertanggung jawab.  

Tapi ada lagi TS dari pihak lain meremehkan,  membully. Se olah-olah apa yang dibuat calon lain itu tidak ada baiknya. Cuma yang dilakukan jagomu yang hebat. Tanya dulu jagomu itu berani tidak teken kontrak politik bahwa apabila jagomu itu menang pasti semua jalan di Simalungun akan mulus semua sampai kepelosok desa.

Tanya dulu jagoanmu itu kalo Dia menang bisa tidak buka lapangan kerja untuk masyarakat Simalungun setidaknya 5.000, hingga 10.000 orang?

Teken kontrak politik kalo jagoanmu itu tidak tepati janji minimal tahun ke 3. Siap turun tidak.   Anggo cuma bagi-bagi duit dalam pilkada itu sama dengan pelacur politik.  Bukti tidak bermutu. “Ikkon manuhor suara ma hape ase terpilih?”. Mikir yang sehat dikit saudaraku. 

Ayoooo capub No.  1. 2. 3. 4. Siapa diantara bapak-bapak ibu-ibu terhormat ini. Menjamin semua jalan di Simalungun pasti akan mulus sampai ke desa-desa. Ayooo Cabup No.  1. 2. 3. 4. Siapa diantara bapak-bapak ibu-ibu yang terhormat ini: Memastikan membuka lapangan kerja utk masyarakat simalungun  minal 5. 000 orang. 

Gak banyak-banyak.  cuma dua itu permintaan. Rakyat tidak butuh kalian marga apa, suku apa, agama apa. Rayat butuh perubahan yang signifikan. Bukan retorika jual angin sorga.  Akan begini akan begitu.  Bual dassa. 

Saya bukan TS siapapun.  Saya mengamati sejak tahun 1970 zaman Bupati Rajamin Purba sampai sekarang, 50 tahun. Saudaraku putra putri Simalungun jangan terpecah belah  dan lupa etika karena Pilkada.  Pilih sesuai hati nuranimu.  Lihat Visi dan Misi Cabup. Ingat: Jangan lihat siapa yang bilang. Tetapi dengarkan apa yang dia bilang.


Ilmu Komunikasi

Bila saudaraku membaca tulisan tentang Pilkada Simalungun saudaraku amati dengan jelas yang komen ini sebagai apa? 1. Bahasa salah satu team sukses kah? 2. Bahasa pengamat kah?. 

Apakah penulis menyebut nama atau nomor salah satu cabub? Apakah penulis terlihat atau terkesan mendukung atau tidak mendukung salah satu cabup? Apakah penulis ada menuliskan yang bukan  fakta? se olah-olah bertensi kebencian atau fitnah?

Apakah anda menyangkal: 1.Bahwa tidak ada bupati sejak 50 tahun lalu (1970 -2020)  yang mendatangkan investor asing ke Simalungun.  Bila ada siapa? tahun berapa?  Dimana investasi itu?

Perkebunan di Simalungun semuanya,  teh, sawit, karet dan lainnya sudah ada sebelum tahun 1970. Bukan investor asing yang di datangkan Bupati. Apakah saudaraku mau sangkal bahwa ada cabup berani teken kontrak politik dan ada TS lain terkesan membully. Ngenyek.  Cenderung merendahakan apa yang dilakukan cabup lain itu. 

Ada tidak itu. Apakah anda mau menyangkal bahwa ada cabup bagi-bagi uang.  Paket.  Tiba-tiba menjelang pilkada ini bangun  Jalan.  Jembatan dan lain-lain.  Sumbang gereja.  Itu fakta atau fitnah? 
 
Apakah sejak zaman Bupati Rajamin Purba era thn 70 an sampai era reformasi 1998 sampai saat ini  2020 sudah bagus. Mulus, licin, jalan untuk kepentingan masyarakat di Simalungun? 

Adakah Bupati sejak era thn 70-an sampai sekarang ini tahun 2020 yang mendatangkan investor asing ke Simalungun. Penulis tidak sebut investor dalam negeri yang membangun RS, TV, Ruko, Hotel. 

Penulis memberi contoh sama-sama level kabupaten, Simalungun, Tangerang, Bekasi, Purwakarta. Ayooo, bupati manakah yang mampu menyediakan lapangan kerja ratusan ribu orang untuk masyarakatnya. 

Pada hal UMR lebih tinggi di Tangerang, Bekasi, Purwakarta jika dibandingkan dengan Kabupaten Simalungun. Baca, Amati, Baru komen.  “Ase ulang salah kaprah”.  Salah tafsir.  Salah menilai. Kembali saya sampaikan saya bukan team sukses cabup manapun.  Terimakasih Salam Sehat.

I Huta Nami (Di Kampung Kami)

Pesta demokrasi politik bagi masyarakat salah satunya adalah Pilkada. Masyarakat menentuhan pilihan untuk pemimpin di daerahnya. Pilkada yang sehat adalah memilih pemimpin yang punya Visi Misi program kerja yang jelas terarah dan bertanggung jawab. Bukan retorika dan menawarkan janji-janji angin sorga.  

Apa Visi Misinya? Apa program kerja yang akan dilakukan tahun pertama. Tahun kedua dan seterusnya untuk kemaslahatan umat kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah tersebut. Apa sanksinya jika janji-janji nya tidak terealisasi?  Siap MUNDUR?  

Pemimpin daerah itu akan terlihat dari Visi dan Misinya,  adakah inovasi dalam dirinya untuk  membangun daerah itu dan mensejahterakan masyarakat? Bisa tidak calon pemimpin itu membuka lapangan pekerjaan dengan mendatangkan investor asing?  

Bagaimana calon pemimpin itu menjamin adanya kepastian hukum yang adil kepada masyarakat. Bagaimana strategy calon pemimpin itu untuk mengatur kantibmas agar masyarakat merasa nyaman di daerah itu termasuk berusaha.  

Bagaimana calon pemimpin itu menjaga kerukunan umat beragama? Bagaimana calon pemimpin itu mencegah korupsi? Bagaimana calon pemimpin itu dalam jajaran pemerintahan tentang pergantian kadis-kadis, camat, kepala sekolah? Jelaskan dan kalo dia ingkar bagaimana?  

Harus Cerdas

Bukan karena satu Suku, Marga, Agama. Sangat tidak bermutu pilkada yang penuh hoax,  saling membully sesama team sukses. Jabatan politik itu cuma satu dan dua priode,  tidak abadi.  Maka masyarakat harus jeli dan pintar memilih pemimpin yang “parsatokkinan” itu.  

Apakah dia tau keadaan daerah itu dan kebutuhan nya? Apa dia tau culture masyarakat arus bawah? Lahir, besar, berkarya di daerah itu calon pemimpin itu? Apa bakti yang pernah dilakukan calon pemimpin itu didaerah itu.  

Jadi bukan asal pilih. Bukan asal dukung. Bukan asal satu suku, satu marga, satu agama. Ini untuk kemajuan daerah itu dan kesejahteraan masyarakat banyak di daerah Simalungun. Ini sekedar pandangan tentang pesta demokrasi dalam Pilkada.(Penulis Adalah Ketum HDBPS)

Berita Lainnya

Post a Comment

0 Comments