. Masyarakat Tambun Raya-Sipolha Menuntut Toba Pulp Lestari (TPL) | BeritaSimalungun
Home » , , , , » Masyarakat Tambun Raya-Sipolha Menuntut Toba Pulp Lestari (TPL)

Masyarakat Tambun Raya-Sipolha Menuntut Toba Pulp Lestari (TPL)

Written By Beritasimalungun on Thursday, 23 June 2022 | 15:53

Masyarakat Nagori Pamatang Tambun Raya dan Kelurahan Pamatang Sipolha, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun melakukan aksi damai, Kamis, (23/6/2022). (Foto: Japoltak Sipayung)

Sipolha, BS-Masyarakat Nagori Pamatang Tambun Raya dan Kelurahan Pamatang Sipolha, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun melakukan aksi damai, Kamis, (23/6/2022). Aksi ini dilakukan di depan Kantor Desa, Huta Bolon. Dalam aksi ini, ratusan masyarakat menuntut perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL) yang kehadirannya merugikan.

Aksi ini dihadiri oleh Bupati Simalungun, Radiapoh Hasiholan Sinaga, SH, MH dan Ketua DPRD Simalungun, Timbul Jaya Sibarani, SH, MH menajemen TPL, BBKSDA Sumut, dan Dinas Kehutanan Sumut.

Masyarakat yang berada di pinggiran Danau Toba (Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun) ini menegaskan bahwa mayoritas mereka bekerja sebagai petani. Ada pun lahan pertanian mereka tidak begitu luas. 

Di lahan dengan struktur tanah berbatu inilah masyarakat bercocok tanam menanam cabai, jagung, jahe, tomat, bawang, kacang tanah, ubi, padi, kopi, mangga, durian, alpukat, dll.
Bupati Simalungun RHS.

Persoalan pertanian masyarakat semakin pelik dengan adanya gangguan dari kawanan binatang-binatang liar. Intinya hama seperti kera, monyet, dan babi hutan telah menyebabkan kerugian besar para petani. 

Dengan sangat menyentuh Pdt. Bungaran Damanik, S.Th sebagai putera Sipolha berhasil mempertonton kondisi ril masyarakat dalam bentuk puisi.

Menurut pengakuan masyarakat sejak tahun 1990-an, kera, monyet, dan babi hutan sudah mulai masuk ke lahan masyarakat. Hanya saja saat itu kondisi masih dapat dikendalikan. Namun sejak tahun 2019, gangguan kera, monyet, dan babi hutan sudah tidak bisa diatasi.

Semua ini terjadi akibat bergantinya hutan heterogen menjadi homogen atau hutan tanaman industryi (HTI). Peralihan fungsi hutan alami menjadi hutan eucalyptus telah menyebabkan hilangnya rumah dan rantai makanan bagi kawanan kera, monyet, dan babi hutan. 

Dengan demikian kawanan ini bermigrasi ke perladangan bahkan ke pemukiman masyarakat untuk mencari makanan. Inilah yang kemudian menjadi bencana besar bagi masyarakat Sipolha-Tambun Raya. 

Dampak negatif lain yang langsung dirasakan masyarakat akibat alih fungsi hutan ini adalah mengecil bahkan matinya sumber-sumber mata air dari kawasan hutan yang kini dikuasai TPL sebagai hutan industri.

Atas semua ini secara ekonomi pendapatan masyarakat mengalami penurunan. Masyarakat Tambun Raya-Sipolha juga iperhadapkan dengan masalah sosial baru. Sulit bagi petani mengikuti kegiatan sosial (kebersamaan) dan keagamaan. 
Kondisi ini mengakibatkan pergeseran pola hidup masyarakat yang semula kuat dalam kebersamaan yang dirawat dengan aktivitas perkumpulan menjadi masyarakat yang individualis yang terfokus pada urusan masing-masing. 

Masalah tersebut di atas juga berdampak bagi kesehatan. Mengingat mereka harus menghabiskan waktu menjaga ladangnya sepanjang hari dan bahkan malam hari. Maka tidak jarang muncul berbagai penyakit sebab kurang istirahat. 

Anak-anak usia sekolah juga ikut dilibatkan untuk menjaga ladang. Dengan demikian waktu belajar bahkan bermain anak-anak benar-benar hilang. Secara Psikologis persoalan ini juga menyebabkan sebagian masyarakat stress. 

Jadi dapat disimpulkan bahwa perusahaan TPL telah mengakibatkan kerugian materil dan imateril yang sangat besar terhadap masyarakat Tambun Raya – Sipolha.

Sebenarnya selama ini masyarakat sudah berupaya dengan kemampuan yang mereka miliki untuk mengatasi serangan hama yang dimaksud. 

Misalnya menjaga tanaman sepanjang hari, mengadakan pengasapan di ladang, mengusir hama secara bersama-sama, memelihara anjing di lokasi ladang, hingga bersepakat menyisihkan sedikit lahan untuk dijadikan hutan buah. Namun tidak satu pun usaha itu berhasil.

Atas kondisi ini maka, masyarakat Tambun Raya – Sipolha meminta pihak perusahaan TPL untuk bertanggungjawab. Dan berharap bahwa pemerintah Simalungun turut serta (proaktif) membela rakyatnya.

Dalam aksi tersebut masyarakat menuntut agar dalam jangka pendek, TPL memberikan konpensasi kepada masyarakat Tambun Raya – Sipolha. TPL harus segera dan serius menanggulangi hama yang dimaksud.

TPL juga harus memastikan CSR perusahaannya dinikmati masyarakat Tambun Raya – Sipolha dengan membangun fasilitas-fasilitas umum yang bermanfaat untuk kemajuan. Juga pemberian bantuan yang mendukung perekonomian masyarakat. 

Pada jangka Panjang, TPL dimintakan membuat food forest minimal 10 ha sepanjang Tambun Raya – Sipolha. TPL juga harus membuat area penghijauan di sekitar daerah aliran sungai, dan TPL harus memberdayakan masyarakat dengan menyediakan lahan, bibit, dan biaya perawatan tanaman buah-buahan (selama lima tahun) yang diperuntukkan bagi satwa liar.

Pdt. Jhon Winsyah Saragih, selaku koordinator aksi menegaskan bahwa masyarakat akan menunggu respon bertanggungjawab dari pihak-pihak terkait selambat-lambatnya 2 minggu ke depan. 

Jika tidak masyarakat akan terus menuntut bahkan dengan melibatkan lembaga-lembaga maupun aktivis-aktivis sosial yang benar-benar konsern dengan masalah sosial dan lingkungan. 
Menejemen TPL, yang diwakili Manik, Linggom Dongoran, dan Betmen Ritonga mengapresiasi aksi damai masyarakat Tambun Raya - Sipolha dan berjanji akan merespon tuntutan masyarakat. 

Dalam sambutannya, Radiapoh H.Sinaga, SH, MH selaku Bupati Simalungun mengapresiasi aksi yang digagas oleh beberapa pendeta GKPS. Di depan massa Bupati memerintahkam camat dan pangulu di wilayah terdampak untuk proaktif mendampingi masyarakat membahas rencana tindak langsung dengan pihak TPL. Bupati menegaskan RTL aksi ini harus diselesaikan dalam waktu 5 hari ke depan.

Senada dengan itu, Timbul Jaya Sibarani, SH, MH sangat mendukung aksi masyarakat. Bahkan beliau terkesan bahwa aksi tersebut merupakan aksi paling kreatif, terhormat dan sangat menyentuh. Sebagai Ketua DPRD Simalungun, Timbul Jaya Sibarani menitip pesan ke Pemerintah dan TPL agar segera menampung aspirasi masyarakat. (BS-Japoltak Sipayung)








Share this article :

Post a Comment

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis